Sepulang dari rumah sakit, Keira berdiri menunggu lift apartemen yang sedang turun sambil menenteng kruk di tangan kanannya. Posturnya tampak stabil dengan kedua kakinya kini sudah cukup kuat untuk menopang tubuhnya berdiri maupun berjalan. Bahkan, pagi tadi saat upacara, dia mencoba berdiri tanpa kruk untuk pertama kalinya dan dia berhasil bertahan sampai upacara selesai, meski kakinya terasa sedikit nyeri setelahnya. Terapi yang selama ini dijalankannya tampaknya mulai menunjukkan hasil yang positif.
Selangkah demi selangkah, Keira menyusuri lorong apartemen yang tampak lengang pada malam itu. Koridor yang dilewatinya terlihat bersih dan terawat dengan dinding berwarna netral. Sementara cahaya lampu memantul samar di permukaan lantai keramik yang mengkilap. Apartemen itu memang jauh lebih sederhana dari rumahnya dulu namun cukup untuk menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi dirinya dan mamanya.
Tak lama kemudian, Keira sudah tiba di depan pintu nomor 302 yang merupakan unit apartemennya. Dia segera menyenderkan kruk ke dinding lalu tangan kanannya merogoh saku jas untuk mencari kunci. Belum sempat, dia memasukkan kunci ke lubang pintu, tangan kanannya yang menekan gagang pintu justru membuat pintu terbuka begitu saja. Keira mematung sepersekian detik dengan napas tertahan sejenak.
Kemudian Keira melangkah masuk dengan hati-hati. Tatapannya menyapu ruang tamu dengan bahunya sedikit menegang. Tak lama kemudian, matanya menangkap sosok wanita paruh baya yang sedang duduk di sofa ruang tamu. Bahu Keira mulai mengendur begitu tahu sosok yang duduk disana adalah mamanya.
"Kamu belum berhenti ternyata," cetus mama Keira dengan vape anggur di tangan kanannya terangkat setinggi dada.
Keira menatap mamanya selama beberapa saat. Ekspresinya tetap datar tanpa ada sedikitpun raut terkejut di wajahnya, seakan dia sudah tidak peduli dengan pandangan mamanya.
"Cuma sesekali doang. Kalau lagi stress," sahut Keira singkat. Kemudian dia segera duduk di sofa seberang posisi mamanya sambil meletakkan kruk di bawah kakinya.
Suasana dalam rumah hening sejenak. Keira memilih tetap diam seolah sedang bersiap diri menerima rentetan teguran dari mamanya. Namun apa yang dilihatnya justru berbeda dari yang dibayangkannya. Dahi Keira berkerut ketika melihat mamanya malah mengangkat vape itu ke mulut lalu mengisapnya pelan.
"Yaa,, siapa yang gak bakal stress kalau keluarga kena kasus." ucap mama Keira dengan suaranya terdengar lemas sambil memasang senyum sinis
"Tapi akhir-akhir ini udah jarang aku pakai," kilah Keira sembari menundukkan kepalanya.
"Syukurlah kalau begitu," timpal mama Keira dengan mulutnya yang masih tidak berhenti mengembuskan uap tipis tanpa mengalihkan pandangannya ke Keira, seolah tidak peduli untuk menanyakan kondisi Keira lebih lanjut.
Tanpa banyak bicara, tiba-tiba mama Keira mengulurkan sebuah brosur. Keira mengambilnya lalu mulai membaca setiap berada di lembaran itu lekat-lekat. Setelah dia memahami isi brosurnya, tangan kanannya mulai gemetar. Napasnya mulai tidak beraturan. Kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arah mamanya.
"Ini maksudnya apa ma?" Tanya Keira dengan suaranya yang mulai goyah sembari menunjukkan brosur
Mama Keira menghela napas pelan lalu dia meletakkan vape di meja. Dengan tenang, dia menyandarkan tubuhnya ke sofa sambil menyilangkan salah satu kakinya.
"Akhir Desember setelah selesai semester ganjil, kamu bisa pindah sekolah ke luar negeri. Mama bakal urus secepatnya."
Penjelasan mamanya itu membuat Keira tersentak. Tanpa sadar jemarinya mencengkram brosur itu lebih erat. Rahangnya juga ikut mengeras.
"Aku gak mau ma," tolak Keira tegas sembari meletakkan brosur di atas meja.
Mama Keira memandang nanar brosur itu.
"Untuk apa masih disini. Citra keluarga kita sudah jelek."
Kemudian tatapannya beralih ke Keira. Tidak ada kemarahan, hanya kelelahan yang samar tergambar di wajahnya.
"Kalau di luar negeri kamu bisa ngelakuin apapun yang kamu mau."
Satu sudut bibir Keira terangkat tipis disusul dengan tawa pendek yang terdengar sinis.
"Jadi mama pulang cuma buat ngasih tau ini doang," ucap Keira dengan pandangan menunduk.
Beberapa detik kemudian, Keira menatap mamanya dengan lembut, namun sorot matanya tetap teguh tanpa ada keraguan sedikitpun.
"Aku bakal baik-baik aja. Gak perlu khawatir berlebihan." ungkap Keira