Bisakah Kita Berteman Lagi?

DfaAaa
Chapter #12

Dunia Baru Nara

19 Agustus 2026


Hiruk pikuk memenuhi setiap sudut SMA Victoria. Sorak sorai dan tepuk tangan terdengar tanpa henti, bercampur dengan alunan musik yang diputar panitia. Kelas-kelas yang biasanya dipenuhi suara guru kini sebagian besar kosong. Sebagian siswa berkumpul di gedung aula sekolah untuk beberapa perlombaan.


Beberapa siswa lain tampak berkerumun di tengah lapangan sekolah. Mereka antusias menyaksikan lomba fashion show yang menjadi hasil kerja keras para peserta dan panitia OSIS yang dibimbing mantan pengurus OSIS selama persiapan hingga gladi resik yang berlangsung kemarin. Beruntung cuaca pada hari Rabu itu begitu bersahabat. Langit cerah membentang sejak pagi membuat seluruh peserta dan panitia bisa menjalankan rangkaian acara tanpa kendala. 


Para panitia OSIS tampak sibuk wara-wiri mengatur jalannya fashion show. Pemandangan yang terasa begitu familiar bagi Keira. Bedanya, kali ini dia tidak lagi ikut mondar-mandir di tengah kesibukan itu. Sebagai mantan wakil OSIS, Keira hanya berdiri di sisi lapangan, bertumpu pada kruk sambil mengawasi jalannya acara. Jaket olahraga berwarna biru tua membalut tubuhnya dipadukan dengan celana training putih yang menjadi dress code panitia OSIS hari itu. Dia menambahkan topi biru yang bertengger di kepalanya, sengaja dipakai untuk menghalau terik matahari.


Di tengah kesibukan mengawasi acara, mata Keira tak sengaja menangkap sosok Nara yang berdiri di depan ruang laboratorium lantai 2. Berbeda dari kebanyakan siswa yang memakai seragam olahraga, tampak Nara masih memakai seragam putih abu-abu yang dibalut jas sekolah hitam. Di tangan kanan Nara, sebuah proposal konsep penelitian tampak dibawanya dengan hati-hati. Tanpa sadar, senyum tipis terukir di wajah Keira. Ada rasa bangga yang diam-diam tumbuh melihat Nara berhasil sampai di tahap itu.


Tak lama, seorang siswa laki-laki datang menghampiri Nara. Dahi Keira berkerut tipis, mencoba menerka-nerka siapa siswa yang datang itu. Namun, saat melihat proposal serupa juga ada di tangan siswa itu, Keira perlahan menganggukkan kepala kecil.


"Ternyata dia murid kelas lain yang juga masuk tim LKTI," gumam Keira pelan dengan santai. Pertanda dia tidak mempermasalahkan hal tersebut. 


Senyum tipis Keira perlahan berubah menjadi senyum kecut ketika Rina datang menghampiri Nara. Tampak Rina asyik berbincang dengan Nara dan siswa itu. Tatapan Keira menyipit tipis, ekspresi julidnya nyari tak tersamarkan saat melihat tingkah Rina yang tiba-tiba bersenda gurau dengan mereka.

"Sok akrab banget sih," gumam Keira dengan ketus sambil berdecak pelan.


Perhatian Keira teralihkan ketika salah satu panitia OSIS memanggilnya. Sebelum beranjak dari tempatnya, dia melihat lagi sekilas ke arah Nara dan tim LKTI-nya yang kini mulai memasuki ruangan.


 ------


Di tengah keramaian para siswa SMA Victoria yang sedang bersenang-senang merayakan lomba Agustusan, tim LKTI justru sedang merasakan ketegangan karena mereka akan berdiskusi bersama guru pembimbing untuk pertama kalinya. Ketiga anggota duduk berdampingan di salah satu meja. Mereka tampak sibuk mengulas kembali proposalnya masing-masing. Tidak ada suara yang keluar dan hanya terdengar helaan napas beberapa kali.


Guru pembimbing bernama Bu Nita mulai memasuki ruang laboratorium lalu duduk santai di kursi depan. Kecamata yang bertengger rendah di hidungnya sesekali dibenarkan. Tatapannya bergerak cepat membaca proposal satu per satu. Kemudian Bu Nita meminta setiap anggota memaparkan konsep penelitian masing-masing.


"Saya pengen tau kenapa kamu mengajukan ide tentang alga," tanya Bu Nita ke Anton.


Kemudian siswa yang bernama Anton itu mulai menjelaskan dengan detail proses pemanfaatan alga menjadi listrik. Nada bicaranya sedikit kaku karena gugup. Sesekali ia menarik napas untuk menenangkan diri. Namun meski gugup, penjelasannya tetap runtut dan mudah dipahami.


Bu Nita terus menganggukkan kepalanya seraya Anton menjelaskan ide penelitiannya. Tampak Bu Nita cukup terpukau dengan detail mekanisme yang dijelaskan oleh Anton.


Di sisi lain, Rina memperhatikan Anton sambil sesekali melirik proposal konsep penelitiannya. Setiap kalimat yang dipaparkan Anton, Rina selalu memeriksa kembali konsep yang telah dia susun, memastikan tidak ada bagian yang luput dari perhatiannya. Berbanding terbalik dengan Nara yang tampak begitu serius menyimak presentasi Anton hingga nyaris tidak mengalihkan pandangannya. Kedua tangannya bertumpu rapi diatas proposalnya.


"Oke, penjelasan mekanismenya cukup bagus. Tapi saya ingin tanya apa masalah yang ingin kamu angkat dari konsep yang kamu buat?" Tanya Bu Nita 


"Mmm..Saya ingin memaparkan potensi alga yang bisa dijadikan bahan baku penghasil listrik. Tentunya ini bisa jadi solusi energi yang berguna bagi masyarakat," jawab Anton dengan nada ragu-ragu.


"Apa hanya itu saja?" Tanya Bu Nita dengan dahinya yang mulai berkerut pertanda keraguan muncul di benaknya. 


Lihat selengkapnya