Prolog
Berita itu mengusik hatinya.
Sejak pagi, topik yang ramai dibicarakan adalah seorang perempuan yang melompat dari atap rumah sakit kemarin malam.
Biasanya, ia tidak peduli dengan drama yang terjadi di rumah sakit. Apalagi yang berkaitan dengan kehidupan pribadi pasien dan keluarganya. Dan seperti biasanya, ia akan mengabaikan mereka.
Namun kali ini berbeda.
Selama dua tahun ia bertugas, tidak pernah ada kejadian orang bunuh diri. Reputasi rumah sakit juga terbilang bagus dan selalu terjaga. Sedikit keluhan tentang pelayanan yang kurang memuaskan adalah masalah umum yang biasanya terjadi.
Bukannya ia menjadi kritis terhadap citra rumah sakit. Ia hanya tidak suka mendengar ada orang yang dengan sengaja mengakhiri hidupnya.
Hal itulah yang mengganggu pikirannya.
Menurut informasi yang diperoleh dari salah satu perawat yang bekerja di divisinya, ada seorang ibu kehilangan putrinya yang baru berusia delapan tahun malam itu. Penyebab kematian adalah penyakit bawaan yang diderita sejak dia masih berada di dalam kandungan. Ibunya merasa sangat bersalah karena telah menularkan penyakit flek paru-paru kepada anaknya. Dan pada akhirnya, penyakit itu jugalah yang merenggut nyawa putri satu-satunya.
Itulah alasan yang membuat dia melompat dari atap, sebelum suaminya tiba di rumah sakit.
Jadi, alih-alih satu kehilangan menyakitkan, suaminya harus menghadapi dua kehilangan besar di dalam hidupnya, pada saat yang bersamaan.
Lucas menghela napas dan mendorong pintu menuju atap rumah sakit. Sebuah lapangan yang membentang luas menyambutnya. Area itu digunakan sebagai lapangan tempat parkir. Angin malam yang lembab menerpa rambut dan wajahnya. Ia menutup pelan pintu di belakangnya. Matanya menyapu sekeliling. Malam ini area parkiran tidak banyak yang terisi.
Ia berjalan menyusuri bagian tepi lapangan dan memutar ke sebuah bangunan kecil, yang difungsikan sebagai toilet umum bagi para pengunjung.
Dari sedikit informasi yang didengarnya, perempuan itu melompat di dekat toilet.
Ia mengedarkan pandangan. Tidak terlihat siapa-siapa di sana. Namun tekanan udara yang bertambah berat seiring ia melangkah tidak bisa berbohong.
Lucas berhenti tidak jauh dari bagian kanan bangunan. Tengkuknya meremang dan napasnya bertambah berat. Pagar pembatas berjarak kurang lebih empat meter dari tempatnya berdiri. Matanya tertuju pada satu titik di dekat pagar.
Dengan hati-hati, ia melangkah maju. Dua meter adalah jarak teraman. Ia membenamkan sebelah tangan pada saku celana panjangnya, mengeluarkan sebungkus garam yang sudah disiapkan. Kepalanya sedikit menunduk untuk menghindari terpaan angin malam yang mendadak berhembus sedikit lebih kencang. Namun pandangannya tidak pernah lepas dari titik yang sedari tadi menarik perhatiannya.
Ia membuka bungkusan garam dan mulai mengucapkan doa. Dengan tangannya yang lain, ia mengambil segenggam besar garam yang sudah didoakan dan melemparkannya ke arah pagar pembatas.
Satu kali. Dua kali.
Sebelum lemparan ketiga, gerakannya terhenti oleh sebuah lolongan marah yang memecah keheningan malam.
Dalam dua detik yang terasa panjang, sesosok bayangan mulai terbentuk. Mula-mula tidak berwujud, hanya berupa kepulan asap kehitaman. Namun semakin lama, bayang-bayang itu semakin padat. Hingga akhirnya, sesosok arwah perempuan yang tampak menyedihkan, mewujud di hadapannya. Aura hitam berpendar di sekitar perempuan itu.
Lucas mendengus tanpa suara, “Sudah kuduga.” Kepuasan berkilat di matanya. Ia menyimpan kembali garam ke saku celananya.
“Selamat datang kembali,” Lucas terlihat berpikir sejenak, “Ibu Lina Viani.”