"Lihat, panggung ini basah! Nanti peserta bisa terpeleset. Ini juga sound systemnya harus diatur ulang lagi karena kena hujan. Jadinya waktu banyak kebuang. Kalian sudah memilih konsep ini harusnya kalian udah pertimbangkan juga risikonya." Tegur Ibu Pembina OSIS pada Ketua & Wakil OSIS.
Ketua dan wakil OSIS tampak kebingungan. Pandangan mereka tak lepas dari panggung di tengah lapangan sekolah yang kini basah oleh air hujan.
"Gladi resik fashion show akan dimulai 1 jam lagi. Jadi gimana solusinya?" Lanjut ibu pembina sambil melingkarkan tangan kanannya ke pinggang.
Ketua dan Wakil OSIS, Gita saling berpandangan lalu Ketua OSIS yang bernama Andi mulai angkat bicara.
"Baik Bu, apa kami boleh minta waktu 20 menit untuk diskusi terlebih dahulu?"
"Yasudah kalian diskusikan dulu. Kalau bisa pikirkan juga solusinya untuk acara besok. Jaga-jaga besok hujan lagi. Saya bantu atur peserta dulu." Ucap ibu pembina OSIS dengan suara rendah namun tegas.
Kemudian ibu pembina memandang Rafael yang berada sampingnya.
"Dan kamu, saya minta tolong bantu bimbing panitia ya," ucap ibu Pembina sambil memegang pundak Rafael dan diiyakan olehnya.
Setelah ibu pembina pergi, Rafael mendengus keras lalu menatap tajam ketua dan wakil yang kompak menunduk ketika ditatapnya
"Andi,, Gita tolong kamu panggil semua panitia yang handle lomba fashion show ini kecuali panitia yang handle peserta. Lalu panggil juga kakak-kakak yang bagian ngawasin lomba ini. Aku tunggu di meja juri sana." Perintah Rafael sambil menunjuk area juri fashion show.
Andi dan Gita kompak mengiyakan. Sesaat sebelum pergi, Rafael berpikir sejenak.
"Apa Keira sekarang bagian jaga lomba yang di aula?" tanya Rafael
"Iya kak," jawab Gita
"Tolong panggil dia juga," ucap Rafael dengan datar.
-----
Panitia OSIS SMA Victoria disibukkan oleh persiapan lomba Agustusan yang akan digelar esok hari. Di sisi lain mantan pengurus OSIS membantu membimbing dan mengawasi kinerja para panitia OSIS. Termasuk Keira, yang kini mengawasi para panitia yang bertugas mengurus perlombaan di gedung aula sekolah.
Sambil mengawasi jalannya persiapan, Keira melamun sejenak. Dia menggerakkan kaki kiri yang dipasangi gips secara perlahan. Pengumuman LKTI tadi pagi seharusnya membuat Keira bangga, namun entah kenapa justru itu membuatnya merasa gelisah.
||
Saat Keira sibuk memesan makanan, Rina mulai berbisik ke Nara.
"Kita mau pindah tempat. Kamu mau ikut?"
"Gapapa aku disini aja." Jawab Nara dengan singkat.
"Yakin? Kamu ingat kan tadi omongan kita." Ucap Rina yang berusaha mengingatkan Nara.
"Kalau aku ikut, dia pasti juga ikut." Balas Nara dengan datar.
"Hmm..iya sih tapi.." belum sempat Rina menyelesaikan perkataannya, suara Keira menyaut memotong bisikan Rina.
"Kalau kalian gak nyaman disini, pindah aja. Tuh udah ada beberapa meja kosong. Nara biar sama aku aja disini. Ya kan Ra." Saut Keira dengan tegas sembari menatap Nara seolah sedang meminta kepastiannya.
||
Tindakan Rina di kantin masih teringat jelas dalam benak Keira. Dia merasa resah karena Rina tampak berusaha menjauhkan dirinya dari Nara setiap ada kesempatan. Keira membuang napas melalui mulutnya untuk meredakan kekesalannya.
"Kenapa harus dia sih?" Gumam Keira pelan dengan suara ketus.
Lamunan Keira buyar ketika salah satu panitia sie acara menghampirinya karena ada kendala saat persiapan gladi resik fashion show.
-------
"Terus gimana ini, apa mau dipindah panggungnya?" Tanya salah satu mantan pengurus OSIS
Ketua OSIS Andi menjelaskan kalau struktur panggung sudah dipasang sesuai dengan konsep yang dirancang. Jika panggung dipindah di koridor sekolah, panggung di tengah akan jadi sia-sia.