Tahun 1996 Har mulai bekerja di kantor pajak. Setelah lulus dari Institut Ilmu Keuangan tadinya ingin istirahat dulu, memuaskan diri untuk main ke mana-mana. Tapi iseng saja mengikuti tes di Kementrian Keuangan, eh malah diterima, ditempatkan di kantor pajak.
Bisa dibilang betah, ya betah juga kerja di sini. Meski uang gaji hanya cukup buat makan, sewa kamar dan ongkos, tapi makan siang disediakan oleh kantor, seminggu sekali dapat uang jajan, dan katanya setahun sekali berlibur dengan ongkos dan uang jajan ditanggung kantor. Dibilang katanya, karena untuk berlibur ini Har belum pernah mengikutinya, kerjanya kan baru 6 bulan.
Hanya saja rasa betah itu jadi berkerut kening waktu Kang Budiman, senior di kampus yang sudah bekerja tiga tahun di kantor pajak, bertamu ke tempat kostnya.
“Akang tidak pernah menerima uang jajan mingguan, berlibur juga tidak pernah ikut, dan sekarang sedang berpikir bagaimana caranya menolak makan siang,” kata Kang Budiman sambil mengocek kopi yang baru dibuat.
Malam minggu waktu itu. Bila tidak jalan-jalan ke mana saja, biasanya berbincang semalaman di kamar kost siapa saja. Begitu kebiasaan para bujang yang masih jomblo alias sendiri. Tadi teman-temannya pada menonton film, sementara Har lebih memilih tinggal di kamar kost. Lagipula Kang Budiman ikut menginap, jadi mending main catur sambil mendengarkan wayang golek semalam suntuk.
Kang Budiman ini sebenarnya sudah berkeluarga. Sudah mempunyai seorang anak. Istrinya tinggal di Purwakarta. Hanya kadang saja dia tidur di kantor.
“Memangnya kenapa, Kang?” kata Har dengan kening berkerut.
“Memangnya tidak tahu?” katanya malah balik bertanya.
Har menggeleng.
“Makan siang, uang jajan, juga berlibur tahunan bila penghasilan pajak sampai pada target, itu bukan dari kantor. Tapi inisiatif pimpinan. Katanya, biar bagian yang kering ikut terciprat rejeki. Artinya, entah uang dari mana itu sumbernya. Merasa tidak enak saja, tidak enak hati, bila ikut menikmati rejeki yang tidak jelas.”
“Bagian apa saja yang disebut basah itu, Kang?”
“Ya, yang diperebutkan itu bagian PPN, PPH Badan, PPH Orang Pribadi. Di bagian itu banyak karyawan titipan pejabat ini pejabat itu.”
Dengan Kang Budiman, Har akhirnya menjadi dekat. Berkali-kali dia pernah ikut pulang ke Purwakarta. Har kemudian berkenalan dan pacaran dengan Esih, masih saudara jauhnya istri Kang Budiman yang bernama Nita.
Bila apel ke Purwakarta, Har pastinya ikut tidur di rumah Kang Budiman. Akhirnya mereka seperti dengan saudara saja. Apalagi untuk urusan kantor, Kang Budiman banyak menerangkan tentang segala hal. Sampai kemudian Har menikah dengan Esih. Bedanya dengan Kang Budiman, Har memilih untuk memboyong istrinya tinggal di Jakarta.
Har sendiri ditempatkan di bagian Tempat Pelayanan Terpadu, loket penerima segala laporan dan surat wajib pajak. Har sendiri belum menerima Nota Dinas Penugasan, artinya belum benar-benar ditempatkan di bagian apa. Katanya, TPT termasuk bagian kering. Har sendiri awalnya tidak berpikir bagian kering atau basah.
Hanya, setelah menikah, benar-benar keuangan terasa seretnya. Kadang bila sedang kepepet sekali, uang habis dipakai berobat misalnya, Har bilang ke Kang Budiman. Dan Kang Budiman begitu baik menyisihkan uang gajinya, membelikan beras dan lauknya untuk seminggu. Ya, karena Kang Budiman gajinya lebih besar karena sudah mempunyai jabatan.
Kemudian Har mempunyai jalan hidup sendiri karena suka mengutak-atik komputer. Waktu itu komputer masih sangat sederhana. Bisa menggunakan program microsoft word dan excel sudah termasuk hebat. Waktu ada programmer ke bagian TPT, Har memperhatikan caranya membuka database. Ternyata ada data yang bisa dibuka tanpa menggunakan password.
Suatu hari ada wajib pajak yang meminta tolong tanggal membayar pajak dimundurkan. Permintaan yang biasa sebenarnya. Stempel Pajak Mundur, begitu karyawan pajak menyebutnya. Tapi karena datanya sudah masuk ke komputer, permintaan wajib pajak itu tidak bisa dipenuhi.
Har yang sudah bisa membuka beberapa data tanpa menggunaka password, mengutak-atik komputer hingga tanggal membayar pajak bisa diatur. Karyawan lainnya terkejut. Pimpinan bagian TPT malah sampai memanggil Har. Katanya, kalau dari dulu bisa begitu pastinya rumah dan mobil sudah bertambah.