Suatu hari Ajir berpikir untuk membisu. Bibirnya dikatupkan sangat rapat. Tidak sedikit pun celah terbuka, bahkan hanya untuk satu gelembung udara. Mengangguk, menggeleng, dan senyum yang dianggap misterius oleh banyak orang, menjadi alat komunikasi dengan siapapun. Keluarga, teman, rekan kerja di kantor, bahkan atasannya, tidak ada yang sanggup membuat Ajir membuka mulutnya.
“Mungkin dia sangat terpukul karena kematian ayahnya,” kata seorang teman kerja Ajir.
“Mungkin juga. Tapi ya jangan dipakai sedihlah. Bapaknya itu kan kaya. Sebentar lagi dia akan dapat warisan banyak,” balas sahabatnya.
“Huss! Kalau urusan kekayaan, ngapain nunggu warisan. Dia bisa mendapatkannya kapan saja. Ayahnya kaya luar biasa. Beberapa tahun lalu ada media online yang nulis perusahaan-perusahaannya. Pom bensin, rumah makan, salon kecantikan, pertambangan di Kalimantan, perkebunana di Sumatera, saham di beberapa perusahaan, jutaan dollar di bursa trading, dan entah apa lagi. Beberapa bulan sebelum bapaknya meninggal, juga ada koran yang menulis tentang tanahnya yang ribuan hektar. Belum lagi....”
“Ya, bapaknya memang kaya. Tapi buat apa Ajir kerja di perusahaan kecil seperti ini?”
Rekan bicara itu terdiam. “Ya, buat apa ya?” gumamnya pelan.
“Aneh.” Rekannya ikut menimpali, juga dengan suara pelan.
“Aneh bin ajaib.”
Beberapa jenak tidak ada pembicaraan lagi di antara dua orang yang sedang mengepak buku-buku ke dalam kardus itu. Suara gemuruh mesin cetak terdengar dari dalam ruangan cetak. Seorang gadis duduk di belakang meja, sebagai penerima tamu, penerima order cetakan, sekretaris, resepsionis, merangkap membeli nasi Padang untuk bossnya bila waktu makan siang tiba.
“Sama anehnya dengan mobil Ajir yang biasa saja,” kata pegawai percetakan yang sedang mengepak tadi.
“Sama ajaibnya dengan tutup mulutnya kali ini.”
“Oh iya, itu yang paling aneh bin ajaib bin gak bisa dimengerti.”
Begitulah, percakapan menganehkan dan mengajaibkan Ajir itu selalu hadir setelah teman-teman di percetakan Jaman Baru itu mengetahui bahwa Ajir adalah salah seorang anaknya Pak Har, pensiunan pejabat pemerintah, petinggi partai, wakil rakyat beberapa periode, yang dulu nama dan potretnya selalu hilir mudik di koran, majalah, media online, media sosial dan spanduk-spanduk saat tahun politik tiba.
Percetakan Jaman Baru sendiri adalah perusahaan kecil yang hanya mempunyai dua mesin cetak GTO 52 4 warna, empat buah mesin cetak offset Toko 820. Pemiliknya Riki, bujangan 40 tahun berbadan tambun, yang biasanya bicara seenaknya kepada 14 orang pegawainya; juga berubah sikap ketika tahu siapa bapaknya Ajir. Itu terjadi beberapa hari lalu setelah dia tahu dari Nina, sekretarisnya yang merangkap-rangkap jabatan itu, saat Pak Har meninggal.
“Tidak mungkin ayahnya adalah Pak Har yang terkenal dan kaya itu,” kata Riki saat Nina laporan bahwa Ajir jarang masuk kerja akhir-akhir ini karena ayahnya sakit dan lalu meninggal dunia.
“Lihat tuh di televisi, di hp, di koran. Kang Ajir itu berfoto di mana-mana, bersama keluarga Pak Har,” kata Nina.
Riki terbengong di depan layar laptop yang dibuka Nina. Foto Ajir di pemakaman, di rumah duka, di jumpa pers kematian Pak Har, bersama keluarga besar Pak Har yang memang sangat besar alias banyak. Empat orang istri dan puluhan anak dan cucu.
“Aneh,” gumam Riki.
“Aneh kenapa, Kang?” tanya Nina.
“Aneh bin ajaib.”
“Iya, apa yang aneh bin ajaib?”
Riki terkejut. Lalu tersenyum kepada Nina, menyadari tidak fokus pada pembicaraan. Untung Nina yang mengejutkannya. Bila anak buahnya yang lain, Riki pasti sudah bicara nyerocos, sumpah serapah campur umpatan.
“Si Ajir ini gak pernah bilang bapaknya pejabat terkenal,” kata Riki lagi.
“Tapi ini kesempatan, Kang,” kata Nina.
“Kesempatan gimana?”
“Bila percetakan kita ingin mendapat proyek-proyek besar dari instansi pemerintah, bisa masuk dengan koneksi Kang Ajir.”
“Yang jadi pejabat kan bapaknya?”
“Tapi namanya bisa dimanfaatkan oleh teman-temannya, kenalannya, saudaranya, apalagi oleh anaknya.”
“Tapi Pak Har sendiri kan sudah meninggal.”
“Meski sudah meninggal, namanya masih bertuah.”
“Ajaib! Aneh bin ajaib!”
“Ya, memang banyak yang aneh bin ajaib di negara kita.”
“Maksudnya, si Ajir itu yang aneh bin ajaib. Sudah dua tahun dia kerja di sini, tapi kita tidak pernah tahu siapa dia.”
“Oh...!” Nina menepuk pelan tangan Riki di atas meja. Kontan saja itu membuat Riki terkejut lagi.