Ajir tak pernah mengira perjalanan hidupnya akan sampai pada titik ini. Titik dimana perasaannya hancur lebur, dihempaskan, ditinggikan, disanjung, dibuntang-banting, disakiti, dibahagiakan. Barangkali setiap manusia akan merasakan, akan sampai, pada titik ini pada akhirnya. Dan yang menentukan, bagaimana respon setiap individu pada titik ini.
Ya, titik itu adalah titik cinta. Titik yang tidak bisa dibuat-buat. Titik yang tidak bisa dihindari. Seperti alam yang punya aturannya tersendiri. Semaju dan sehebat apapun dunia kesehatan, tidak pernah bisa mengatasi waktu. Manusia paling sehat, paling disiplin, akhirnya menyerah kepada waktu.
Seperti musim hujan dan musim kemarau yang datang silih berganti. Siklus alam yang seperti sederhana itu tidak bisa dibendung atau diatur-atur oleh kekuatan manusia. Tidak ada yang sanggup menentang kehendak alam. Ya, karena kehendak alam adalah kehendak Tuhan yang Mahaesa.
Cinta adalah kehendak alam itu. Ajir tidak pernah bisa mengurut peristiwa-peristiwa kapan mulainya dia begitu mencintai Rengganis. Rindu, sakit, meratap, merintih, dia merasakannya. Kehendak alam luar biasa yang baru pertama kali dia rasakan. Ya, meski telah puluhan gadis dia pacari, puluhan gadis dia ajak berpesta, tapi perasaan cinta yang sesungguhnya baru kali ini dirasakannya.
Setiap rindu datang, Ajir hanya bisa gelisah, meratap dalam kebisuan. Tidak ada kata-kata yang sanggup dikatakannya. Ajir memang tidak biasa mengolah kata-kata. Tapi kalaupun seorang pujangga, kata-kata tidak akan sanggup mewakili perasaannya.
Biasanya bila sedikit saja perasaan seperti itu singgah di hatinya, Ajir dengan gampang mengajak pesta atau memacari gadis incarannya yang memberi sinyal rasa itu. Barangkali itu sebabnya perasaan ajaib itu kemudian padam dengan sendirinya. Sementara Rengganis adalah gadis yang lain, gadis yang unik, gadis yang hanya satu-satunya, yang pernah ditemui Ajir. Mungkin karena itu perasaannya semakin membesar, menggelembung dan akhirnya menguasai sekujur tubuhnya, sebesar jiwanya, karena Rengganis tidak gampang ditaklukkan. Rengganis adalah kijang liar yang tidak bisa ditebak bakal lari sembunyi di mana bakal menebar pesona di taman yang mana.
Ajir pernah menunggu Rengganis berjam-jam di halaman kampus. Seandainya teman-temannya tahu apa yang dilakukan Ajir, pasti menertawakan atau mengejeknya dengan gurauan-gurauan lucu. Seandainya Rengganis tahu, baru kali itu Ajir melakukannya untuk seorang gadis, entah bagaimana perasaan gadis bergamis dan berkerudung itu. Tapi teman-teman Ajir tidak mengetahuinya. Tapi Rengganis tidak mengetahuinya.
Maka ketika Rengganis keluar dari pintu gedung perkuliahan, Ajir segera menghampirinya dan mengucapkan salam, Rengganis malah tidak senang.
“Mengapa datang ke sini?” tanya Rengganis.
“Aku kangen.”
Rengganis memalingkan wajahnya. Seandainya Ajir tahu bagaimana bersemu merahnya wajah Rengganis.
“Semalam aku tak bisa tidur. Aku inget kamu terus,” kata Ajir.
“Tidak boleh seperti itu!”
“Kenapa? Rindu kan ciptaan Tuhan yang Mahacinta.”
“Kita bukan muhrim! Tidak bisa berbincang seperti itu berdua! Maaf, Anis harus cepat sampai ke tempat kost. Ada sesuatu yang harus dikerjakan. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh.”
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakaatuh.”
Ajir terpana menatap punggung gadis yang ditunggunya dua jam lebih itu. Setelah ingat apa yang diinginkannya, Ajir mengejar kembali Rengganis.
“Anis, Rengganis, tunggu...!”
Rengganis berhenti, tapi satu meter sebelum Ajir menjajarinya, dia sudah bicara lagi. “Sudah dibilang, kita tidak bisa seperti ini. Kita bukan muhrim! Kita tidak bisa berbincang berdua seperti ini!” katanya.
“Tapi aku kangen. Aku mencintaimu. Aku ingin bicara denganmu.”
“Bila ingin bicara denganku, besok sore, bakda sholat ashar, kita bertemu di teras masjid.”
Rengganis kemudian berlalu dengan langkah dipercepat.
Ajir menarik napas panjang. Dia tidak mengerti dengan perasaannya. Tapi juga tidak mengerti dengan Rengganis. Gadis yang aneh. Gadis yang unik. Gadis yang ajaibnya membuatnya jatuh cinta. Jatuh cinta yang sangat dan tidak bisa untuk diceritakan.
Menunggu ashar di kampus tidaklah mudah bagi Ajir. Dia harus sembunyi agar tidak terlihat teman-temannya. Sejak perasaan ajaib terhadap Rengganis itu ada, dia tidak lagi memakai mobil BMW X6 kebanggaannya. Ya, bagaimana mungkin bisa sembunyi dari teman-temannya bila masih memakai mobil itu?
Pukul 09.02 WIB ketika Ajir naik angkot dari jalan di depan kampus. Pengalaman yang baru beberapa minggu dilakukannya sejak mengejar-ngejar Rengganis. Pengalaman yang dulu dicemooh dan dianggap representasi kelas proletar. Pengalaman yang dulu terpikirkan pun tidak pernah.
Ajir berhenti di depan real estate Alam Sejuk di kawasan sejuk Dago. Lalu berjalan dua blok dari gerbang. Keringat membuat kening dan wajahnya bercahaya. Waktu dia masuk ke sebuah rumah mewah setelah dibukakan seorang pembantu, langsung menuju ke sebuah kamar, dari halaman belakang ada yang memanggilnya.
“Aku di sini...!”
Ajir melihat dari ruangan yang hanya disekat kaca, Rendy, sahabatnya, sedang duduk di meja makan yang menghadap ke taman halaman belakang. Ajir tersenyum, lalu mengubah arah menuju ke halaman belakang.
Halaman belakang itu sebenarnya tidak terlalu luas. Tembok setinggi dua meter membatasi sekelilingnya. Hanya saja taman di rumah Rendy ini menariknya dengan sebuah kolam renang dan tempat berlatih golf.
Ketika Ajir duduk di depannya, Rendy sedang mengoles-oles roti tawar dengan selai kacang. Mulutnya tidak berhenti mengunyah, mungkin tadi sudah menghabiskan selembar roti. Wajahnya masih terlihat basah, sepertinya belum lama mencuci wajah.
“Dari mana, pagi-pagi begini sudah keringetan?” tanyan Rendy.
“Sekarang sudah hampir pukul sepuluh,” kata Ajir.
“Layaknya jam segini baru bangun, sarapan. Apa karena gadis kampungan itu?”
“Sompret!”
Rendy tertawa kecil.
“Bangun tuh harusnya subuh...,” kata Ajir.
“Lalu sholat, berdoa, berzikir, lalu pergi mencari sesuap berlian....”
Ajir tersenyum kecut. Ditariknya wadah roti dan selai, lalu ikut mengolesi dua lembar roti dengan selai strowberry. Tapi matanya melirik jus jeruk dan sebuah buku di sampingnya.
“Mungkin benar apa yang dikatakan teman-teman, kamu itu aneh,” kata Rendy lagi. “Bangun subuh-subuh, kelayapan malam-malam di jalanan, mengasingkan diri berhari-hari tidak keluar malam, menghilang beberapa lama entah ke mana. Tapi aku paham apa yang sedang terjadi denganmu, aku mencoba mengerti.”
“Kamu hebat kalau begitu. Justru aku sendiri tidak mengerti, tidak paham, apa yang sedang terjadi denganku?” Ajir menyimpan roti yang sudah diolesi selai strowberry di atas piring. Lalu mengambil jus jeruk, meminumnya, dan memandang ke arah taman dan kolam renang. “Kadang aku juga ingin lari, ingin terbebas dari perasaan seperti ini. Kadang aku ingin pergi berlibur, berdua saja, kalau tidak dengan Agnes, Raisa, Nuri, Ayu, Putri, Maya, Liana, Dona, dan masih banyak lagi gadis yang mau aku ajak kencan. Menumpahkan gelisah sepuasnya, menyalurkan birahi sekehendaknya, berteriak semaunya. Tapi....”
“Tapi kenapa?”
“Bukan itu yang aku kehendaki saat ini. Ada yang lebih hebat dari itu.”
Rendy mengerutkan keningnya. “Begitu menakjubkan dan uniknya cinta,” katanya.
“Bukan hanya tentang cinta juga. Ada yang lebih hebat juga dari cinta.”
Rendy memandang sahabatnya lekat-lekat.
“Itulah... yang membuat aku tidak mengerti,” kata Ajir.
Rendy tersenyum kecil, unik, tanda senyum keheranannya. “Habiskan saja jus yang itu, aku ambil lagi,” katanya seraya beranjak dari kursinya.
Ajir menarik napas panjang. Keringat yang tadi membasahi kening dan pipinya sudah mengering. Matanya menyusuri keluasan halaman belakang perlahan. Di sebelah kanan, berjajar cemara hias sebagai penahan angin dan panas. Di tengahnya taman dibuat ahlinya. Hamparan rumput dibatasi bakung air warna putih dan merah. Kemboja Jepang berjajar di tembok yang sudah dibuat khusus. Bunganya yang indah, cerah, berwarna-warni, membuat taman ini begitu mewah.
Dua tahun lalu, saat rumah ini baru dibeli ayahnya Rendy, taman belakang ini berupa rerumputan liar dan ilalang. Ya, karena katanya rumah ini beberapa tahun tidak diisi dan diurus. Halamannya ini-ini juga, tanahnya ini-ini juga, airnya ini-ini juga, apa yang membedakan antara dulu dan sekarang? Mengapa sekarang begitu indah dan dulu begitu gersang bahkan menakutkan? Ajir tidak yakin dengan jawabannya. Pikiran dan perasaan seperti apa yang membuat halaman belakang ini ditata dengan tanaman, bebungaan dan kolam renang, dan menjadikannya begitu indah?
Rendy datang dan menyimpan botol besar jus jeruk. Dia duduk di kursinya sambil meminum jus jeruknya.
“Aku pernah membaca sebuah buku tentang seorang sufi cinta. Dia selalu mengajak untuk menebarkan cinta, mencintai alam raya, mencintai Tuhan yang Mahacinta. Bukan saja kepada umat Muslim, tapi kepada seluruh umat manusia apapun agamanya,” kata Rendy. “Baginya, Cinta adalah hak seluruh manusia, apapun sukunya, apapun negaranya, apapun agamanya, apapun keadaannya kaya atau miskin, pejabat atau rakyat biasa, pria atau wanita....”
“Kenapa aku datang ke sini, karena begitulah kamu,” kata Ajir sambil tersenyum. “Teman-teman lainnya hanya bisa bilang aku ini aneh bin ajaib, menertawakan, mengejek, dan mungkin mengira aku ini sudah bukan lagi manusia seperti mereka.”
Rendy tertawa.
“Tapi ini bukan sekedar masalah cinta,” kata Ajir.
“Ya, memang bukan cinta seperti yang kita mengerti selama ini. Tapi cinta yang cinta. Cinta yang membuat logam menjadi emas, tidak mungkin menjadi mungkin, manusia menjadi malaikat.”
“Dari mana tahu hal-hal seperti itu?”
“Sekedar dari buku. Sufi cinta yang aku ceritakan tadi, bila sholat malam-malam sampai airmatanya membeku di jenggotnya yang panjang, kakinya bengkak karena terlalu lama berdiri. Bagaimana bisa melakukan seperti itu bila bukan karena cintanya cinta?”
“Kadang pengetahuanmu memang melebihi perilakumu.”
“Haha...! Aku punya pengetahuan, merasa-rasakan dan mencoba mengerti pengetahun itu, tapi tidak punya gadis kampung yang memicumu menjadi aneh bin ajaib.”
“Sompret!”
“Sufi cinta itu, Jalaluddin Rumi namanya, menemukan keajaibannya saat pulang mengajar naik keledai dicegat oleh seseorang yang melemparkan sebuah pertanyaan. Sebuah pertanyaan itulah yang begitu ajaib mengubah Rumi menjadi pribadi yang meratap, menghiba, menggelorakan Cinta. Cinta dengan C kapital, bukan sekedar cinta seperti cinta yang kamu pikirkan. Cinta dengan C kapital yang kamu rasakan.”
Ajir memandang sahabatnya tidak berkedip. “Kadang aku takjub denganmu,” katanya. “Pertanyaan seperti apa yang bisa membuat seseorang menjadi Peratap Cinta?”
“Itulah yang menjadi pertanyaan banyak penulis biografi, peneliti dan pembaca karya-karyanya. Semuanya hanya bisa menduga dan memperkirakan. Tapi... seperti kesimpulan seorang sufi besar dari tanah Sunda, Haji Hasan Mustapa namanya: Sepanjang mencari timur, barat lagi barat lagi. Sepanjang mencari barat, timur lagi timur lagi. Jadi, mungkin tidak bisa tertemu. Hanya bisa dirasakan, seperti kamu merasakannya sekarang.”
“Mungkin seperti itu.”
“Pertanyaannya sekarang, kenapa kamu tidak datangi saja gadis kampung itu, lalu lamar. Besok, gelarmu sudah berubah, jadi seorang suami.”
Ajir melirik sahabatnya dan tersenyum.
“Karena begitulah keniscayaannya. Figur seperti gadis kampung itu tidak mau apa yang disebut pacaran seperti kita mengartikannya, ada juga apa yang disebut ta’aruf, perkenalan, biasanya difasilitasi oleh gurunya, murabbinya. Taaruf, bisa sekali atau dua kali bertemu, setelah itu ijab kabul. Beres, halal untuk melakukan apapun. Tidak terlarang jalan berdua, berbincang berdua, sekamar berdua, sekasur berdua selama apapun.”
Ajir semakin melebarkan senyumnya. “Kamu tuh aneh, aneh bin ajaib,” katanya.
“Aneh kenapa?”
“Pengetahuanmu itu luas dan dalam, jauh dari pengetahuanku, tentang hal yang seperti itu. Tapi kenapa kamu tidak tergerak untuk melakukannya?”
“Hahaha... Entah belum tergerak, atau mungkin tidak mau masuk ke dunia seperti itu.”
“Kenapa?”
“Sepertinya mengerikan.”
“Sompret!”
Rendy tertawa lagi. “Tapi pertanyaanku belum terjawab, mengapa kamu tidak mendatanginya?” tanyanya.
“Aku sering mendatanginya, memang dia tidak mau berduaan, tidak mau berbincang berdua, apalagi di tempat sepi. Aku pernah mengikutinya, dia marah dan memintaku menjaga jarak. Dia jalan di depan, aku mengikuti dua meter di belakangnya.”
“Hahaha... pacaran yang unik! Aku baru tahu itu.”
“Aku pernah bilang, aku tersiksa mencintainya. Aku menyerah, aku akan menurut apapun maunya, asal sembuhkan aku.”
“Lalu dia bilang apa?”
“Seperti pengetahuanmu, bila aku serius dan betul-betul berniat baik, aku disuruh sholat istikharah, lalu datang ke orang tuanya untuk melamar?”
“Kenapa kamu tidak melakukannya?”
“Aku sangat mau melakukannya. Tapi dia mengajukan dua syarat.”