Bisakah Kita Berteman Lagi?

DfaAaa
Chapter #20

Keraguan (Part 2)

"Tadi pagi aku diskusi sama Bu Nita. Dan ini masukan dari Bu Nita."


Nara menggeser buku catatannya ke tengah meja. Anton dan Rina segera membaca catatan Nara. Sedangkan Nara hanya diam menunggu respon dari mereka. Tidak ada satupun suara yang keluar selama beberapa saat. Kesunyian perpustakaan sekolah saat senja membuat suasana di meja itu terasa menegangkan.


"Tapi gimana merangkumnya, ini banyak banget," keluh Rina setelah selesai membaca catatan Nara berisi masukan dari Bu Nita lalu dia mengarahkan laptopnya ke arah Nara.


"Aku udah baca pendahuluan yang udah kamu susun." Ucap Nara yang kemudian dia mengarahkan laptopnya ke Rina.


"Bagian yang aku tandai ini poin-poin pentingnya. Nanti aku bantu susun dan cari referensi sesuai poin-poin ini," lanjut Nara sambil menunjuk kerangka proposal bagian pendahuluan pada layar laptop


"Terus,, aku juga udah baca metode yang kamu susun. Jujur, memang ada beberapa penjelasan yang terlalu luas." ungkap Nara ke Anton sembari jemarinya menggerakkan kursor dengan gesit.


"Lebih baik kamu fokusin penjelasan mekanisme yang aku tandai ini. Biar pembahasannya gak lari kemana-mana." usul Nara sambil mengarahkan laptop ke Anton.


Suasana hening beberapa saat. Anton fokus membaca dan mencatat poin-poin penting kerangka proposal yang ditandai Nara. Sedangkan Rina menelaah kembali kerangka pendahuluan yang sudah dia susun. Namun, terlihat pandangannya kosong. Nara beberapa kali melirik layar laptop Rina di sampingnya yang berhenti lama pada satu halaman proposal.


Setelah itu, Nara menatap buku catatannya sambil memainkan bolpoin dengan jemarinya. Sorot matanya tampak berpikir. Beberapa kali dia mengedarkan pandangan ke Anton dan Rina seolah ingin berbicara namun matanya segera kembali lagi ke buku catatannya. Jelas terlihat Nara sedang menyusun kata-kata di pikirannya.


"Terus gimana?" Tanya Nara yang akhirnya buka suara setelah sekian lama.


"Kenapa?" Sahut Anton


"Mmm, mungkin ada sesuatu yang mau kalian sampaikan," ucap Nara ragu-ragu


"Kayaknya gak ada sih, dari Bu Nita juga jelas," balas Anton sambil menurunkan sedikit layar laptop Nara.


Nara menganggukkan kepalanya kemudian pandangannya beralih ke Rina yang duduk di sampingnya.

"Kalau kamu Rina, gimana?"


"Berarti aku salah kemarin, metode lebih penting. Maaf ya kemarin udah ngotot," ungkap Rina dengan nada suaranya yang semakin mengecil di akhir kalimat.


Nara dan Anton saling berpandangan tanpa ada kata-kata. Meskipun begitu, tatapan mereka sudah cukup jelas mengisyaratkan bahwa mereka menyadari sikap Rina yang sedang tidak baik-baik saja. Kemudian Nara menarik napas sejenak sebelum dia menoleh ke Rina.

"Halaman pendahuluan diringkas bukan berarti identifikasi masalah jadi gak penting" ucap Nara dengan nada rendah yang tetap stabil.


Nara berhenti sejenak lalu berdehem sebelum melanjutkan perkataannya

"Tadi kata Bu Nita bagian pendahuluan itu ibarat pintu rumah yang jelasin masalah dan tujuan penelitian."


Kemudian tangan kanan Nara memegang buku catatan. Dia melirik sekilas catatannya lalu pandangannya beralih lagi ke Rina, seolah memastikan kebenaran setiap kata yang diucapkannya.

"Kalau masalah yang diangkat gak jelas, pembaca gak bakal mau masuk pintu itu. Mau sebagus apapun mekanisme yang disusun, itu bakal jadi sia-sia,"


Terlihat tatapan Rina yang sempat meredup perlahan kembali hidup lalu dia mengalihkan perhatiannya ke Nara hingga mata mereka saling bertemu beberapa detik. Nara memasang senyum tipis ke Rina sebelum mengalihkan pandangannya ke Anton.


"Metodologi itu ibarat pondasi rumah. Kalau penjelasan teknis gak kuat, rumah gak bakalan jadi. Rumusan masalah dan tujuan yang dirancang akan sia-sia karena gak ada solusi yang dibangun."

Lihat selengkapnya