BISU

Yosep Rustandi
Chapter #3

ULAT

Ajir sedang di kantor ketika kabar itu datang. Pak Har, ayahnya, sakit. Teh Iin, kakak tertua Ajir, yang menelepon.

“Kamu harus datang!” kata Teh Iin seperti yang penting harus mengatakan kalimat perintah seperti itu. “Kalau mau bareng, sekarang ditunggu di sini.”

“Saya nyusul aja, Teh. Masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.”

“Tapi harus datang, ya?”

“Iya Teh, insyaallah.”

“Tidak bisa seperti itu!”

“Tapi....”

“Nanti Teteh jemput!”

Tapi Ajir kemudian menghilang. Tidak ada di tempat kostnya. Tidak ada di tempat kerjanya.

“Dari siang pergi, Bu. Katanya mau mengambil order cetakan, tapi entah dari perusahaan mana,” kata Nina, sekretaris percetakan Jaman Baru tempat Ajir bekerja.

“Tidak apa. Titip pesan saja, hari ini juga harus pulang!” kata Teh Iin.

“Oh, iya nanti disampaikan, Bu.”

“Ayahnya sakit! Ingin ditengok oleh Ajir.”

“Oh, iya Bu, nanti disampaikan.”

Teh Iin pergi dengan perasaan kesal. Dia merasa perselisihan antara ayahnya dan adiknya sudah keterlaluan. Ayahnya keras dengan egonya sebagai orang tua. Adiknya lebih keras lagi, merasa hidup lebih benar.

Tadinya Teh Iin tidak mengira perselisihan itu begitu kerasnya. Tapi ternyata, bahkan saat ayahnya sakit pun adiknya tidak mau menengok. Padahal di antara 6 anak Pak Har, hanya Teh Iin dan Ajir yang tinggal di Bandung, masih satu kota dengan Pak Har dan Amih. Sementara saudara lainnya tinggal berjauhan. Linda dan Rudi tinggal dan bekerja di Jakarta. Tardi tinggal di Pontianak. Dan Nina mengikuti suaminya yang bekerja di Riau.

Ajir sendiri sebenarnya bukan mengambil order cetakan. Tapi memang sengaja dia menghindari Teh Iin. Meski kali ini, perasaan gelisah itu tidak bisa lagi disembunyikannya. Sudah sering dia mendapat pesan yang menyuruhnya untuk pulang. Kakak-kakaknya, bahkan Amih sendiri, berkali-kali pernah menghubunginya, mengajaknya untuk pulang.

“Ajir sedang menikmati hidup seperti ini, Mih,” katanya beralasan, dulu.

“Ya, boleh saja kamu punya prinsip seperti itu. Tapi pulanglah, Amih ingin ditengok. Bapakmu juga ingin bertemu.”

Ajir kadang berpikir untuk pulang. Dia rindu dengan Amih, dengan masakannya yang enak, makan sambil membincangkan sesuatu yang ringan. Tapi kemudian terlupakan lagi. Pulang berarti bersentuhan lagi dengan rejeki yang dihasilkan ayahnya. Sementara Ajir bersikeras untuk menghindari segala sesuatu yang berhubungan dengan rejeki yang dihasilkan Pak Har. Meski itu sepiring nasi yang dimasak Amih.

Besoknya Ajir ditegur Nina begitu datang ke percetakan.

“Kang Ajir, sudah pulangkah?” tanya Nina yang sengaja menghampiri Ajir di meja kerjanya.

“Memangnya kenapa?” Ajir bertanya, merasa tidak enak ditanya seperti itu.

“Tidak baik mengabaikan orang tua. Apalagi sedang sakit.”

“Sok tahu!”

“Kemarin kakak Kang Ajir ke sini. Pesannya itu, cepatlah pulang!”

Ajir membereskan buku-buku contoh cetakan. Lalu dia beranjak dari kursinya, seperti yang sengaja menghindari Nina. Tapi Nina mengikutinya.

“Kang, saya sudah tidak punya ayah,” kata Nina kemudian sambil mencegat langkah Ajir.

Ajir menghentikan langkahnya. Menatap Nina seperti yang protes.

“Penyesalan bisa tidak berujung bila sudah tiada,” kata Nina. Lalu kembali ke meja kerjanya.

Ajir berdiri mematung beberapa saat.

Siangnya Ajir pergi dari percetakan. Tapi tidak untuk menemui rekanan perusahaannya, mengambil orderan cetakan, atau sekedar menawarkan jasa ke perusahaan baru. Begitulah biasanya kerjanya. Pagi sampai pukul sepuluhan ada di kantor, setelah itu berkeliling sampai sore. Riki, bossnya di percetakan kecil itu, tidak pernah mempermasalahkan cara kerja Ajir seperti itu. Ya, karena orderan yang didapat Ajir selalu melebihi target seorang marketing.

Siang itu Ajir menemui Rengganis. Baru bakda duhur Rengganis mau bertemu Ajir setelah dari kemarin Ajir menghubunginya melalui pesan Whatsapp. Siang itu masjid Universitas Bandung Permai ramai dengan mahasiswa yang sholat duhur. Banyak yang keluar dari masjid, banyak juga yang baru masuk. Rengganis, seperti biasa, mau menemui Ajir, dengan ditemani Herlina, sahabatnya.

“Saya sudah bilang, kita jangan dulu sering bertemu, kecuali...,” kata Rengganis sambil melihat ke halaman kampus.

“Ayah saya sakit,” kata Ajir memotong.

Rengganis memandang Ajir sebentar, tapi kemudian memalingkan lagi pandangannya.

“Sejak dua hari yang lalu, kakak-kakak saya menghubungi, tapi saya tidak pernah mengangkat teleponnya, tidak membuka pesannya. Teh Iin malah sempat datang ke....”

“Dan kamu belum menemui ayahmu?”

“Saya tidak bisa.”

“Beliau itu ayahmu, apapun yang dilakukannya tetap saja ayahmu.”

“Tapi dia yang sudah menjerumuskan saya dengan rejeki-rejeki haramnya. Sejak saya kecil, sejak saya lahir mungkin.”

“Tidak dosa bagimu, karena kamu tidak tahu.”

“Tapi... tidak tumbuh daging dari makanan haram, kecuali neraka lebih utama untuknya.[1]”

“Tapi...  Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.[2]”

Ajir memandang ke halaman parkir yang luas membentang di depannya. Mobil-mobil terparkir kurang beraturan, meski ada empat orang juru parkir yang setiap hari mengaturnya. Ya, itu semua karena selalu saja ada mahasiswa yang tidak mau diatur saat parkir mobil. Dirinya pun dulu pernah merasakan begitu hebat dan membanggakannya tidak mau diatur juru parkir saat memarkirkan mobil.

Di tangga yang memanjang antara tempat parkir dan gedung kampus yang berdiri megah dengan dua belas tingkat, banyak mahasiswa yang duduk-duduk. Mereka bercanda, berbincang serius entah tentang apa (mungkin tentang politik mungkin tentang baju apa yang akan dipakai malam minggu besok). Tanpa mereka merasa bersalah telah memakai tangga yang tadinya diperuntukkan bagi yang berjalan kaki.

Dan para mahasiswa yang setiap hari, dari pagi sampai sore, sering duduk-duduk di tangga itu, perhatian semuanya akan terpusat bila ada mobil yang istimewa masuk ke dalam lahan parkir. Mobil BMW X6 milik Ajir adalah salah satu kendaraan yang dianggap istimewa itu. Dan begitu Ajir keluar mobil, semua mata, terutama para mahasiswinya, tidak ada yang berkedip sampai Ajir menentukan pilihan apakah akan langsung masuk ke gedung kampus atau ikut duduk-duduk bila ada teman seangkatannya sedang nongkrong di situ.

Lihat selengkapnya