Ajir mencari tahu, mengapa Rengganis mundur jadi mentor menulis tugas akhir dan skripsinya? Padahal menurut Pak Har, berapapun bayarannya tidak masalah. Beginilah pengakuan Rengganis setelah disusun oleh Ajir:
“Bakwaaann... pisang goreng, cireng, gehuuu...!” Suara anak perempuan berusia sekitar sepuluh tahun itu begitu melengking.
“Sebentar ya, mau bakwan ya?” tanya Ibu Har. Saya tersenyum. Ibu Har ke depan rumah memanggil pedagang bakwan. Sudah satu minggu saya membimbing putranya membuat tugas akhir dan skripsi. Daftar buku sudah dibeli. Metode penulisan sudah saya terangkan melalui tulisan sederhana. Tapi putra Ibu Har itu belum juga membacanya. Apalagi buku, jangankan seluruh buku yang ada di daftar, satu judul pun belum selesai. Setiap saya ke rumahnya, selalu saja putranya itu tidak ada di rumah.
Saya mengikuti Ibu Har ke depan rumah. Selalu ada naluri di dalam hati saya untuk mengetahui segala sesuatu tentang bakwan. Bakwannya lumayan kering dan kelihatan renyah.
Ibu Har membeli sepuluh biji bakwan dan makanan lainnya. Ketika dia ke dalam rumah membawa uang, saya membeli lagi sepuluh biji.
“Sepuluh lagi?” tanya anak pedagang bakwan itu seolah tidak percaya.
“Dibungkus saja. Ini uangnya, kembaliannya bawa saja, buat nambah-nambah uang sekolah, ya.” Saya memberikan uang selembar seratus ribu rupiah. Anak pedagang bakwan itu memandang saya lama. Tangannya gemetar. Lalu tersenyum. Dari sudut matanya seperti ada yang mau mengalir tapi cepat diusapnya.
“Kakak baru dapat bayaran mengajar kursus,” kata saya sambil tersenyum. “Semoga bakwannya laku keras. Salam buat keluargamu, ya.”
Pedagang bakwan cilik itu mengangguk. “Terima kasih, Kak,” katanya hampir tidak terdengar. Ketika Ibu Har keluar dia juga terkejut begitu tahu saya membeli lagi sepuluh biji bakwan.
“Punya saya sudah dibayar. Tinggal punya Ibu,” kata saya cepat. “Saya ingin membawa ke rumah. Sepertinya gehu pedasnya sangat enak.”
“Kalau begitu kenapa dibayar duluan,” kata Ibu Har protes. Tapi kemudian tersenyum. Kami masuk lagi ke dalam rumah..
Kami makan bakwan dulu sambil ngobrol tentang apa saja. Ibu Har menawariku nasi karena menyangka aku lapar. Membahas skripsi batal lagi karena puteranya itu tidak ada di rumah. Waktu ditelepon malah katanya mau makan di restoran masakan Jepang. Puteranya itu mengusulkan untuk membahas skripsinya di restoran saja sambil makan. Tapi saya memilih pulang.
Bakwan paling enak di seluruh dunia, sepengetahuan saya, adalah bakwan buatan Ibu. Aku selalu terkenang bagaimana Ibu mengiris kol dan wortel. Sampai sekarang, usia saya dua puluh enam tahun, sudah lulus kuliah, jadi asisten dosen di almamater, kecepatan saya mengiris wortel masih kalah dibanding Ibu.
Saat usia saya sepuluh tahun hampir setiap hari saya makan bakwan. Saya tentu saja bosan. Tapi saat saya cemberut dan mengeluh mengekspresikan kebosanan, Ibu memeluk dan mencium rambut saya.