Setelah selesai dengan piketnya ,Aqeela kembali ke pondok niatnya mau mandi kemudian istirahat sebelum nanti Dzuhur dia piket lagi.
Namun sebelum merealisasikan ke inginannya itu ,Teh Dea datang dengan wajah yang sedikit kencang.
"Aqeela,hari ini Tami membuat laporan,selama di rumah tadi kamu berprilaku tidak sopan,cari perhatian sama yang bukan mahram ,terlebih itu a Harry"tuduhnya langsung tanpa bertanya apa ,dan kenapa.
Aqeela ingin menjelaskan namun sepertinya itu akan sia-sia,karena seharusnya sikap pengurus pondok di depannya ini bertanya terlebih dulu,kemudian baru menyimpulkan,bukan menelan mentah-mentah berita yang di sampaikan.
"Karena ini sudah kelewatan,laporan prilaku kamu langsung naik ke sekretariat pondok"
"Teh,seharusnya sebagai pengurus teteh nanya terlebih dahulu,apa yang terjadi,bagaimana kronologinya,bukan langsung percaya begitu saja,sama berita yang di sampaikan Tami"
Teh Dea tidak menjawab,dia menyadari kesalahannya,keimplusifannya, seharusnya sebagai pengurus dia bisa lebih bijak,namun Tami yang daritadi melihat kini langsung menyelak.
"Heh Aqeela,kalau nanya dulu,pasti akan banyak alasan yang keluar dari mulut kamu"
Tidak lama kemudian,datang salah seorang santri membawa perintah dari sekretariat.
"Assalamualaikum,punten teh yang namanya Aqeela ,yang mana ya ,bisa tolong ikut saya ke sekretariat pondok ?"
Aqeela menghela nafasnya ,ada rasa sesak yang tiba-tiba menyeruak,namun di berusaha tetap kuat.
"Itu saya teh "Aqeela menjawab mengangkat tangannya sebagai tanda.
"Bisa ikut saya ke kantor sekretariat Aqeela?"tanyanya sopan
"Iyaa teh bisa"
Asila memandu jalan , Aqeela mengikuti dari belakang ,dengan perasaan yang takut luar bisa, Aqeela mulai deg-degan,tangannya mulai dingin,langkah kakinya semakin berat,dia juga merasa malu, "Ayah ,Bunda " batinnya bersuara.
Sesampainya di kantor sekretariat ,Aqeela langsung berhadapan dengan Teh Ifa selaku pengurus sekretariat pondok putri.
"Aqeela ,hari ini ada laporan masuk,laporan tentang kamu begitu cepat masuk sekretariat,itu artinya pengurus kamar kamu sudah angkat tangan,merasa tidak sanggup"
"Namun saya bukan seseorang yang kejam,di sini saya mau bertanya terlebih dahulu,karena saya merasa laporannya ada sedikit cacat,dan begitu cepat"
"Pagi ini ,apa yang kamu lakukan Aqeela ?"
"Saya ikut Teh Dea piket di rumah Umi ,teh"
"Iya ,teruskan Aqeela ,saya mau mendengar cerita dari kamu langsung"
Aqeela mulai bercerita,menceritakan semuanya dengan detail,tanpa mengurangi atau menambahkan bumbu yang lain.
"Oke ,saya anggap kamu ceroboh Aqeela"Teh Ifa tersenyum dan itu cukup membuat Aqeela lega.