Hari menjelang ujian besok, kamar Keira nyaris tak terlihat rapi. Meja belajarnya dipenuhi buku pelajaran yang bertumpuk tak beraturan, catatan penuh coretan stabilo, hingga beberapa alat tulis yang masih dibiarkan terbuka seolah pemiliknya terlalu lelah untuk membereskannya.
Namun alih-alih kembali menatap rangkuman materi, Keira justru duduk di depan laptop dengan ponselnya tersambung melalui kabel data. Beberapa hari yang lalu, Keira tak sengaja menjatuhkan ponselnya di jalan penuh genangan air. Akhirnya dia segera membawa ponselnya ke counter service hp untuk direparasi. Memori ponselnya penuh dengan file lama yang kembali muncul setelah ponselnya selesai direparasi tadi siang. Mau tak mau, malam ini dia harus memilah file mana yang disimpan, dipindahkan, atau dihapus.
Jari tangan kanan Keira bergerak aktif di atas touchpad laptop. Jemarinya sempat berhenti saat folder berisi dokumentasi OSIS dan Voli muncul di layar laptopnya. Berbagai foto dan video rapat OSIS, liburan bersama panitia, latihan voli hingga malam, selfie kemenangan tim voli, hingga potret kusut dirinya dengan teman-temannya dulu sehabis kegiatan.
Meski di dokumentasi itu Keira selalu terlihat senyum bahagia, namun sangat kontras dengan ekpresinya saat menonton semua itu. Tak ada senyuman sedikitpun di raut wajahnya. Semakin lama rahangnya sedikit menegang, seolah dia mulai menahan kekesalan. Kesal karena semua orang yang ada di dokumentasi itu kini meninggalkannya saat dia jatuh. Keira menggelengkan kepalanya dengan cepat lalu dia segera memindahkan file dokumentasi itu ke laptop.
Folder berikutnya membuat gerakan jemari Keira sedikit melambat. Folder yang berisi dokumentasinya bersama keluarga. Dengan sigap, jemari tangannya menggerakkan kursor ke folder itu lalu memindahkannya ke penyimpanan laptop tanpa membuka sedikitpun folder tersebut.
Jemari tangan Keira bergerak cepat memindahkan berbagai file hingga pergerakannya berhenti ketika sampai di beberapa foto dan video bersama Nara. Dokumentasi yang tidak sempat dia jadikan satu folder. Satu per satu Keira membuka foto dan video dirinya bersama dengan Nara. Ekspresi wajahnya mulai melunak setelah sekian lama. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis saat dia melihat berbagai foto selfienya dengan Nara sedari awal masuk SMA hingga kelas 11.
Lalu Keira menyangga kepalanya dengan tangan sambil terus menatap layar laptop, seolah dia masih ingin melihat lebih banyak dokumentasinya dengan Nara. Senyumnya semakin merekah saat berbagai video dirinya bersama Nara bergantian muncul. Video-video saat acara tamasya sekolah, belajar di perpustakaan, jalan-jalan dan kegiatan lainnya. Sesekali tawa kecilnya muncul mengiringi momen saat dia menonton video tersebut. Setelah selesai, terdengar hembusan napas berat dari mulut Keira. Dia mulai menyadari bahwa semua dokumentasi bersama Nara yang tersisa hanyalah potongan masa lalu.
Keira langsung mencabut kabel data tanpa memindahkan dokumentasinya bersama Nara, seolah dia masih ingin mempertahankan file itu di ponselnya. Kemudian tubuhnya dia sandarkan ke kursi. Fokusnya sekarang beralih ke layar ponselnya untuk memulai menghapus riwayat pesan lama yang muncul memenuhi penyimpanan. Kedua jempolnya bergerak gesit mengarsip dan menghapus satu per satu riwayat percakapan yang dirasa tak lagi penting. Hingga akhirnya jemarinya terhenti tepat pada riwayat pesan Nara.
Keira mulai membuka riwayat pesan itu dan segera menghapus satu per satu pesan yang dikirim olehnya tanpa ada satupun balasan pesan masuk dari Nara. Dahi Keira mulai berkerut tipis ketika guliran ponselnya sampai di riwayat pesan tanggal 25 Maret 2026. Tentunya ini menarik perhatian Keira, karena pada tanggal tersebut tercatat pesan masuk terakhir yang dikirim oleh Nara kepadanya.