Perpustakaan SMA Victoria tampak lebih lengang karena jam pelajaran belum usai. Memanfaatkan jam kelas kosong, Keira dan Nara memilih menggunakan waktunya untuk mengerjakan tugas kelompok. Mereka duduk bersebelahan di salah satu meja dekat rak buku. Saat Nara berkosentrasi mencari dan mengumpulkan materi untuk tugas kelompok mereka di laptop, Keira justru hanya menopang dagu dengan tangan kiri, membiarkan pikirannya mengembara kemana-mana. Telunjuk kanannya terus bergerak di atas sampul buku paket bahasa Indonesia, mengikuti lamunannya sambil sesekali melirik Nara yang duduk di samping kanannya.
"Nara,, waktu kemarin kamu bilang bahasa Inggris itu maksudnya apa ya?" Pertanyaan mendadak dari Keira sontak membuat jemari Nara berhenti bergerak di atas keyboard.
"Seingat aku sih kita gak pernah satu kelompok. Tapi aku pernah hampir masuk kelompok kamu," lanjut Keira sambil terus menatap Nara tanpa melepas sanggahan dagunya, mencoba melihat reaksi Nara lebih lanjut.
Tetapi, Nara tidak bereaksi apapun. Pandangannya masih terpaku pada layar laptop dengan jemari tangannya masih bertahan di atas keyboard, seolah menunggu Keira melanjutkan perkataannya.
Karena tidak ada respon, Keira segera melepas sanggahan lalu melipat kedua tangannya dengan rapi di atas meja.
"Emm, aku cuma kepikiran aja sih."
Akhirnya, Nara menolehkan kepalanya ke arah Keira. Begitu tatapan mereka bertemu, tatapan Keira mendadak berbinar jernih dengan raut wajah memelas.
"Nara, maaf ya,"
"Gak perlu minta maaf," sahut Nara singkat dengan pandangannya masih terkunci ke Keira.
"Enggak Ra, aku belum sempat jelasin apa-apa tentang ini," sanggah Keira.
Kemudian, Keira menyandarkan punggungnya ke kursi sambil mengalihkan tatapan matanya lurus ke depan.
"Waktu itu emang aku lagi sibuk-sibuknya persiapan tanding. Terus masuk kelas tiba-tiba aku ditanya ketua, mau gabung kelompok mana," kilah Keira
Lalu Keira mengalihkan lagi tatapannya ke Nara.
"Tapi aku malah langsung milih kelompoknya ketua. Kalau aja aku nimbang dulu sebelum milih, mungkin kita bisa satu kelompok," ungkap Keira dengan suaranya yang semakin mengecil di akhir kalimat.
"Kenapa harus nimbang dulu?" Tanya Nara dalam batinnya sambil menatap mata Keira lekat-lekat.
"Terus juga aku lagi buru-buru kumpul rapat OSIS jadi ya biar cepat aja. Saat itu, aku gak langsung milih kelompok kamu soalnya..." Keira menghentikan perkataannya sejenak sambil mengalihkan matanya ke bawah dengan kepala masih menoleh ke Nara. Tampak raut ragu-ragu menghiasi wajahnya.
"Kenapa berhenti?" batin Nara dengan sorot matanya yang mulai goyah dan bahu yang menegang.
Keira yang tadinya bersandar di kursi kemudian memutar tubuhnya ke kanan menghadap Nara dengan siku tangan kanannya bertumpu di atas sandaran kursi.
"Iya gitu deh..Pokoknya aku minta maaf,"
Nara menghela napas panjang dengan bahunya menurun perlahan ketika dia tidak mendapat penjelasan yang memuaskan dari Keira. Penjelasan yang mungkin bisa meruntuhkan asumsinya selama ini terhadap tindakan Keira dulu. Jaga jarak.
"Tentu aja kamu gak bakal mau kasih tau alasan sebenarnya," batin Nara
Kemudian pandangannya beralih kembali ke laptop. Setelah itu, dia menggeser laptop ke depan Keira.
"Aku udah susun bukti penggunaan AI di analis keuangan. Mungkin kamu punya masukan," Nara mencoba mengalihkan pembicaraan.
Keira menghembus napas lembut dari hidungnya sambil memanyunkan bibirnya dengan tubuh masih miring menghadap Nara seolah menunggu Nara merespon permintaan maafnya.