||
Bu Dewi tersenyum sembari menganggukkan kepala dengan lembut setelah mengingat momen itu. Seolah dia sudah menemukan apa alasan Keira mau bangkit kembali.
"Sepertinya kamu teman yang sangat berarti buat Keira."
Ucapan Bu Dewi sekali lagi mengalihkan perhatian Nara. Tak lama Bu Dewi menyandarkan badannya ke kursi sambil melipat kedua tangannya.
"Jujur ibu penasaran, gimana dulu kamu membujuk Keira? Dulu tuh rasanya susah banget ibu menghubungi Keira. Berkali-kali saya telpon terus saya sms buat bujuk dia, juga gak pernah berhasil. Tapi sekalinya kamu datang, Keira langsung mau masuk sekolah,"
Nara hanya diam terpaku mendengar semua cerita Bu Dewi. Tatapannya tampak kosong beberapa saat, seolah berusaha mencerna semua hal yang baru saja dia dengar tentang Keira.
"Ya sudah. Saya pulang dulu ya. Semangat ya Nara untuk LKTI nya" pamit Bu Dewi sembari mengelus pundak Nara dengan lembut.
"Terima kasih Bu," sahut singkat Nara sambil menundukkan sedikit kepala.
Setelah berpamitan, Nara memandang catatan Keira. Jemari tangan kanannya sibuk memainkan pulpen. Semakin lama dia memandang catatan Keira, semakin dia menyadari ketelatenan Keira mencatat materi. Padahal dulu Nara sampai meminjamkan bukunya karena jadwal Keira terlalu padat hingga tidak sempat mencatat materi di kelas.
||