Bisakah Kita Berteman Lagi?

DfaAaa
Chapter #29

Rencana Baru (Part 2)

Nara memperhatikan ibunya yang masih berkutat di dapur. Tampak dia bersama beberapa karyawan lain sedang mencuci dan merapikan peralatan, memeriksa stok bahan dan membersihkan meja dapur. Meski wajahnya tampak lelah setelah bekerja seharian, tangannya tak berhenti merapikan berbagai keperluan sebelum rumah makan benar-benar tutup. Melihat kerja keras ibunya, Nara teringat lagi tawaran ayahnya satu jam yang lalu.


||


"Apa kamu gak kasihan sama ibumu? Dia kerja pontang-panting setiap hari. Kamu tau kan biaya kuliah mahal," tutur ayah Nara sambil menyantap makanannya.


"Aku bisa cari beasiswa," kilah Nara dengan kepala menunduk sambil sedikit memainkan makanannya dengan sendoknya.


"Beasiswa juga belum tentu bakal dapat. Kesempatan magang ini udah ada di depan mata," sanggah ayah Nara.


Suasana hening beberapa saat. Kemudian, ayah Nara meletakkan sendoknya dan menyeruput teh sejenak sebelum melanjutkan perkataannya.

"Bukannya ayah ngelarang kamu kuliah. Tapi apa salahnya kamu ambil magang ini. Nanti kalau udah punya penghasilan, kamu bisa daftar kuliah,"


||


Nara mengembuskan napas pelan lalu dia mengeluarkan selembar kartu nama dari dalam saku jas sekolahnya. Pada kartu itu tertera nama ayahnya beserta jabatannya sebagai HRD di sebuah perusahaan obat-obatan herbal. Ayah Nara menawarkan lowongan magang asisten laboratorium setelah Nara lulus SMA. Bekerja di laboratorium memang impiannya. Namun, dia ingin berada di ruang laboratorium sebagai seorang peneliti bukan menjadi staf perusahaan. Tentu, impian itu bisa terwujud jika dia kuliah.


||


"Ini ayah kasih kamu kartu. Kamu bisa langsung datang ke perusahaan bawa kartu itu. Nantinya, kamu bakal langsung interview buat formalitas aja. Tenang aja, kamu bisa kerja setelah lulus," tawar ayah Nara sambil mendorong pelan kartu namanya ke arah Nara.


Nara melirik sekilas kartu itu kemudian dia mengalihkan lagi tatapannya pada ayahnya.


"Atasan ayah sudah mempersiapkan posisi kosong buat kamu. Dia cukup tertarik sama prestasi kamu di sekolah. Jadi ayah harap kamu gak sia-siakan kesempatan ini." usul ayah Nara.


Mereka saling berpandangan selama beberapa detik. Lalu, ayah Nara kembali fokus melanjutkan aktivitas makannya sementara Nara masih mengunci pandangan pada ayahnya. Sorot mata Nara tetap datar, seolah tawaran ayahnya tidak banyak mempengaruhinya


"Ayah kasih waktu seminggu. Kalau kamu gak ambil ini..." ucap ayah Nara dengan suara yang lebih berat dari sebelumnya.


Setelah selesai mengunyah makanan, ayah Nara menengadahkan kepalanya. Dia menghela napas sejenak sambil menatap Nara sebelum mengeluarkan perkataan yang membuat Nara terhenyak seketika

"Terpaksa ayah akan kasih kesempatan ini ke adik kamu,"


||

Lihat selengkapnya