Bisakah Kita Berteman Lagi?

DfaAaa
Chapter #25

Bangkit dari Keterpurukan (Part 1)

"Baik, sampai sini apa ada yang ditanyakan lagi?" tanya Bu Dewi setelah selesai menjelaskan materi.


Dia mengedarkan pandangan ke ruangan kelas selama beberapa saat hingga tak lama kemudian Keira segera mengangkat tangan kanannya.


"Iya, silahkan Keira," ucap Bu Dewi sambil menjulurkan tangannya ke arah Keira.


Keira melirik buku catatannya sejenak tanpa menurunkan tangan yang masih terangkat, lalu dia mengalihkan pandangannya ke Bu Dewi.

"Kalau AI punya kemampuan menulis atau membuat gambar, apakah berarti kreativitas manusia bisa tergantikan juga?"


Saat itu, Bu Dewi ditugaskan mengajar bahasa Indonesia di kelas 12 untuk sementara waktu, menggantikan guru yang sedang cuti hamil. Sejak awal pembelajaran, Keira beberapa kali melontarkan pertanyaan kritis hingga membuat Bu Dewi terdiam sesaat. Tampak alisnya terangkat sembari mengulas senyum tipis sebelum dia menjelaskan pertanyaan Keira, pertanda dia merasa terkesan dengan keaktifan Keira di kelas.


Di tengah sesi pembelajaran, semua murid di kelas mencatat materi yang ditampilkan di powerpoint. Diam-diam, Bu Dewi memperhatikan Keira yang mencatat materi dengan telaten sambil sesekali mengganti warna bolpoin untuk menandai bagian-bagian penting. Melihat semangat Keira selama pembelajaran perlahan menyeret ingatan Bu Dewi ke masa kelas 11 menjelang kenaikan kelas 12. Masa ketika Keira masih berkutat dalam keterpurukannya.


||


11 Mei 2026


Ingatan kembali ketika Bu Dewi melihat Keira keluar dari ruang meeting lalu melangkah pelan dengan kruk menuju tangga. Dengan sigap, Bu Dewi yang saat itu berada di lapangan langsung bergegas menuju lantai 2 untuk menghampiri Keira. Selangkah demi selangkah, hingga akhirnya Bu Dewi dan Keira berpapasan di tengah anak tangga.


"Keira, saya ingin berbicara dengan kamu sebentar," terdengar suara halus Bu Dewi tanpa kehilangan ketegasan mencoba menghentikan langkah Keira.


Mereka sama-sama terdiam di bordes tangga, membiarkan beberapa detik berlalu tanpa kata. Keira terus menundukkan kepalanya menghadap Bu Dewi sementara Bu Dewi memperhatikan Keira sekilas, mencoba menelisik ekspresi yang disembunyikan Keira di balik tudung jaket hitamnya. Tangan kanannya tampak membawa laptop, sementara tas selempang tersampir rapi di pundaknya .


Matanya terus bergerak hingga pandangannya berhenti pada saku jaket Keira. Bu Dewi mengernyitkan dahi saat dia melihat benda di balik saku sebelah kiri yang tampak seperti bungkus rokok. Begitu Keira menyadari Bu Dewi terus mengamati bungkus rokoknya, dia segera memasukkan tangan kirinya ke dalam saku jaket.


Bu Dewi mengembuskan napas dengan keras kemudian dia menatap Keira.

"Saya tau situasi ini memang berat untuk kamu, tapi kamu tetap harus menjalankan kewajiban sekolah,"


Bu Dewi mengalihkan pandangan sejenak. Dia tampak berhati-hati merangkai kata-kata sebelum kembali melanjutkan pembicaraannya.


"Kalau kamu terlalu sering bolos, saya khawatir kamu bakal tinggal kelas. Pembelajaran selama hampir satu tahun yang sudah kamu jalani akan jadi sia-sia hanya karena ini,"


Tidak ada respon apapun dari Keira. Pandangannya terus mengarah ke bawah dengan tangan kirinya yang masih terbenam di saku jas.


"Sebentar lagi saya ada jadwal mengajar di kelasmu. Mulai sekarang kamu harus masuk kelas atau saya akan hubungi orang tua kamu hari ini." tegas Bu Dewi lalu dia melirik jam tangan yang terpasang di pergelangan kirinya.

Lihat selengkapnya