"Gimana catatannya udah rapi kan? Materi yang di papan, ppt, buku, penjelasan Bu Dewi,, semua udah aku catat," pamer Keira yang duduk dengan kaki kiri bertumpu di atas kaki kanan sembari menyilangkan kedua tangannya.
Nara membolak-balik beberapa halaman buku catatan Keira untuk memastikan catatan itu benar-benar sudah lengkap. Tak lama kemudian, Nara mengangguk-angguk kepalanya sambil mengangkat tipis alisnya. Baginya, catatan Keira kali ini jauh lebih tertata. Beberapa poin penting materi diberi warna bolpoin yang berbeda sementara penjelasan tambahan diselipkan di sisi halaman dengan tulisan kecil namun jelas terbaca. Tidak ada bagian materi yang terlewat seperti catatan matematika minggu lalu.
Meski tidak ada tanggapan dari Nara, Keira tersenyum puas begitu Nara langsung menyiapkan peralatan tulisnya lalu segera menyalin catatan Keira tanpa berkomentar apapun. Hari ini adalah hari anggota tim LKTI mendapat dispensasi mengikuti kelas bahasa Inggris untuk kedua kalinya. Seperti minggu lalu, Keira menawarkan buku catatannya ke Nara lalu menunggu hingga Nara selesai menyalin catatannya setelah kerja kelompok LKTI selesai.
"Kayaknya udah lama banget gak sih kita satu kelompok begini. Biasanya selalu diacak. Kapan ya kita terakhir satu kelompok?," tanya Keira yang berusaha membuka obrolan di tengah suasana perpustakaan sekolah yang semakin sunyi.
Jari telunjuk Keira mengusap pelan dagunya, mencoba mengingat sesuatu, sementara Nara masih berkutat menulis catatan.
"Emm,, kayaknya awal-awal waktu kelas 11 gak sih, kita berdua satu kelompok. Ingat gak kita dulu sampai keliling warung nyari roti berjamur sama telur busuk buat praktek biologi," ucap Keira dengan nada suara mulai meninggi karena antusias sambil melirik Nara yang sibuk menulis.
"Terus besoknya kita diomelin anak-anak kelas karena aku gak sengaja jatuhin telur. Satu ruangan jadi bau amis," lanjut Keira sambil terkekeh.
Kemudian Keira melepas lipatan tangan dan kakinya. Setelah itu, kedua tangannya dilipat rapi di atas meja sambil mencondongkan sedikit tubuhnya.
"Kamu ingat enggak itu?" tanya Keira dengan bibirnya yang sedikit mengerucut saat berbicara dan mata bulatnya yang berbinar menatap Nara, seperti anak kecil yang menunggu respon.
Terdengar helaan napas kecil Nara saat dia menatap balik Keira. Ekspresi Keira yang begitu terbuka membuat Nara merasa tak punya alasan untuk tetap bungkam.
"Kamu mual-mual terus jadi aku bantu bersihin juga," timpal Nara datar sambil menulis catatannya kembali.
Sudut bibir Keira mengembang lebar seketika, membuat lesung pipinya tampak menonjol di pipinya.
"Iya bener. Bau banget soalnya. Maaf ya aku ngerepotin kamu dulu," sahut Keira dengan riang kecil.
"Tapi setelah itu kita gak pernah lagi dapat kesempatan satu kelompok," keluh manja Keira sambil menyanggakan kepala pada tangan kanannya.
Perkataan Keira barusan membuat tangan kanan Nara yang memegang bolpoin membeku seketika. Rahangnya perlahan mengeras saat pikirannya mengingat kembali obrolan Keira dengan ketua kelas. Saat dia mencoba menghindari Nara hingga dia membuang kesempatan untuk satu kelompok bahasa Inggris dengan Nara.
27 Maret 2026
"Kelompokku masih kurang anggota sama kelompoknya Nara juga. Jadi kamu mau masuk kelompok mana. Biar aku catat," tanya ketua kelas.
"Yaudah, aku gabung kelompokmu aja. Nanti kalau ada penugasan atau kerja kelompok kabarin yaa," sahut Keira tanpa keraguan sedikitpun.
"Bahasa Inggris," celetuk Nara tiba-tiba, bahkan sebelum dia menyadari kata-kata itu sudah lolos dari mulutnya.
"Haa? Emang kita pernah satu kelompok bahasa Inggris?" tanya Keira sambil mengerutkan keningnya.
Nara terdiam sesaat. Lalu dia meletakkan bolpoin di atas buku sembari mengatupkan bibirnya tipis.
"Naraa,," panggil Keira sembari melepaskan sandaran kepala tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya dari Nara. Raut wajah cerianya beberapa detik lalu perlahan runtuh, menyisakan ekspresi yang lebih tenang dan serius.
Di sisi lain, Nara mengetuk jari telunjuknya ke meja beberapa kali. Dia terus mengarahkan pandangan ke bawah seakan kepalanya sedang berpikir keras mencari jalan keluar.
"Tugas kelompoknya gimana? Apa bagi tugas aja?" kelit Nara berusaha mengalihkan topik pembicaraan.