BISU

Yosep Rustandi
Chapter #9

UYUT

Sampai ke Cinangka jam dinding sudah menunjukkan pukul satu malam. Ojek yang tadi mengantar katanya tidak berani pulang, akhirnya tidur di rumah Aki Haji. Aki Haji sendiri seperti yang menunggu Har. Waktu ojek masuk ke halaman rumah, Aki Haji sudah menunggu di teras. Beliau memeluk Har sambil menepuk-nepuk punggung dan mengelus-elus rambut.

“Tidak setahun sekali ketemu, Sujang. Rindu Aki padamu,” kata Aki Haji.

Har tersenyum. Sujang adalah panggilan sayangnya semasa kecil. Dari dalam rumah keluar Mak Haji, begitu melihat langsung memeluk sambil menciumi rambut dan pipi.

“Maafkan Har, Aki, Mak, yang lama tidak menengok. Pekerjaan sepertinya tidak ada selesainya. Lebaran kemarin juga kan tidak sempat ke sini,” kata Har.

“Dimaklumi kalau soal pekerjaan mah. Tidak apa, harus bersyukur kepada Tuhan bisa dipercaya seperti itu.”

“Eh, Aki jangan dulu diajak banyak bicara. Si Sujang pasti lelah. Kalau mau istirahat dulu, kamar buatmu sudah dirapikan,” kata Mak Haji. “Tapi bila mau minum, Mak bikinin dulu teh manis.”

“Ya, istirahat saja dulu. Nengok Uyut nanti saja bakda subuh. Atau kalau waktunya leluasa, santai, nanti saja setelah terang juga tidak apa-apa,” kata Aki Haji.

“Dibilang santai juga tidak, Ki. Lebih baik bakda subuh saja,” kata Har sambil merebahkan badan ke kursi. “Kemarin bisa berangkat juga karena disuruh oleh pimpinan.”

“Syukur saja kalau kamu dapat pekerjaan yang baik. Ya, dari kecil kamu mah memang sudah terlihat pintar, Sujang.”

Har tersenyum. “Sekarang siapa yang menemani Uyut?” tanyanya.

“Bapakmu. Biar bapakmu bakda subuh suruh ke sini. Karena Uyut itu hanya memanggil-manggil namamu, Sujang. Siapa tahu jadi syarat untuk mengakhiri penderitaannya. Kasihan....”

Yang disebut-sebut Uyut dari tadi itu nama panggilan lengkapnya adalah Uyut Lodaya. Begitu tenarnya. Uyut itu bapaknya Aki Haji, kakeknya bapak Har. Har sendiri baru tahu bila Uyut masih ada dan berkenalan dengannya waktu sekolah SMP. Sebelumnya, bapaknya atau Aki Haji, belum pernah menceritakan tentang Uyut.

Hari Sabtu waktu itu. Biasanya hari Sabtu di sekolah Har pelajaran olahraga bareng semua kelas satu. Ada yang bermain volly bal, sepak bola, atletik, ada juga yang malah memilih pulang. Har waktu itu juga pulang sendirian. Tanpa disadarinya, sejak keluar gerbang sekolah, ada dua orang bapak-bapak yang mengikuti Har. Dan di tempat yang sunyi yang seorang menyusul Har.

“Jang, namanya Hartawan, kan?” tanya bapak itu.

“Iya, betul. Ada apa ya?” Har balik bertanya.

“Tidak apa. Hanya ingin mengajak main saja. Bila mau rekreasi ke curug Cipongkor, nanti dikasih uang buat beli sepatu.” Bapak itu melirik sepatu Har yang memang sudah kusam dan kulitnya berlepasan.

Har menggeleng.

“Kenapa? Atau uangnya buat jajan saja. Bisa untuk nonton film atau membeli baju. Mau ya?”

“Tidak. Saya belum bilang sama Ibu,” kata Har semakin curiga. Apalagi melihat di pelipis orang itu ada bekas luka senjata tajam yang sangat jelas.

“Codet, tangkap saja. Dasar bodoh!” bentak bapak satunya lagi yang berbadan besar.

Har mau lari saat tangan si bapak codet itu menangkapnya. Har mau berontak, tapi bapak berbadan besar itu mendekap dan membekap hidung Har dengan kain basah. Har merasakan bau yang sangat dan dia pun tidak ingat apa-apa lagi.

Waktu siuman Har sudah berada di ruangan tengah sebuah rumah. Har melihat ke sekeliling. Sama sekali dia tidak hapal dan tidak bisa menduga di mana dia sekarang berada. Dia tidak tahu rumah siapa itu. Rumah panggung, berlantai palupuh, bambu yang dibelah-belah. Ada karpet di tengah ruangan. Kasur hanya satu, menempel ke dinding, yang dipakai Har tertidur. Sepertinya kasur yang mendadak digelar.

Har tidak sempat terlalu lama menyelidik dan mengingat-ingat, karena ada seseorang yang masuk ke ruangan itu. Seorang kakek dengan ikat kepala belang, berkumis panjang melingkar di pipi, duduk di dekat Har.

 “Kamu sudah bangun, Sujang,” katanya dengan suara yang besar dan berat.

Har merapat ke dinding. Dia curiga dan takut.

“Jangan takut! Ini masih rumah kamu! Bila kamu ingin tahu, ini adalah uyut kamu. Panggil saja Uyut Lodaya.”

Har bengong. Tidak pernah dia menerka-nerka siapa uyut itu. Waktu itu Har tidak tahu apa arti kata uyut sendiri. Dia baru tahu setelah lulus SMP, uyut itu adalah ayahnya kakek, kakeknya bapak, uyutnya dia. Waktu itu Har tidak berani bertanya. Si kumis yang mengaku uyut itu sendiri kemudian berdiri dan keluar dari ruangan itu. Terdengar kemudian suaranya yang besar dan seperti menggema: “Bik, bawa makanannya ke tengah rumah, kita makan bareng.”

Tidak berapa lama seorang perempuan setengah baya membawa bakul besar, sambal, ayam panggang, ikan mas goreng, ikan asin sepat bakar, dan lalap-lalapan. “Pasti sudah lapar, ya? Nanti tunggu Uyut, ya,” katanya.

Har tidak menanggapi. Tapi perutnya terdengar berkerubuk. Lapar tiba-tiba sangat terasa. Hmm, apalagi harum ayam panggang sangat menggoda. Takut dan tidak mengertinya dengan yang terjadi lambat-laun menghilang.

Makan lesehan berempat. Har, si kumis yang mengaku bernama Uyut Lodaya itu, dan dua orang bapak-bapak yang tadi menangkap dan membius Har. Awalnya Har mundur dan tidak mau makan saat melihat dua orang bapak-bapak yang tadi membius itu.

“Jangan takut, Sujang. Dua orang bapak ini saudara kita juga. Nah, yang satu ini Om Codet, dan yang satu lagi Om Gajah. Keduanya baik-baik. Tadi itu hanya terpaksa saja. Terpaksa karena kamu tidak mau diajak main,” kata Uyut Lodaya.

Har maju lagi duduknya. Awalnya mengambil nasi sedikit dan paha ayam, tapi kemudian makan banyak. Ikan mas goreng, ikan asin sepat bakar, pepes belut, kerupuk udang, sayur kacang merah, semuanya dicicipi.

Selesai makan baru Uyut Lodaya bercerita lebih panjang.

“Uyut Lodaya ini bapaknya kakek kamu, Sujang. Siapa biasanya kamu manggil kakek kamu?” kata Uyut Lodaya sambil menyedot cangklong besar, asapnya lalu disemburkan sampai Har terbatuk-batuk. Uyut Lodaya malah tertawa melihat Har terbatuk-batuk dan tangannya sibuk mengusir asap.

“Hahaha... kamu belum pernah merokok, Sujang?” tanya Uyut Lodaya.

“Belum boleh oleh Bapak,” jawab Har.

“Hahaha... bapak kamu itu seperti kakek kamu, semuanya tidak boleh! Merokok itu enak dan nikmat!”

“Aki Haji juga melarang saya merokok.”

“Kakek kamu itu, Aki Haji, antirokok. Kalau Uyut ke rumahnya, merokok harus di luar. Wah, rumah banyak peraturan! Hahaha...!

“Merokok kan tidak baik, Uyut.”

“Wah, tidak baik bagaimana, yang jelasnya enak dan nikmat. Kata orang Jawa, wis mangan ora udud itu enek. Boleh kalau kamu mau merokok, di rumah Uyut serba boleh.”

Har mulai semakin berani. Rasa takutnya perlahan menghilang. Dia mencoba merokok, tapi batuk-batuk menyertainya.

“Awalnya seperti itu, batuk-batuk dan tidak tahan. Tapi selanjutnya enak dan nikmat,” kata Uyut Lodaya sambil menyemburkan asap rokok ke wajah Har.

“Uyut, tadi pagi, kenapa saya diculik segala?” tanya Har selanjutnya.

“Maafkan, Si Gajah dan Si Codet memang disuruh Uyut. Uyut ingin ketemu denganmu. Uyut kangen sama kamu, Sujang. Kebetulan Uyut lagi ada di sini. Bapakmu dan Aki Haji kamu itu tidak akan mengijinkan bila Uyut bilang ingin ketemu kamu. Benar sangkaan Uyut, kamu tuh sudah besar, ganteng seperti Uyut dulu hahaha. Kalau sudah bertemu begini, Uyut tidak penasaran lagi.”

Uyut lalu menceritakan, namanya juga terkenal dengan sebutan Si Lodaya. Har cukup menyebutnya Uyut Lodaya saja. Menurutnya, Uyut bukanlah orang baik.

“Uyut mah tukang tarok tukang bobok...,” katanya. Maksudnya, tukang segala kejahatan.

“Tukang membuka rok.” Si Gajah ikut mengomentari. Lalu ketiganya tertawa terbahak-bahak.

Pulangnya Har dikasih uang segepok. Tentu saja Har terkejut. Baru kali itu dia memegang uang sebanyak itu.

“Jangan bilang-bilang ke bapak dan Aki Haji kamu kalau oleh Uyut dikasih uang. Jangan bilang ketemu dengan Uyut juga, sama siapapun,” kata Uyut Lodaya waktu Har bilang ingin pulang. “Sujang, kalau kamu punya keinginan, ingin apapun, atau punya masalah, masalah apapun, temui saja Si Gajah di alun-alun atau Si Codet di terminal. Ingin ilmu apa, ajian apa, di Uyut segala ada.”

“Ilmu apa, Uyut?” Har penasaran juga.

“Ilmu apapun segala ada. Kuat dipukul, kuat ditembak, memukul dengan keras, membuat orang tertidur, jurus-jurus andalan, wah pokoknya segala ada.”

“Ingin dikejar-kejar cewek juga ada,” kata Si Gajah.

“Ah, itu ilmu yang sangat gampang. Silakan sekarang pulang. Maaf agak lelah ya, berjalannya cukup jauh. Kita sekarang berada di tengah hutan.”

“Jurus Lodaya, itu yang membuat uyutmu terkenal,” kata Si Gajah.

“Itu ilmu rahasia, tapi kamu boleh memilikinya.”

**

Lihat selengkapnya