Bunyi ujung kruk milik Keira memecah keheningan ruang kelas 12-A. Cahaya matahari masuk melalui ventilasi jendela kelas membuat suasana kelas menjadi hangat. Di hari Senin pagi itu, kelas masih relatif sepi yang hanya terlihat beberapa tas di kursi termasuk tas coklat milik Nara. Sejenak, Keira memandangi pemandangan luar sekolah dari jendela kelas. Lalu pandangannya teralihkan oleh suatu barang yang tersusun rapi di atas mejanya.
Keira segera menghampiri bangku tempat duduknya. Dahinya mulai berkerut saat dia melihat dengan jelas bahwa benda itu ternyata satu lusin buku tulis cover coklat polos dan satu box pensil mekanik. Tanpa duduk terlebih dahulu, Keira mengangkat buku tulis dan kotak pensil itu satu per satu, berusaha menemukan siapa yang menaruhnya. Namun, hasilnya nihil. Keira mendengus pelan lalu dia mengamati box pensil mekanik yang terasa begitu familiar baginya.
Tangannya dengan cekatan membuka box pensil itu, memperlihatkan tiga pensil mekanik beserta isi pensilnya di dalam. Tiba-tiba, sudut bibir Keira terangkat tinggi memperlihatkan senyum sumringahnya yang manis. Matanya kemudian dia arahkan pada bangku Nara yang saat ini hanya terlihat tas miliknya. Keira menyadari kalau merek pensil mekanik itu sama persis dengan milik Nara yang pernah dia pinjam.
- - - - -
Perpustakaan SMA Victoria terasa sunyi setelah jam pulang sekolah. Cahaya senja mulai menyelinap masuk melalui jendela-jendela besar. Heningnya ruangan bercampur aroma buku menciptakan suasana terasa damai. Kesunyian itu diramaikan oleh suara lembaran buku yang dibalik beberapa kali. Tepat setelah jam pulang, Nara sibuk mengulas materi matematika dan mencatat poin-poin penting di bukunya.
Di tengah larutnya mempelajari rumus, Nara tiba-tiba merasakan adanya pergerakan di hadapannya. Saat mendongak, ternyata Keira sudah berdiri di sana. Raut wajah Nara masih terlihat santai meski matanya sempat membesar sesaat karena sedikit terkejut.
"Aku boleh kan duduk sini," izin Keira dengan memasang senyum lembut sambil menyandarkan kruknya di meja.
Namun, Nara hanya membalas dengan helaan napas kecil sebelum kembali menunduk menatap buku.
Setelah kedatangan Keira, Nara berusaha kembali memfokuskan pikirannya pada rumus-rumus di buku. Tetapi, fokus Nara terus teralihkan oleh gerak-gerik Keira yang tampak gelisah sejak tadi, walaupun ekspresinya masih berusaha terlihat tenang sambil membaca novel di tangannya. Nara beberapa kali melirik diam-diam sebelum akhirnya hanya menggeleng kecil sambil kembali menatap bukunya.
Setelah beberapa saat, tiba-tiba Keira menjadi diam. Namun, di saat bersamaan, pendengaran tajam Nara menangkap sebuah suara yang ternyata itu suara buang angin. Sebenarnya suaranya terdengar lirih namun kesunyian perpustakaan membuatnya jadi cukup terdengar.
Tentunya hal itu menarik perhatian Nara untuk memperhatikan lagi gelagat Keira selanjutnya. Seperti dugaannya, Keira kembali duduk tegak dengan tenang dan terdengar helaan nafas yang pelan tapi panjang, seolah sedang merasa lega.
Melihat itu, Nara segera menyangga dagunya dengan jempol beserta jari telunjuknya menyentuh bibir seakan berusaha menahan senyum. Namun sekuat apapun dia menahan, pada akhirnya kedua sudut bibirnya mulai terangkat tipis. Nara segera menundukkan kepalanya setelah Keira mulai meliriknya. Tangan kanannya sigap meraih bolpoin lalu buru-buru menuliskan rumus-rumus di bukunya.
"Tenang,, ayok fokus Nara," gumam Nara dalam batinnya.
Selang 20 menit berlalu, Keira dan Nara masih asyik dengan buku bacaannya masing-masing. Beberapa saat, Keira mulai meregangkan tubuhnya sambil mengeluarkan gumaman pelan pertanda rasa bosan sudah menghampirinya. Kemudian dia sandarkan tubuhnya ke kursi sambil melipatkan kedua tangannya dengan santai. Kedua mata Keira menatap Nara di seberangnya dengan tatapan hangat. Kemudian Keira mengalihkan pandangannya ke buku catatan Nara. Dia segera mengembungkan pipi sambil memanyunkan bibirnya saat melihat Nara begitu terpaku dengan rumus-rumus yang ditulis.
Lalu Keira mengarahkan pandangannya ke bawah seolah sedang memikirkan sesuatu. Senyum kecil tiba-tiba muncul di wajahnya, tanda sebuah ide baru saja terlintas di kepalanya.
"Nara, kamu lagi belajar materi geometri ya. Kebetulan tadi ada bagian yang aku gak paham. Bentar, aku ambil catatanku," ucap Keira sambil merogoh tas ranselnya.