Bisakah Kita Berteman Lagi?

DfaAaa
Chapter #32

Masa Kelam yang Terkuak (Part 1)

Seminggu setelah presentasi berlalu, rutinitas sekolah kembali berjalan seperti biasa. Nara masih tenggelam dalam kesibukannya mengurus proyek LKTI, sementara Keira tetap nimbrung di dekatnya seperti hari-hari sebelumnya. Di sela-sela itu, Keira juga mulai rutin menjalani terapi dan olahraga. Sedikit demi sedikit, cedera di kakinya membaik sampai akhirnya kini dia tak lagi membawa kruk ke sekolah.


"Bukannya kamu pernah daftar dulu?" tanya Nara dengan suara ringan.


"Iya, tapi akhirnya gak jadi berangkat tes. Soalnya aku kecapekan banget habis tanding," timpal Keira sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Nara mengalihkan pandangan lurus ke depan sambil mengangguk pelan dengan wajah datar. Namun, sepasang alisnya sempat terangkat sedikit sebelum kembali turun, sebuah tanda kecil bahwa jawaban Keira barusan meleset dari dugaannya.


Saat ini, Keira dan Nara duduk berdampingan di kursi dekat pos satpam sambil menunggu pesanan makanan datang. Sementara itu, Anton dan Rina sudah lebih dulu berada di gazebo taman sekolah, menunggu mereka datang dengan perut lapar setelah mengerjakan revisi paper LKTI yang cukup menguras tenaga.


Angin sore berhembus pelan di sela waktu menunggu yang tenang, sampai tiba-tiba Nara membuka percakapan dan menanyakan soal IELTS ke Keira. Pertanyaan itu membuat Keira menoleh dengan raut heran, seolah tak menyangka topik itu akan muncul begitu saja.

"Tumben kamu nanyain IELTS? Emang LKTI perlu persyaratan IELTS?"


Nara menggeleng pelan tanpa mengalihkan pandangan ke Keira

"Enggak," respon singkat Nara dengan suara lirih.


Respon singkatnya membuat Keira mengernyitkan dahi.

"Terus?"


"Buat jaga-jaga aja, mungkin suatu saat butuh," jawab Nara santai sambil mengarahkan pandangan ke bawah lalu dia mulai meretakkan jari-jarinya hingga terdengar bunyi dari tiap ruas.


"Iya sih bener," sahut Keira sambil mengalihkan tatapan matanya lurus ke depan.


Mereka terdiam beberapa saat. Suasana semakin hening ketika suara kretekan jari Nara berhenti. Sesekali Nara melirik ponselnya, memantau pergerakan kurir dari aplikasi pesan antar. Di sisi lain, Keira menghembus napas lembut yang panjang lalu dia sedikit menundukkan kepala. Dengan kedua tangan terlipat, pikirannya sibuk menerka-nerka alasan Nara menanyakan IELTS. Jawaban "buat jaga-jaga" terdengar terlalu sederhana untuk menutup rasa penasarannya, tetapi dia tak cukup berani untuk memaksa penjelasan lebih jauh.


Beberapa saat kemudian, sudah bibir Keira terangkat tipis kemudian dia segera menoleh ke Nara.

"Mungkin.. kita bisa sih belajar, latihan speaking terus nanti daftar tes bareng," usul Keira tiba-tiba hingga membuat Nara mengalihkan perhatian dari ponsel ke Keira.

Lihat selengkapnya