Saat sedang gelisah, tidak ada yang bisa dikerjakan Ajir. Mengenang Rengganis, entah harus bersyukur bisa jatuh cinta seperti itu atau malah benci karena membuatnya tersiksa? Main ke pertokoan, ke pantai, atau hanya menyusuri sunyinya kota tengah malam, tidak membuat apa yang mengganjal di hatinya mencair. Suatu hari saat melihat deretan buku di pertokoan, Ajir membeli buku harian. Malamnya, entah bagaimana awalnya, dia begitu bersemangat menulis :
Barangkali benar, cinta itu seperti kilat. Hanya selintas, tapi begitu menggetarkan. Senja yang mendung menjadi terang. Pemandangan punya gairah keindahannya tersendiri. Suara gelegar petir yang mengikutinya bisa jadi membuat kita kaget. Takut. Tapi bisa jadi membuat kita sadar sesuatu. Kesadaran yang menyentuh kedalaman hati, juga kedalaman pikiran. Tentu itu adalah sesuatu yang indah juga.
Berkali-kali keyakinan seperti itu hinggap di hatiku. Ya, itu semua engkau sendiri yang menanamnya. Menanam benih-benih cinta yang kemudian tumbuh subur di hati ini. Berdaun rindang, berbatang kuat, dan berbuah lebat. Engkau pasti mempersilakan semua makhluk untuk menikmatinya. Orang-orang yang kepanasan berteduh, anak-anak melempari buahnya sepulang bermain, burung-burung bersarang dan beranak, ulat-ulat dan entah berapa banyak lagi makhluk yang merasakan manfaat pohon cinta seperti itu.
Karenanya sering sengaja aku datang ke kaki gunung hanya untuk melihat pemandangan senja. Matahari sebesar baskom bersiap tenggelam di batas gunung, menyebarkan warna jingga, menghias langit, menempel di dedaunan, berkelap-kelip di riak kecil air kolam yang dipermain angin semilir. Pemandangan seperti itu selalu menyesakkan dada. Engkau yang memberi perasaan terhadap warna jingga yang mungkin tidak akan bisa aku lupakan.
Karena senja seperti itulah untuk pertama kalinya kita bertemu. Aku naik ke tower kampus. Pemandangan terasa menakjubkan. Kota Bandung yang padat terlihat berupa deretan rumah-rumah di mana-mana. Jalanan di beberapa tempat macet. Orang-orang seperti liliput. Disiram warna jingga senja, kota ini seperti sedang bersedih. Lensa kameraku berkali-kali mengabadikan bingkai-bingkai kesedihan itu.
Hatiku hampir saja terbawa rasa sedih bila lensa kamera tidak menangkap bingkai yang lebih menakjubkan. Di bawah tower, di teras masjid, seorang gadis berkerudung sedang membaca buku. Tas gendong bersandar di sampingnya. Rok panjang berwarna biru tua menutup sampai ke mata kakinya. Wajahnya berseri-seri. Sesekali tersenyum. Senyum yang ditahan. Pandangannya dipindahkan dari buku, memandang ke jauhnya. Bibirnya merekah tapi ditahannya. Pasti sedang tersesat di dunia buku, gumamku. Seperti juga aku yang sering tersesat di dunia lensa kamera.
Empat hari kemudian aku selalu gundah. Siapa gadis itu? Dari fakultas apa? Jurusan apa? Siapa teman-temannya? Kenapa selama tiga tahun lebih aku kuliah di sini baru melihatnya sekarang? Setiap aku tanya teman-teman, mereka tidak ada yang mengenal engkau. Setiap malam, menjelang tidur, aku selalu menatap bingkai-bingkai adegan engkau sedang membaca. Setiap detik berlalu, setiap itu juga aku merasa engkau semakin cantik. Rasanya memang tidak tahan untuk tidak mengisengi.
Dan sore itu ada yang bertamu ke rumah, aku merasa takjub waktu melihat engkau duduk di meja belakang ditemani Amih. Katanya engkau yang akan menjadi mentorku dalam menyelesaikan tugas akhir sampai membuat skripsi. Tentu saja aku gembira. Tapi engkau tidak lama. Malah kemudian aku dengar engkau mengundurkan diri. Kenapa?
Aku semakin penasaran. Waktu lensa kameraku menangkap engkau berjalan memasuki kampus suatu pagi, aku segera memberesi tas gendong, turun dari tower, dan mengejar engkau yang sudah naik ke tangga gedung kuliah.
Engkau berhenti di tengah tangga ketika aku memanggil sambil berlari.
“Kenalkan, aku ini paparazzi,” kataku dengan napas yang masih belum teratur. Tapi engkau hanya tersenyum. Uluran tanganku tidak engkau sambut. Aku segera membuka tas gendong, mengeluarkan foto-foto yang mengabadikan engkau sedang membaca, memberikannya. “Aku sedang ngambil matakuliah fotografi yang ketinggalan. Canded kamera, memotret tanpa diketahui modelnya. Tapi aku perlu data modelnya.”
Engkau masih mematung, melihat foto-foto sendiri. Lalu memberikan lagi foto-foto itu.
“Saya masuk kuliah sekarang, waktunya mepet,” kata engkau.
“Ok. Aku sedang tidak ada kuliah. Aku tunggu kamu. Bawa saja foto-foto itu, aku punya banyak stok.”
Engkau mengucapkan salam, lalu berlalu.
“Eh, kenapa mundur jadi mentor tugas akhir dan menulis skripsiku?” tanyaku sambil mengejar.
Engkau berhenti. Melihat sekilas kepadaku, mungkin baru sadar kalau aku mahasiswa yang akan menyusun tugas akhir dan skripsi yang rumahnya pernah engkau datangi. “Maaf, saya sedang sibuk,” katanya.
“Aku bisa usulkan ke Ayah bila bayarannya kurang.”
“Maaf, bukan masalah bayaran. Tidak mesti ada mentor, asal kamu rajin membaca. Assalamualaikum,” kata engkau, lalu bergegas berjalan.
Aku terpana melihat punggungmu. Sungguh, engkau cukup unik bagiku. Untuk gadis seperti engkau, aku rela menunggu di kantin ditemani jus alpukat. Satu jam kemudian aku menunggu di depan gedung kuliah. Bila engkau tahu, belum pernah aku melakukan seperti itu. Menunggu sampai satu jam lebih untuk seorang gadis, mestinya engkau boleh berbangga diri. Aku sendiri tidak tahu mengapa melakukan hal konyol seperti itu.
Apa karena engkau cantik? Memperhatikan dari dekat ketika tadi kita bicara, engkau memang cantik. Cantik yang lain dibanding gadis-gadis lainnya. Engkau begitu alami. Tidak ada riasan di wajah. Tidak ada pemerah di bibir. Apalagi di kelopak mata. Tapi engkau begitu berseri, segar, sehat. Seperti bunga mawar yang baru mekar. Itu juga yang mendorong aku tidak sekedar ingin kenal. Ingin rasanya menemani ke mana engkau pergi, biar engkau tidak iseng sendiri.
Begitu engkau turun dari tangga gedung kuliah, aku tersenyum. Aku membungkuk ketika mencegat engkau.
“Boleh kita wawancara sekarang? Tuan Puteri yang memilih tempatnya, hamba mengikuti saja,” kataku sok kenal dan sok akrab.
Engkau mengeluarkan selembar kertas dari tas dan memberikannya kepadaku. “Data saya ada di sini. Boleh dipergunakan untuk kepentingan kuliah. Untuk kepentingan lainnya, saya tidak memberi ijin dan tidak rela,” kata engkau, lalu mengucapkan salam dan berlalu.
Sejenak aku terpana. Aku hanya memandang punggung engkau berjalan menjauh, keluar gerbang kampus, lalu menghilang ditelan angkutan kota. Kertas selembar itu aku baca. Nama, tanggal lahir, jurusan, hobi, ada semua. Alamat rumah dan telepon tidak ada.
Sungguh, engkau adalah gadis yang unik. Baru kali itu aku diperlakukan tidak layak oleh seorang gadis. Setiap gadis yang berkenalan denganku, apalagi aku isengi, yang pertama mereka berikan adalah nomor telepon dan alamat rumah. Atau engkau memang tidak mengenalku? Rasanya mustahil. Hanya beberapa orang saja di kampus ini mahasiswa yang ke kampus pernah membawa mobil semewah BMW X6. Isas, Duleh, dan aku. Isas anak ketua DPR. Duleh anak pengacara kondang. Dan aku, anak pejabat di perpajakan yang juga petinggi partai politik. Kalau tidak dilarang oleh Ayah, mobil seharga dua miliar lebih itu setiap hari aku pakai ke kampus. Tapi karena dilarang, sehari-hari saya pakai Pajero Sport seharga hampir satu miliar. Itu pun sudah membuat takluk seluruh mahasiswa. Juga dosen, mana ada yang berani ngasih nilai D, apalagi E.
Tapi engkau, mahasiswa tidak gaul seperti engkau, berani iseng denganku? Maka aku dekati engkau ketika menunggu angkutan kota. Aku buka kaca Pajero Sport dan aku ajak engkau. Tapi engkau hanya tersenyum, mengucapkan terima kasih, lalu berlalu dengan angkot yang berhenti di belakangku. Gila, masa mobil segagah ini kalah sama angkot butut?
Aku memang tersinggung. Marah disambut seperti itu. Tapi waktu itu juga aku merasa bahwa engkau berbeda dari kebanyakan gadis yang aku kenal. Ada sedikit tantangan untuk mendekati engkau. Berjuang sedikit, setelah itu engkau pun akan takluk seperti gadis lainnya. Tidak masalah. Bahkan untuk lelaki setajirku juga harus ada tantangan. Nyatanya, berkali-kali aku pamer mobil, engkau tetap bergeming tidak mau diajak pergi. Maka pagi itu aku sengaja menunggumu di tangga gedung kuliah.
“Apa sebenarnya maksud kamu? Setiap hari kamu sudah mengganggu saya,” kata engkau. Baru kali itu aku mendengar engkau berkata dengan kalimat yang menegur.