Seminggu kemudian…
Lucas Daniel keluar dari ruang operasi.
Ruang tunggu yang terisi oleh beberapa orang menyambutnya. Barangkali keluarga dan teman dekat pasien. Mereka sontak berdiri ketika melihatnya. Ia menganggukkan kepala sebagai sopan santun dan berbelok di lorong, meninggalkan mereka bersama asistennya.
Dalam langkah-langkah lebar, ia kembali ke kantornya. Operasi yang dijadwalkan singkat ternyata berlangsung lebih lama dari perkiraan.
Ia memeriksa ponsel. Lalu meletakkannya kembali sambil mendesah. Belum ada balasan dari Sarah. Pesannya sejak kemarin malam bahkan belum dibaca.
Ada yang aneh, batinnya dengan kening berkerut.
Ini tidak seperti kebiasaan istrinya. Sarah yang ia kenal adalah seorang wanita yang hampir tidak pernah meninggalkan ponselnya, kemanapun dia pergi.
Lucas mengambil ponselnya lagi dan mulai menelepon.
Tidak ada nada sambung. Ia mencoba lagi dan lagi. Hasilnya tetap sama. Lalu ia mengirim pesan. Centang satu.
Ada apa ini? Lucas mulai cemas. Padahal tadi pagi ponsel Sarah masih bisa terhubung.
Kemudian ia mencoba menelepon Melani, pengasuh Ezra, yang tinggal bersama mereka. Ezra adalah putranya yang baru berusia tujuh tahun. Hasilnya sama. Tidak ada nada dering.
Lucas membuka aplikasi cctv yang dipasangnya secara diam-diam di rumah, tanpa sepengetahuan Sarah. Ia merasa perlu sesekali mengecek keadaan mereka, demi ketenangan batinnya. Hanya untuk memastikan keselamatan istri dan anaknya, selama ia tidak bersama mereka.
Ia tahu karakter Sarah yang tidak suka diatur dan sering melakukan segala sesuatu tanpa meminta pendapatnya. Sarah terbiasa dengan kehidupan bebasnya selama dia masih tinggal di luar negeri. Karena itu jugalah istrinya menolak ikut dengannya ketika Lucas ditugaskan di Madiun sejak dua tahun yang lalu.
Sarah mengatakan bahwa dia akan tetap tinggal di Jogja bersama Ezra. Dia mampu merawat dan menjaga Ezra. Lagipula, menurut Sarah, Lucas juga pasti akan selalu sibuk dengan pekerjaannya dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit. Jadi, apa bedanya jika mereka tetap tinggal di Jogja, dibandingkan dengan pindah ke Madiun, dan harus menyesuaikan diri lagi, sementara yang dilakukan Lucas hanyalah sibuk-sibuk di rumah sakit dan jarang pulang ke rumah.
Dengan alasan itulah, Lucas memasang cctv untuk berjaga-jaga.
Ia memeriksa cctv yang dipasangnya di ruang tamu. Tidak ada siapa-siapa di sana saat ini, ataupun tadi pagi. Ia mengecek ruangan-ruangan lain, juga di kamar Ezra. Layar memperlihatkan keadaan rumah yang kosong. Bahkan selimut Ezra masih berantakan seolah ditinggal pergi begitu saja.
Hatinya semakin tidak tenang. Ke mana mereka pergi? Apakah Sarah membawa mereka semua ke mall? Apakah tidak ada sinyal di dalam mall, sehingga panggilan teleponnya tidak tersambung?
Kemudian Lucas memutar ulang rekaman cctv kemarin pagi. Ia menghembuskan napas lega ketika melihat aktivitas pagi yang sibuk ketika Ezra hendak berangkat sekolah.
Lucas mempercepat rekaman, siang hari, sore hari, semua masih tampak normal. Bahkan kemarin malam Ezra pergi tidur tepat waktu ditemani Melani.
Ia memencet tombol fast forward setelah Ezra tidur, semua nampak baik-baik saja dan normal. Sampai jam sepuluh malam, ketika ia menyaksikan Sarah membuka pintu depan, dan seorang laki-laki yang memakai topi pet berwarna abu-abu tua, melangkah masuk.
Sarah menutup pintu di belakangnya dan menarik laki-laki itu mendekat. Lalu dia mengalungkan lengannya ke leher laki-laki tersebut. Detik berikutnya, Lucas menyaksikan dengan mata terbelalak ketika mereka mulai berpelukan dan berciuman dengan sangat mesra.
Ia begitu syok. Sapuan emosi antara tidak percaya, merasa dikhianati dan amarah mulai menguasainya. Bibirnya terkatup rapat. Apa-apaan ini? Sarah… berselingkuh?
Selanjutnya, tanpa diduga, laki-laki itu mengeluarkan sesuatu dari kantong celana panjangnya, dan membekap hidung serta mulut Sarah, sampai wanita itu kehilangan kesadaran, lalu merosot ke lantai. Kemudian laki-laki itu membuka pintu depan dan mempersilakan empat orang laki-laki lain yang berpakaian serba hitam dan mengenakan topi baseball yang ditarik ke bawah, menutupi wajah mereka.
Lucas berdiri mendadak dari kursinya. Tangannya yang memegang ponsel menegang. Ia tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Ia bahkan tidak ingin menyaksikannya lebih lanjut.
Sambil menggertakkan rahang dan menahan amarah, Lucas memaksa dirinya menonton rekaman cctv itu hingga selesai.
Ia berpindah ke layar cctv yang dipasang di kamar Ezra, menyaksikan bagaimana mereka membekap hidung dan mulut Ezra yang sedang terlelap di kamarnya, sebelum membopong tubuhnya keluar.
Hal yang sama juga terjadi pada Melani, pengasuh Ezra. Dia dibius dan dibawa keluar dari kamarnya oleh dua orang laki-laki bertopi.
Salah satu dari komplotan itu akhirnya mengangkat tubuh Sarah yang tergeletak di lantai ruang tamu, menaikkannya ke pundak, dan membawanya melalui pintu depan.
Selingkuhan Sarah terlihat mencari-cari di setiap ruangan, sampai dia menemukan apa yang diinginkannya. Ponsel Sarah dan Melani. Kemudian dia mengeluarkan saputangan lain dari saku kemejanya, mengelap setiap tempat yang sudah disentuhnya. Dan menutup pelan pintu depan.
Lucas berpindah ke cctv di luar rumah, dan melihat sebuah minivan berwarna hitam terparkir di depan pintu rumahnya, di dalam pagar yang terbuka lebar.
Pintu penumpang dibanting menutup. Mesin dihidupkan. Dalam dua detik, minivan hitam meluncur keluar, membawa serta istri dan anaknya, juga Melani. Tidak ada plat yang terpasang pada mobil itu.
Keluarganya diculik.
Dan istrinya berselingkuh dengan penculiknya.
Lucas sangat panik. Tangannya yang mencengkeram ponsel gemetaran.
Ya, Tuhan. Kenapa hal ini terjadi padanya?
Ezra diculik di depan matanya. Melani juga. Lalu ada Sarah yang—Lucas memejamkan matanya erat-erat, mengatur napas.
Ia harus tenang.