Bisakah Kita Berteman Lagi?

DfaAaa
Chapter #33

Masa Kelam yang Terkuak (Part 2)

"Di bagian pembahasan ini kan kamu cantumin kalau pemurnian biogas itu penting supaya gak terjadi masalah sistem di generator," tanya Nara ke Anton dengan pandangannya terpaku pada laptop


"Iya benar," sahut Anton sambil mengunyah makanan.


"Boleh aku liat referensi yang bagian ini?" pinta Nara, kemudian Anton segera membuka laptop lalu menunjukkan jurnal referensi ke Nara.


"Apa ada yang kurang?" tanya Anton beberapa saat setelah Nara membaca referensi yang ditunjukkan Anton.


"Kayaknya kalau cantumin sedikit argumen bakal lebih kuat," usul Nara


Kemudian Nara mengarahkan layar laptop ke Anton.


"Bagian ini. Jelasin aja sedikit kalau zat-zat selain metana bisa nurunin efisiensi pembangkit,"


Anton membaca sejenak bagian materi yang ditunjuk Nara kemudian dia menganggukkan kepalanya.

"Boleh juga sih. Oke noted,"


"Anton, jelasin dong yang bagian proses anaerobic digestion. Rumit banget ini," gerutu Rina yang sedari tadi sibuk mempelajari kerangka proposal yang disusun Anton.


Setelah itu, Anton mulai menjelaskan materi, sementara Rina sesekali menanggapi penjelasannya. Suara mereka cukup meramaikan suasana gazebo di tengah keadaan sekolah yang mulai lengang.


Di sisi lain, Nara diam-diam memperhatikan Keira yang duduk di sampingnya sembari mengetik proposal. Setelah membaca artikel berita tadi, rasa cemas di dada Nara semakin menyeruak lebar. Apalagi saat dia memperhatikan perubahan gelagat Keira sejak menerima panggilan telepon tadi. Memang tidak ada perubahan yang signifikan. Keira tetap tersenyum, banyak mengobrol saat istirahat makan, bahkan sempat berdebat kecil dengan Rina seperti biasanya. Namun, di sela-sela itu, Nara beberapa kali menangkap sorot mata Keira yang tampak menerawang.


Gelagat itu semakin mudah terbaca ketika anggota LKTI sedang sibuk berdiskusi dan fokus mengerjakan proposal, seperti yang dilihat Nara saat ini. Keira mengunyah makanannya lebih lama dari biasanya. Sesekali, dia memainkan makanan di piringnya dengan sumpit selama beberapa detik. Pandangannya terlihat kosong seolah pikirannya melayang ke tempat lain.


Lihat selengkapnya