Bisakah Kita Berteman Lagi?

DfaAaa
Chapter #13

Keadaan Berbalik

Sudut tangga darurat sekolah menjadi satu-satunya tempat yang terasa cukup sunyi bagi Keira yang sedang duduk sendirian. Pandangannya kosong menatap anak tangga bawah. Sudah dua minggu berlalu begitu saja. Nara mulai tenggelam dalam rutinitas barunya sebagai anggota tim LKTI. Diskusi bersama guru pembimbing, revisi konsep penelitian, hingga persiapan kecil lain perlahan memenuhi hari-harinya. Semakin hari, waktunya terasa semakin padat.


Berbeda dengan Keira. Setelah seluruh kesibukan OSIS dan lomba Agustusan usai, hari-harinya justru terasa lebih lengang dari biasanya. Tidak ada lagi rapat mendadak atau kepanitiaan yang memaksanya pulang sore. Namun ironisnya, saat Keira mulai memiliki banyak waktu luang, Nara justru semakin hari semakin sulit ditemui.


||


Ketika tiba waktu jam istirahat beberapa hari terakhir, Nara selalu menggunakan waktunya untuk mengerjakan proyek LKTI.


"Nara yuk ke kantin," ajak Keira dengan antusias


"Aku nggak ke kantin," Jawab Nara datar sambil mempersiapkan laptop dan peralatan tulisnya.


Tak lama kemudian, Rina mendatangi bangku Nara sambil membawa laptop dan beberapa buku.


"Nara, ini aku udah siap. Yuk berangkat," ajak Rina yang dibalas anggukan kecil Nara.


"Mau kemana?" Tanya Keira sambil mengerutkan kening


"Ngerjain proposal LKTI lah, mau kemana lagi emang," Jawab Rina ketus


"Emang kalian gak makan dulu?" tanya Keira sambil mengambil kruk di bawah mejanya.


"Gampang nanti aja, ayok Nara," Sahut Rina sembari tangan kirinya merangkul pundak Nara kemudian mereka meninggalkan Keira yang sedang cemberut di kelas.


||


Keira menghembuskan napas dengan keras. Berusaha menahan kekesalan yang terpendam. Sejujurnya, dia sedikit iri dengan Rina yang bisa menghabiskan begitu banyak waktu bersama Nara. Berbeda dengan Keira yang bahkan sekedar pulang bareng pun sudah jarang dilakukan. Namun pada akhirnya, Keira tidak bisa berbuat apapun karena ini juga menyangkut masa depan Nara. Tetapi kali ini rasanya berbeda lagi. Kejadian yang dilihat Keira sore tadi membuatnya semakin merasa tersisihkan dari kehidupan Nara.


||


Kejadian sore tadi saat Keira tanpa sengaja melihat anggota tim LKTI dari lantai 2. Mereka berjalan menuju gazebo taman sekolah sambil menenteng makanan yang dipesan online. Dengan kompak, anggota tim menyusun makanan dan minuman dengan rapi. Setelah itu, mereka mulai berbincang-bincang sambil makan.


Tampak Anton dan Rina sedang bersenda gurau, sesekali saling melempar candaan hingga suara tawa mereka terdengar samar-samar oleh Keira dari kejauhan. Sedangkan, Nara hanya duduk menyimak sambil sesekali menanggapi pembicaraan mereka.


Tatapan Keira semakin pudar setelah dia menangkap sudut bibir Nara perlahan terangkat. Senyum tipis menghiasi wajahnya sebelum tawa kecil yang lolos begitu saja. Refleks, tangan kirinya terangkat menutupi sebagian mulutnya, berusaha menahan tawa agar tidak terdengar jelas.


Sudah lama rasanya Keira tidak melihat tawa kecil Nara yang begitu familiar. Dia begitu senang melihat itu hingga tak sadar senyum tipisnya juga ikut terangkat. Namun, berbanding terbalik dengan perasaan dari dalam lubuk hatinya. Entah kenapa semakin lama Keira memperhatikan, tarikan napasnya semakin berat hingga tak sadar senyumnya juga perlahan ikut memudar. Pandangan matanya pun mulai goyah. Dia mulai menyadari bahwa Nara ternyata masih bisa tersenyum bahkan tertawa kecil saat sedang tidak bersamanya.


"Kayaknya dia bahagia banget disana," gumam Keira dengan suara lirih.


||


Keadaan mereka kini terasa seperti berbalik. Dulu, Nara adalah orang yang selalu menunggu Keira di tengah kesibukan dunianya. Kini keadaan itu perlahan berubah. Keadaan mulai memaksa Keira untuk selalu menunggu, sementara Nara semakin sibuk dengan dunia akademiknya bersama Rina dan Anton.


Keira segera merogoh saku jasnya. Kedua tangannya kini memegang vape yang diam-diam selalu dia bawa. Keira memandang vape itu cukup lama, seolah masih ada keraguan di benaknya untuk memakai barang itu.


Beberapa saat kemudian, Keira merasakan getaran ponsel di badannya. Dia segera meraih ponselnya dari dalam saku jas. Terlihat ada panggilan dari mamanya yang tampak pada tampilan layar depan ponsel. Tampak pandangan Keira semakin lesu begitu dia mengangkat teleponnya. Keira mendapat kabar dari mamanya bahwa dia sedang sibuk mengurus perusahaan dan persidangan papanya. Lalu mama Keira juga memberitahu kalau hasil persidangan papa Keira belum memuaskan dan mamanya berencana akan menggugat cerai jika papanya terbukti bersalah.

Lihat selengkapnya