Bisakah Kita Berteman Lagi?

DfaAaa
Chapter #22

Senyuman (Part 1)

Suasana teras belakang rumah Anton kini menjadi sepi setelah kerja kelompok LKTI selesai. Rina sudah lebih dulu berpamitan, sementara Anton masih harus membantu melayani tamu yang datang sejenak. Tinggal Nara dan Keira yang masih bertahan disana. Nara sibuk mengemasi berbagai perlengkapan seperti laptop, buku, kertas revisi dan alat tulis. Sesekali dia memeriksa kembali barang-barangnya agar tidak ada yang tertinggal. Sementara Keira duduk tenang di karpet menunggu Nara menyelesaikan aktivitasnya.


Sembari menunggu, Keira menundukkan pandangan sembari melipat tangannya. Dahinya berkerut seolah sedang menimbang sesuatu. Tak lama, kerutan itu mengendur dan sudut bibirnya terangkat tipis.


"Nara, dekat daerah rumahku ada pasar malam. Lumayan ada banyak jajanan terus ada wahana kecil-kecilan. Kesana yuk," ajak Keira antusias berusaha mengalihkan keresahan Nara.


Ajakan Keira tiba-tiba membuat Nara menghentikan aktivitasnya sejenak lalu menoleh ke arah Keira. Nara berpikir sejenak kemudian dia menggelengkan kepala singkat


"Enggak", tolak Nara dengan suara lirih yang kemudian dia kembali fokus mengemasi barang-barangnya.


"Kenapa? Emangnya kamu gak jenuh belajar terus. Lagian ini masih jam 6." Tanya Keira yang masih berusaha membujuk Nara.


"Aku pulang aja," sahut Nara


"Sebentar aja kok, please mau yaa,,kali ini ajaa," rayu Keira dengan kedua tangannya dirapatkan dekat dagunya. Sepasang mata bulatnya menatap lurus ke Nara yang tak lupa dengan senyum tipisnya. Tatapan penuh harap itu membuat Nara sulit untuk mengabaikannya.


Tiba-tiba ponsel Nara berbunyi singkat, pertanda ada pesan masuk. Dia melirik sejenak layar ponselnya. Sebuah notifikasi pesan dari ayahnya muncul disana. Ekspresinya nyaris tidak berubah, hanya saja matanya membelalak tipis sebelum kembali normal seperti semula. Tak butuh banyak waktu, dia segera membuka pesan itu.


18 Oktober 2026

"Sekarang ayah lagi di rumah. Ayah harap kamu sudah mempertimbangkan usulan ayah,"


Pandangannya sedikit tertahan lama lalu sebuah pesan dari ibunya masuk menyusul.


18 Oktober 2026

"Nara, ayah lagi di rumah sekarang. Kamu jangan pulang dulu. Nanti ibu kabari kalau sudah pulang,"


Jemari Nara menggenggam ponsel lebih erat, kemudian perlahan dia menurunkan ponselnya. Nara terdiam sesaat. Kebimbangan mulai muncul dalam pikirannya.


Di sisi lain, Keira menangkap perubahan kecil pada ekspresi Nara setelah membaca pesan itu. Ada sesuatu yang jelas mengusiknya. Meski begitu, Keira menahan diri. Kedekatan mereka belum sampai pada tahap dimana Keira bisa menanyakan hal pribadi Nara. Apalagi beberapa minggu yang lalu, Keira sempat menyinggung perceraian orang tua Nara. Dia masih mengingat jelas kemarahan Nara saat itu.


"Gimana, mau gak?" tanya Keira dengan suara lembut,berusaha mengalihkan lamunan Nara.


Nara menatap Keira sejenak kemudian dia alihkan lagi pandangannya ke ponsel. Dia membaca ulang pesan-pesan itu sekali lagi.


Beberapa detik kemudian, sorot matanya berubah lebih tegas. Sebuah keputusan mulai terbentuk di benaknya.


"1 jam aja," jawab Nara singkat dengan suara lirih tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.


Senyum Keira perlahan merekah begitu mendengar Nara menerima ajakannya. Bahkan sorot matanya ikut berbinar, memperlihatkan kegembiraan yang gagal dia sembunyikan.


"Okee, aku pesan taksi dulu ya," ucap Keira yang tanpa disadari, nada suaranya terdengar lebih semangat daripada sebelumnya.


-------


Lihat selengkapnya