Bisakah Kita Berteman Lagi?

DfaAaa
Chapter #14

Kegelisahan yang Tersembunyi

Sepulang dari kerja kelompok LKTI yang molor hingga malam, Keira dan Nara akhirnya pulang bersama. Rina dan Anton sudah lebih dulu berpencar, menyisakan mereka berdua di halte bus yang mulai lengang. Udara malam mulai menusuk tipis, sementara suara kendaraan hanya lewat sesekali sebelum kembali digantikan keheningan.


Keheningan itu bertahan beberapa saat. Sampai akhirnya, Keira angkat bicara lebih dulu.

"Nara, kamu belum makan malam kan. Kita cari makan dulu gimana, aku udah lapar,"


"Kamu sendiri aja," jawab singkat Nara, seolah ada jarak samar dalam nada suaranya.


"Emang kamu gak lapar," tanya Keira dengan nada bicara yang begitu halus hingga terasa meneduhkan.


"Enggak," sahut Nara singkat.


Namun reaksi tubuh Nara berkata sebaliknya. Terdengar perutnya yang keroncongan. Ditambah kesunyian halte membuat suaranya jadi makin terdengar. Sontak tangan kanan Nara memegang perutnya, berusaha menutupi suara. Kemudian dia memalingkan wajahnya dari Keira dengan kedua bahunya tampak sedikit menegang. Keira tertawa kecil melihat gestur kikuknya.


"Sebentar, aku cari resto yang buka," ucap Keira sembari membuka ponselnya. Mengabaikan penolakan Nara beberapa detik yang lalu.


"Nah, ini di aplikasi online rumah makan Susanti masih buka. Kita kesana aja yuk," ajak Keira dengan antusias tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.


Di sisi lain, tangan Nara yang memegang buku terlihat mencengkeram lebih erat dari sebelumnya. Matanya sempat membelalak tipis beberapa saat. Hanya sepersekian detik, tetapi cukup membuktikan bahwa nama tempat itu bukan sekedar nama resto baginya.


"Rumah makan Susanti. Kenapa harus disana," gumam Nara dalam batinnya.


"Ohh iya, dulu kita pernah makan disana kan. Lumayan enak juga sih makanannya, kita mampir sebentar aja. Kamu mau kan?" Oceh Keira ringan sambil melirik Nara.


Tak lama, Nara mengarahkan tatapannya kembali ke Keira. Tatapannya tetap tenang seperti biasa, namun ketajaman di matanya perlahan mereda.


"Ternyata dia masih ingat," batin Nara.


"Udah lama juga kita gak kesana. Anggap aja ini pengganti jalan ke toko buku bareng yang kemarin batal. mau yaa, please?" Bujuk Keira dengan suaranya yang melunak, seolah berharap Nara mengiyakan ajakannya.


Nara menghembuskan napasnya dengan panjang lalu dia mengalihkan pandangan ke jalan raya.

"Terserah," ucap Nara singkat.


"Terserah? Mau ya berarti," tanya Keira dengan ragu-ragu sambil sedikit memiringkan wajahnya untuk melihat ekspresi Nara lebih dekat.


Tidak ada jawaban yang terlontar maupun respon apapun dari Nara. Tetapi bagi Keira, diamnya Nara sudah cukup untuk dianggap sebagai persetujuannya


------


Meskipun sudah malam namun rumah makan Susanti masih ramai oleh pelanggan, memperlihatkan beberapa meja yang masih ditempati. Tampak juga Keira dan Nara yang duduk di salah satu meja.


Keira menghela napas panjang dengan bahunya tampak sedikit lebih rileks. Kemudian, dia menyangga kepalanya dengan tangan kanan.


"Nara,, seneng deh akhirnya kita bisa jalan gini lagi," ungkap Keira dengan sorot matanya yang berbinar menatap Nara di depannya. Senyumnya tampak merekah hingga memperlihatkan lesung pipinya yang menonjol.


Nara menatap Keira dengan ekspresi datar seperti biasa. Namun, terselip sedikit kelembutan di sorot matanya saat melihat senyum lebar Keira. Nara menyadari bahkan hanya makan berdua sejenak di rumah makan sudah membuat mata Keira berbinar kembali. Padahal 2 jam yang lalu dia masih melihat mata Keira yang sedikit sembab saat menghampirinya di perpustakaan.


"Ngomong-ngomong dulu kita ngapain aja ya disini," ucap Keira sambil melepaskan sandaran kepalanya. Kemudian dia menyandarkan tubuhnya ke kursi sembari melipatkan kedua tangan. Tatapan matanya menghadap ke bawah seolah sedang berusaha mengingat sesuatu. Di sisi lain Nara terus menatap Keira dengan kedua tangannya terlipat rapi di atas meja, menunggu momen apa yang diingat Keira disana.


"Kalau gak salah waktu itu aku nawarin LKTI ke kamu nggak sih," tanya Keira sambil mengernyitkan dahi, berusaha memastikan ingatannya sendiri.


Nara mendengus pelan seolah masih belum puas dengan perkataan Keira.


"Benar kan Ra. Aku gak nyangka sih kamu mau daftar dan ternyata kamu keterima. Selamat yaa. Tapi aku tau sih pasti kamu bisa kalau mau coba," ucap Keira antusias sembari menyangga kepalanya lagi seperti semula dengan senyumnya yang masih tak dilepas.


Nara menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan pandangannya yang masih terkunci ke Keira. Wajahnya datar tetapi bahunya sedikit mengendur seolah ada harapan yang baru saja pupus. Tak lama sorot matanya perlahan meredup hingga dia mengalihkan pandangan ke arah lain.


Kemudian seorang pelayan mengantar minuman ke meja. Tiba-tiba tanpa sengaja gelas minumannya lepas dari tangan pelayan hingga isi minumannya menyiram seragam Keira, meninggalkan noda yang cukup jelas. Keira segera mengibaskan seragam bagian kemeja putih yang terkena tumpahan. Nara yang duduk di seberang meja terdiam. Ekspresinya tidak begitu berubah tetapi matanya sedikit membesar melihat kejadian yang begitu cepat.


Sementara pelayan di dekatnya tampak panik dan berulang kali meminta maaf.

"Yaudah gapapa, lain kali hati - hati ya," ucap Keira sambil menatap pelayan itu dengan nada suara yang sedikit pasrah kemudian dia mengalihkan lagi pandangannya ke seragamnya.


Lihat selengkapnya