Blurb
Katanya, rumah adalah tempat paling nyaman di dunia. Namun, bagi Aksa, rumah adalah tempat di mana luka belajar tumbuh tanpa pernah sembuh.
Di balik pintu yang selalu tertutup, suara pertengkaran menjadi lagu yang tak pernah berhenti. Tak ada pelukan, atau kalimat penuh cinta, hanya diam yang menyesakkan, dan perasaan tak diinginkan yang terus mengendap.
Aksa mencoba bertahan. Di sekolah, ia belajar menyembunyikan retaknya diri.
Di hadapan orang lain, ia berpura-pura baik-baik saja meski mulai kehilangan dirinya sendiri.
Aksa berdiri di persimpangan, ia harus memilih, tetap tenggelam dalam luka yang membesarkannya atau mencoba terbang, meski dengan sayap yang patah.