Hari presentasi bahasa Indonesia akhirnya tiba. Saat jam istirahat, Keira dan Nara memilih memanfaatkan waktu untuk berdiskusi di area luar kantin. Berbeda dengan meja-meja lain yang dipenuhi piring, gelas dan suara obrolan makan siang, sementara meja mereka hanya dipenuhi sebuah laptop, makalah, tiga potong roti milik Keira dan sepotong roti milik Nara.
"Keira," panggil Nara tanpa mengalihkan pandangan dari laptop.
"Iya?" sahut Keira sambil mengunyah roti.
Kemudian, Nara mengarahkan layar laptop ke Keira.
"Ini PPT nya gak pakai penjelasan? Cuma gambar, judul sama sub judul"
"Memang aku biasanya begitu kalau bikin PPT." kilah Keira.
Nara masih terdiam sambil menatap Keira. Melihat respon Nara, Keira mendekatkan laptop ke arahnya lalu mulai mengulas satu per satu slide PPT yang dibuatnya.
"Apa aku salah bikin ya?" tanya Keira dengan nada ragu-ragu.
"Enggak sih, tapi biasanya aku cantumin sedikit penjelasan," timpal Nara
Keira membuka makalah lalu tangannya bergerak membalikkan satu per satu halaman secara perlahan hingga sampai di halaman terakhir.
"Soalnya di makalah juga cuma 8 halaman. Menurut kamu harus nambah penjelasan apa?"
Nara menggeser makalah ke tengah meja dan menyesuaikan posisi makalah hingga mereka bisa membaca dari sisi masing-masing.
"Nambah ini. Emm.. terus bagian contoh-contoh juga kasih penjelasan satu kalimat." tunjuk Nara dengan menggerakkan telunjuknya di atas kertas mengikuti setiap kalimat pada makalah.
Di sisi lain, alis Keira bertaut tipis setiap kali Nara menunjuk bagian-bagian materi yang terlampir di makalah.
"Bagian dukungan AI sama argumen juga kayaknya masih kurang. Itu aja sih," tutup Nara kemudian pandangannya beralih ke Keira. Tampak kelopak matanya sedikit bergetar memancarkan sorot mata yang penuh dengan permohonan terselubung meski raut wajahnya sedatar papan.