BISU

Yosep Rustandi
Chapter #4

BUKU

Senja yang muram. Gerimis membekukan daun-daun jambu. Angin entah ke mana. Kepak burung yang menembus gerimis mempertegas sunyi. Pak Har memejamkan matanya. Dia berusaha meyakini, senja memang muram. Sunyi. Bukan di dalam dirinya. Bukan di dalam hatinya. Meski ada perasaan sedih yang hampir-hampir tidak sanggup dibendungnya. Perasaan yang sempat membuat matanya perih, mendorong sebutir air menyusuri pipinya.

Pak Har duduk di kursi balkon. Balkon itu merupakan teras yang luas di depan kamarnya di loteng rumahnya. Dari sini pemandangan selalu indah. Biasanya. Ya, biasanya. Halaman belakang yang luas tertata rapi. Amih memang seniman yang sempurna dalam menata bunga-bunga dan tanaman hias lainnya. Bunga bakung berbaris sepanjang pinggir seperti tentara yang menjaga bunga dahlia yang bermahkota dengan warna-warni kelopaknya. Mang Asip yang menjadi asistennya tidak pernah membiarkan pepohonan terlalu rimbun, bebungaan kering, kolam kecil di ujung taman kekurangan atau kelebihan air.

Tapi kali ini, halaman yang tertata rapi itu tidak terlihat indahnya. Karena di halaman itu tidak ada jejak mobil GLX 1997 milik Ajir. Dua hari yang lalu halaman itu penuh dengan mobil. CRV milik Iin, SUV milik Linda, Fortuner milik Nina, Inova milik Tardi, Pajero milik Rudi. Mobil-mobil murah yang biasa dipakai sehari-hari. Ya, karena di rumahnya masing-masing mereka mempunyai mobil-mobil yang lebih mewah. Mobil-mobil yang harganya milyaran rupiah. Tapi Pak Har selalu melarang anak-anaknya memakai mobil mewah itu bila berkunjung ke rumahnya.

Mobil-mobil itu adalah suatu pertanda. Tanda bahwa anak-anaknya datang. Datang dengan keluarganya masing-masing. Datang dari jauhnya. Ada yang dari Jakarta, Riau, dan Pontianak. Mereka ramai memenuhi ruang tengah. Saling bercanda. Saling cerita. Lalu pindah ke ruangan loteng, melihat pemandangan alam. Lalu pindah ke taman halaman belakang. Cucu-cucunya memancing di kolam kecil.

Ramai. Meriah. Rumah besar itu seperti sedang berpesta. Ya, sejak dua hari yang lalu. Waktu hari ulang tahun Pak Har. Anak-anaknya, menantunya, cucu-cucunya, membawa kado. Iin dan Nina memberi perhiasan. Linda memberi tiket berlibur keliling Eropa, untuk berdua, Pak Har dan Amih. Tardi memberi video perjalanan cinta Pak Har dan Amih. Rudi memberi sebuah baju batik Kalimantan yang katanya digambar olehnya beserta istri dan anak-anaknya di tempat kursus membatik. Cucu-cucunya, ada yang memberi buku, bunga yang katanya sengaja ditanam dua bulan yang lalu, dan entah apa lagi.

Amih berdoa. Lalu Pak Har meniup lilin enam buah di sebelah kiri dan tujuh buah di sebelah kanan, pertanda enam puluh tujuh tahun. Lalu semuanya memeluk dan mencium Pak Har. Lalu kue dipotong, semuanya makan belepotan. Lalu ada yang menyanyi, baca puisi, bersorak, main gitar, main piano. Meriah.

Tapi hati Pak Har sepi. Senyap. Lebih senyap dari senja setelah semua anak-anaknya pulang. Gerimis membekukan daun-daun. Tidak ada suara apapun yang terdengar. Sengaja. Dulu ketika membeli rumah ini, sengaja memilih yang paling ujung, yang berdekatan dengan hutan. Pak Har dan Amih sama-sama menyukai tempat sepi. Dari sini, tidak terdengar suara kendaraan.

Tapi sunyi kali ini tidak sebanding. Tidak sebanding dengan hati Pak Har. Hati Pak Har lebih sunyi, lebih senyap. Ya, karena ulang tahun kali ini Ajir tidak datang. Anak bungsunya itu tidak berkabar apapun. Tidak ada kartu ucapan selamat. Tidak ada surat. Tidak ada telepon. Tidak ada email. Tidak ada SMS. Tidak ada whatsapp. Tidak ada pesan apapun.

Mengapa Ajir tidak datang kali ini? Biasanya, setiap tahun menjelang ulang tahunnya, Ajir yang selalu merancangnya. Bila acaranya di rumah, mulai dari dekorasi sampai acara, dia menyiapkannya dengan rapi. Mang Asip dan pembantu lainnya pun disertakan ikut memeriahkannya. Mang Asip dan pembantu lainnya pernah dilatih Ajir untuk bersandiwara yang hasilnya Pak Har dan Amih, anak-cucunya, tidak berhenti tertawa. Dan sehabis acara perayaan ulang tahun, Ajir selalu menyempatkan membawa jalan-jalan keponakan-keponakannya ke sekeliling perumahan atau ke pedesaan dengan motor atau mobilnya.

Tapi kali ini tidak ada kemeriahan itu. Sudah berbulan-bulan Ajir tidak pulang. Pak Har sebenarnya sudah membayangkan, sekali waktu, acara ulang tahunnya yang sejak dulu selalu dirayakannya, tidak akan dihadiri Ajir. Ya, sejak perselisihannya memuncak, bayangan itu semakin nyata.

“Bungsu hanya ingin tahu, Yah, dari mana saja Ayah mempunyai kekayaan yang begitu melimpah?” tanya Ajir awalnya.

Pak Har menatapnya tidak mengerti. Saat itu Pak Har baru pulang setelah berkeliling kampanye bersama Partai Rantai, partai tempatnya bernaung dan berkiprah setelah pensiun.

“Maksudnya?” tanya Pak Har tidak mengerti.

“Bungsu khawatir akhir-akhir ini. Ayah sangat kaya. Bungsu pun dikasih BMW X6 yang sangat mahal untuk ukuran remaja yang baru masuk kuliah. Ayah pun punya rumah makan, pom bensin, saham di perusahaan-perusahaan besar, deposito, dan banyak lagi. Apa Ayah tidak mendapatkannya dari korupsi?”

Pak Har tentu saja terkejut mendengarnya. Belum pernah ada anak-anaknya yang bertanya seperti itu. Ajir sendiri tidak pernah bertanya seperti itu. Pak Har tidak pernah membayangkan anak itu akan seberani seperti itu.

“Bila memang benar kekayaan kita kebanyakan didapatkan dari korupsi, tidak apa, Yah. Kita hanya harus bertobat, kita harus menghitung berapa yang didapatkan dari gaji murni, berapa...!”

“Su! Apa yang kamu katakan?”

“Bungsu baru tahu, ternyata dana proyek dari pemerintah dipotong sampai 50%. Kenapa mesti dipotong, Yah? Buat siapa yang 50% lagi?” tanya Ajir semakin keras. “Katanya, hampir semua proyek di departemen pemerintah ada potongan sampai 50%. Pengadaan barang ini-itu dimark-up besar-besaran. Sogok sana sogok situ miliaran rupiah. Itu namanya korupsi, Yah! Negara dirugikan! Rakyat dirugikan! Pantas saja jembatan cepat ambruk, jalan cepat rusak, pembangunan tidak jalan, undang-undang berpihak, program pemberdayaan sampai ke akar rumput alakadarnya.”

“Kamu mabuk, Su?”

“Ya Yah, Bungsu mabuk kesadaran. Kesadaran bahwa saat melihat kekayaan kita yang melimpah, Bungsu jadi khawatir. Bungsu takut Ayah benar-benar memberi makan keluarga dengan rejeki haram. Di departemen yang Ayah pimpin, apa sama proyek-proyek pun harus dipotong sampai 50%. Buat siapa yang 50% lagi? Atau Ayah sendiri kebagian?”

“Ajir!” Pak Har berteriak. Meneriakkan nama anaknya yang selama ini bukan nama panggilannya.

“Ayah kan mantan pejabat, masa tidak tahu apa-apa? Apa Ayah pun terlibat dengan jual-beli jabatan? Atau gratifikasi untuk proyek atau keputusan tertentu?”

“Kamu keterlaluan! Kamu makan, kuliah, pergi berlibur ke manapun yang kamu mau, motor, mobil, pesta-pesta; itu dari Ayah! Teganya kamu mengatakan itu sekarang!” 

“Hanya ingin tahu, Yah. Bungsu hanya ingin tahu!”

Tapi Pak Har sudah tidak mau lagi mendengarnya. Pak Har masuk ke kamarnya dengan membanting pintu kamar. Ajir mematung duduk di ruang tengah. Amih yang sejak tadi ikut mendengarkan percakapan aneh itu dari ruangan sebelah, tidak berani mendekati Ajir. Ya, karena Amih pun tidak mengerti apa yang dikatakan anak bungsunya itu.

Lain waktu saat Pak Har membaca koran di teras depan, Ajir menghampirinya dan duduk di kursi rotan. Di meja, teko kecil dari kaca masih penuh dengan air teh hijau. Bolu karamel gula merah, kue serabi bertabur oncom, dan ubi oven, masih memenuhi piring.

“Yah, bila betul kebanyakan kekayaan kita didapatkan dari korupsi, Bungsu memberikan lagi BMW X6 hadiah dari Ayah itu,” kata Ajir sambil menyimpan kunci di atas meja.

Pak Har menurunkan korannya, melirik anaknya yang menunduk, wajahnya seperti musim hujan tanpa matahari.

“Maksudmu apa, Su?” Pak Har bertanya pelan, mencoba untuk tenang.

“Bungsu bersedih, Yah. Semakin Bungsu berpikir dan merasa-rasakan, sepertinya kita tidak mungkin mempunyai kekayaan sebegini banyaknya bila Ayah tidak korupsi. Korupsi itu mencuri, Yah.”

“Ayah tidak mencuri!”

“Tapi sekali Ayah tanda tangan memberi ijin pengelolaan seratus hektar hutan, seribu hektak habis oleh ilegal loging, jutaan rakyat yang dimiskinkan. Ayah merasa enak bisa berpoya-poya, bersenang-senang, bermewah-mewah, dengan miliaran rupiah sekali tanda tangan. Coba Ayah belajar berimajinasi, di negara kita yang katanya subur makmur ini, masih banyak orang yang miskin yang hidup di jalanan atau di gubuk-gubuk tak layak, makan tak layak yang tidak membuat perutnya kenyang.”

“Ayah tidak mengerti yang kamu katakan, Su!”

“Ayah mengerti! Hanya Ayah tidak mengerti, kekayaan dari korupsi itu bukannya membuat anak-anak Ayah senang dan bahagia! Tapi Ayah sudah menjerumuskannya ke api neraka!”

Pak Har terkejut. Terhenyak. Tidak sedikit pun terbayangkan ada anaknya yang berani seperti itu. Iin, Linda, Nina, Tardi, Rudi, semuanya bergembira, mengucapkan terima kasih berulang kali waktu dihadiahi mobil-mobil mewah, perhiasan, dimodali miliaran rupiah untuk usaha-usahanya sebagai penunjang pekerjaan.

“Bungsu berikan lagi mobil mewah hadiah dari Ayah. Bungsu kecewa dan sakit hati. Bungsu pamit. Bungsu tidak akan pulang sepanjang Ayah tidak mengaku korupsi dan bertobat. Bungsu sebenarnya bisa membimbing Ayah untuk bertobat. Tapi Bungsu yakin, Ayah tidak mau melakukannya kali ini.”

Perpisahan yang menyakitkan. Perpisahan yang tanpa diawali nada suara tinggi, berbantah-bantahan, saling menyalahkan. Tapi lebih menyakitkan dari teriris sembilu. Gerimis yang turun sejak subuh, matahari yang bersembunyi, pepohonan yang mematung, burung-burung yang terhalang cuaca; semakin terasa muramnya.

Sebegitu lama Pak Har menatap kosong pemandangan di depannya. Ada yang tiba-tiba hilang dari dirinya. Kebanggaannya, kepercayadiriannya, harga dirinya. Banyak, tentu saja banyak pihak, yang menentang, mencoba membuka, menelanjangi, apa yang sudah dilakukannya. Musuh-musuh politiknya, saingan-saingan sepekerjaannya, tidak pernah berhenti ingin menjatuhkannya. Tapi sampai sekarang, setelah pensiun sekalipun, Pak Har tetap tangguh. Semua musuh dan saingannya malah bertumbangan satu demi satu.

Banyak kekuatan, kharisma, beking, yang selalu melindung Pak Har. Tapi di depan anak bungsunya, anak bungsunya yang tiba-tiba memprotes begitu keras apa yang pernah dilakukannya; Pak Har seperti terperangkap ke dalam musim gugur yang muram dan sunyi. Makanan dan minuman apapun, rasanya menjadi hambar. Jahe merah madu yang sejak muda menyegarkan badannya, kali ini tanpa terasa apapun. Bolu karamel gula merah yang harus selalu ada bila Pak Har tidak kerja ke luar kota atau ke luar negeri, kali ini serasa terigu tanpa bumbu.

“Bungsu memang sudah berubah, sejak berbulan-bulan lalu,” kata Amih yang suatu sore menemaninya duduk-duduk di teras depan.

“Berubah bagaimana?” Pak Har masih tidak mengerti.

“Tidak pernah meminta uang lagi. Tidak pernah pergi-pergi ke pesta lagi. Teman-temannya juga berganti.”

“Tapi mengapa sikapnya jadi seperti itu?”

“Dari kamarnya sering terdengar orang mengaji. Rupanya dia belajar mengaji, mencoba menghapal Al-Qur’an.”

Pak Har menatap tajam Amih seperti melihat alien yang baru turun dari langit. Bertahun-tahun, puluhan tahun, sepanjang berumahtangga dengan Amih, tidak terlintas sedikit pun kata belajar mengaji yang biasa disebut iqro. Bukan hanya buat dirinya, buat anak-anaknya pun tidak. Dirinya sendiri, pernah belajar mengaji waktu kecil. Tapi tentu sudah terlupakan, sudah tertimbun berbagai persoalan dan persaingan hidup. Anak-anaknya, termasuk Ajir yang dengan sayangnya dia panggil Bungsu, juga pernah belajar mengaji di masjid kompleks. Hanya sekedar pergaulan dengan anak-anak lainnya. Kalau kemudian mereka bosan, mundur seorang demi seorang, tidak ada paksaan darinya juga dari Amih.

“Lihat saja di kamarnya, banyak yang berubah.”

Pak Har membuka kamar anak bungsunya perlahan. Segera tercium wangi minyak entah apa saat daun pintu terbuka sedikit. Pak Har terpana di hadapan tempat tidur, meja baca, dan rak buku. Seolah disulap oleh ilusionis kenamaan, kamar itu berubah di dalam kepala Pak Har. Tiga atau empat tahun lalu ketika dia menyempatkan diri masuk ke kamar itu, tempat tidur acak-acakan, selimut yang tidak pernah dilipat, bantal tidak saja di atas kasur tapi juga di karpet. Majalah, makanan dan minuman berserakan di meja dan di karpet, televisi yang masih menyala, dan poster-poster mobil balap dan mobil mewah memenuhi tembok.

Kali ini tembok itu sudah bersih. Sebuah kaligrafi begitu berwibawa di atas foto keluarga. Tempat tidur yang rapi, selimut terlipat, di atasnya sejadah juga terlipat. Di meja baca ada beberapa mushaf Al-Qur’an. Buku-buku agama berderet. Cara Cepat Belajar Iqra, Muhammad Sang Rasul, Mukjizat Al-Qur’an, Pengalaman Luar Biasa Menghapal Al-Qur’an, dan sederet lagi buku lainnya.

“Apakah kita harus gembira atau bagaimana melihat perubahan ini, Yah?” tanya Amih.

Pak Har semakin merasakan senyap. Musim hujan di dalam hatinya semakin membuat apapun dan siapapun kedinginan. Semakin membuat matahari menggigil di balik awan. Bebungaan tidak jadi bermekaran karena hujan tidak kunjung berhenti.

“Siapa yang mempengaruhinya?” Justru itu yang keluar dari mulut Pak Har.

Lihat selengkapnya