BISU

Yosep Rustandi
Chapter #2

HITAM

Meski penyakit Pak Har sudah begitu parahnya, tapi masih terdengar gumam berbisiknya. Suaranya tidak begitu jelas. Tapi Ajir, Amih, Teh Iin, yang ada di kamar, saling memandang. Tidak sekedar heran dengan apa yang dikatakan Pak Har, tapi juga terkejut dengan kekuatan Pak Har. Sudah dua bulan lebih Pak Har dirawat di rumah sakit. Penyakitnya segala ada. Komplikasi kanker mulut, jantung, ginjal, darah tinggi, diabetes, lambung, kanker getah bening dan beberapa penyakit lainnya seperti yang pernah diterangkan dokter.

Seminggu lalu pulang dari rumah sakit, karena pihak rumah sakit pun akhirnya angkat tangan. Pak Har sudah tidak ingat apa-apa. Koma. Tekanan darah, nadi, napas, sudah lemah. Hanya getaran dadanya perlahan yang menandakan ruh masih bersarang di tubuh ringkihnya.

Bukan karena takut biaya membengkak kalau kemudian Amih memutuskan untuk membawa pulang Pak Har. Karena begitulah pesan Pak Har kepada Amih sewaktu masih sadar dan bisa diajak bicara.

“Bila Ayah sudah tidak ingat apa-apa, rumah sakit sudah menyerah, bawa pulang saja. Ayah ingin di rumah,” kata Pak Har sewaktu mau diantar ke rumah sakit.

“Ayah jangan bicara begitu. Karena Ayah pasti sembuh, Ayah akan pulang setelah sembuh,” kata Amih.

Tapi kemudian yang terjadi seperti yang dibayangkan Pak Har. Beliau koma. Berhari-hari. Rumah sakit menyatakan tidak bisa membantu karena tekanan darah, nadi, napas Pak Har, sudah lemah. Amih pun membawa Pak Har pulang.

Dan sore ini, saat lembayung kuning menghias langit Barat, tiba-tiba, Pak Har bergumam. Gumam yang lumayan keras keluar dari mulut orang yang sudah tidak berdaya, tapi tidak jelas apa maksudnya.

“Nah, apa lagi katanya?” kata Amih.

Ajir mendekati Pak Har. Jemarinya mengusap-usap tangan Pak Har yang tinggal kulit yang menempel di tulang-belulang. Ajir mendekatkan telinganya ke mulut Pak Har. Terkejut karena suara Pak Har tiba-tiba lebih kencang dan jelas. “Ita… Nitha… Nita,” katanya.

Tentu saja Amih yang lebih terkejut.

“Ada hubungan apa lagi antara Ayah kalian dengan Nita?” kata Amih. Teh Iin menggeleng. Ajir mengangkat bahunya tanda dia pun tidak tahu.

“Baiknya saya berduaan dengan Ayah, siapa yang tahu Ayah mengatakan lagi yang lebih jelas,” kata Ajir sambil menggenggam tangan Amih, memohon.

Amih tidak mengatakan apapun. Dia keluar kamar diikuti oleh Teh Iin.

***

 

Kejadian seperti itu entah berapa kali terjadi sejak Pak Har sakit. Setiap penyakitnya kambuh, parah, bahkan sampai koma, kemudian tiba-tiba berbisik. Selalu saat ada Ajir dan Amih, Pak Har berbisik seperti itu. Karenanya Amih tahu betul, hanya kepada Ajir, anak bungsunya, Pak Har berbisik dan kemudian mengatakan sesuatu yang lebih jelas saat berduaan.

Ya, memang seperti itu kejadiannya. Setiap Amih, Teh Iin, atau siapapun yang sedang menunggui Pak Har, keluar kamar setelah Pak Har berbisik, Pak Har bangun seperti yang sehat. Benar-benar seperti orang yang sehat. Matanya menatap Ajir dan sedikit senyum di ujung bibirnya. Lalu Pak Har mengatakan apa yang dirahasiakannya. Setelah itu Pak Har tidur lagi. Koma lagi. Kejadian itu, Pak Har bangun lagi dan menceritakan apa yang dirahasiakannya, juga dirahasiakan oleh Ajir. 

Kejadian pertama terjadi sepuluh tahun lalu, sesaat setelah Pak Har pensiun. Rahasia yang dibisikkannya: Umi Tati. Saat itu Amih sempat marah dan mengurung diri beberapa hari. Karena ternyata Umi Tati adalah istri Pak Har yang kedua, dinikahi secara siri, mempunyai empat orang anak. Tinggal di Jakarta, di sebuah rumah mewah di kawasan Kemang.

Bisikan Pak Har yang kedua: Bunda Hera. Setelah Ajir mendatangi rumahnya di sebuah villa di Puncak, ternyata Bunda Hera adalah istri Pak Har yang ketiga, dinikahi secara siri juga. Bunda Hera mempunyai tiga orang anak. Saat Ajir datang, Bunda Hera menerimanya dengan senang. Beliau menanyakan kesehatan Pak Har. Katanya beliau sudah ingin menengok Pak Har tapi selalu dilarang oleh Pak Har sendiri.

“Makanya saya datang ke sini, saya menjemput Bunda untuk menengok Ayah,” kata Ajir tanpa canggung.

Bisikan Pak Har yang ketiga: Mamah Diah. Ajir sempat tidak ingin tahu siapa Mamah Diah. Tapi Pak Har memintanya untuk mengunjungi Mamah Diah yang tinggal di Cinangka, kampung halaman Pak Har di Sumedang, Jawa Barat. Mamah Diah ternyata istri Pak Har yang keempat, dinikahi secara siri, mempunyai tiga orang anak.

Perkiraan Ajir, sama dengan yang dipikirkan Amih, tidak akan ada lagi yang dibisikkan Pak Har.

“Istri ayahmu kan sudah empat, ada hubungan apa lagi dengan Uwakmu?” tanya Amih ketika Ajir keluar dari kamar Pak Har.

“Saya juga tidak tahu, Mih,” kata Ajir pendek, seperti yang tidak ingin memperpanjang pembicaraan.

Nita, Wak Nita kalau Ajir memanggilnya, bukanlah siapa-siapa bagi keluarga Pak Har. Wak Nita masih saudara jauh Amih. Sewaktu Ajir kecil, beberapa kali keluarganya sempat mengunjungi Wak Nita di Purwakarta. Ajir malah sempat tidur beberapa hari waktu liburan sekolah. Ajir akrab dengan Teh Nilam, Aa Adi dan Nonon, anak-anak Wak Nita. Waktu liburan itu pun, saat Ajir kelas 2 SD, Aa Adi yang mengajaknya mengunjungi tempat wisata Bendungan Jatiluhur.

***

 

Sepertinya perlu diceritakan dulu keluarga Ajir. Pak Har itu adalah pensiunan pejabat di pemerintahan. Masa kerjanya termasuk lama karena begitu lulus dari Institut Ilmu Keuangan, lalu bekerja di Departemén Keuangan. Setelah itu Pak Har dipromosikan bekerja ke Kementrian Keuangan, Perpajakan, Bank Indonésia sampai menjadi direktur. Sempat menjadi wakil rakyat karena Pak Har aktif di partey politik juga. 

Mungkin karena jabatannya itulah Pak Har merahasiakan poligaminya. Ya, karena sebelum pensiun dan sakit-sakitan, Amih dan Ajir, juga lima orang kakak Ajir, tidak curiga Pak Har berpoligami. Apalagi istrinya sampai empat orang. Dijumlah dari semua istrinya, Pak Har mempunyai 16 orang anak. Ajir adalah anak keenam, anak bungsu Pak Har dari Amih.

Suatu hari setelah kembali sehat, Pak Har menginginkan semua istri dan anak-anaknya bertemu. Awalnya Amih seperti yang berat menerimanya. Tapi kemudian Amih juga yang menyiapkan pertemuan itu di rumahnya yang luas di kawasan sejuk Dago, Bandung. Ajir yang kemudian menghubungi, membujuk, dan meyakinkan istri-istri Pak Har bahwa pertemuan itu akan berlangsung secara kekeluargaan.

Pak Har duduk di kursi goyang di teras belakang. Kadang tersenyum melihat anak-anak dan cucunya yang puluhan orang jumlahnya. Tapi kadang berkaca-kaca. Ajir sering mencuri pandang kepada Pak Har. Sambil ikut bersenda gurau dengan saudara-saudaranya, Ajir menebak-nebak, apa yang ada di pikiran ayahnya?

Istri-istri Pak Har berbincang akrab sambil mempersiapkan makanan. Amih memotong-motong lontong, membantu menyiapkan nasi di meja makan panjang. Umi Tati membuat jus buah-buahan dibantu oleh anak-anak perempuan. Bunda Hera menata ayam kodok yang tadi dibuatnya di dapur. Mamah Diah membuat lagi adonan zupa-zupa yang kedua kalinya.

Anak-anak Pak Har lainnya yang sudah dewasa dan menikah, membantu memasak lainnya. Ada yang menyiapkan pembakaran ikan, ayam dan steak. Ada yang mengasuh anak-anak kecil berenang. Rumah Amih waktu itu ramai seperti tempat wisata di pinggiran kota.

Tapi meski semuanya sibuk, semuanya mencoba untuk tidak diam, Ajir merasakan adanya jarak di antara mereka. Saling mencurigai sepertinya tidak bisa disembunyikan dalam keriuhan dan kegembiraan anak-anak. Seperti minyak dengan air. Mungkin karena semuanya baru berkenalan setelah anak-anak dewasa, bahkan ada yang sudah menghadiahinya cucu.

Menurut Ajir, jarak dan saling curiga itu muaranya hanya satu: harta warisan. Pak Har itu sudah berkali-kali sakit parah, sampai koma berhari-hari, kadang semuanya sudah pasrah bila kemudian Pak Har meninggal. Sementara kekayaan Pak Har semakin tidak bisa dihitung. Sebelum diketahui punya tiga istri lainnya, Ajir hanya tahu ayahnya mempunyai dua rumah, sebuah villa di Lembang, dua buah pom bensin, tiga rumah makan, beberapa perusahaan rekanan pemerintah, sejumlah deposito, sejumlah saham, dan usaha lainnya yang kemudian sebagian dikelola oleh kakak-kakak Ajir. 

Tapi setelah pensiun, setelah tiga istri lainnya diketahui, sejumlah kekayaan Pa Har juga diketahui oleh Ajir. Tiga puluh hektar tanah berupa kebun, sawah, kolam, di pinggiran kota Sumedang. Sertifikat dari tanah-tanah itu memang bukan atas nama Pak Har. Mang Komar, Kang Udin dan Pak Sulé, orang-orang kepercayaan Pak Har di kampung itu, namanya tercantum di sertifikat-sertifikat itu. Perjanjiannya, selain mereka boleh menggarap tanah-tanah itu, mereka pun akan dikasih bagian bila nanti sertifikat-sertifikat tanah itu diopernama.

Kekayaan lainnya adalah kamar kost-kostan di Jatinangor, Sumedang, yang lumayan besar dan mewah. Ada seratus lima kamar dari beberapa rumah. Ada juga beberapa saham di pertambangan di Sumatera, ratusan hektar perkebunan sawit, ribuan hektar perkebunan di Kalimantan, dan banyak lagi.

Semua istri Pak Har tahu kekayaan Pak Har, termasuk yang dikelola oleh mereka sendiri. Umi Tati, Bunda Hera, Mamah Diah, semuanya mempunyai usaha masing-masing. Semuanya merahasiakan kekayaannya masing-masing. Ya, semuanya saling curiga, bagaimana nanti bagi warisnya? Apakah semua kekayaan Pak Har harus disatukan lalu dibagi rata? Atau dibagikan sesuai aturan agama? Atau sepunyanya masing-masing?

Amih pernah mengajak Ajir untuk membahas hal itu. Tapi Ajir sendiri menyarankan untuk jangan dulu membahas warisan, karena Pak Har sendiri kan masih ada. Atau kalaupun mendesak untuk dibicarakan, Ajir menyarankan agar Amih membicarakannya dengan Teh Iin, A Tardi, atau kakak-kakak Ajir lainnya.

Alasan Amih mengajak bicara Ajir, karena meski dia anak bungsu Amih, Ajirlah yang sudah biasa berkunjung ke rumah istri-istri Pak Har lainnya. Setelah berkenalan dengan Umi Tati, Ajir sering mengunjunginya, kadang menginap. Berbincang akrab dengan Mbak Aan, Bang Rifki, bermain dengan Doni, menonton film bersama Dian, anak-anak Umi Tati yang artinya saudara-saudara seayah Ajir.

Begitu juga setelah berkenalan dengan Bunda Hera dan Mamah Diah sekeluarga. Bila Ajir berkunjung, setelah pergi makan-makan sekeluarga, Bunda Hera kadang membelikan pakaian, sepatu, bahkan pernah menyimpan amplop berisi uang sepuluh juta rupiah di tas yang dibawa Ajir. Itu semua dilakukan Bunda Hera karena setiap memberikan sesuatu, Ajir selalu menolak. Mamah Diah malah pernah terang-terangan meminta nomor rekening Ajir. Di waktu lain menawari Ajir untuk mengganti mobilnya dengan yang katanya lebih layak.

Lihat selengkapnya