Blessing of Hope

Alexia Chen
Chapter #3

Di Antara Dua Dunia


Kamar asing itu membuat pikirannya semakin kacau.

Lucas duduk di lantai, tidak jauh dari pintu kamar di sebuah penginapan terdekat yang bisa ditemukannya. Jendela di ujung ruangan yang tirainya terbuka memperlihatkan langit malam tanpa bintang.

Ia sengaja tidak menyalakan lampu lorong di depan kamar mandi. Cahaya remang-remang dari lampu tidur di dekat ranjang membuat rasa sesak di dadanya tidak terlalu menyakitkan.

Sebenarnya ia perlu mandi dan berganti pakaian. Badannya terasa lengket dan berbau seperti antiseptik rumah sakit.

Sambil menghembuskan napas panjang, Lucas berdiri dan melangkah mendekati sebuah koper kecil yang terbuka di dekat ranjang. Ia sempat mengambil beberapa helai pakaian bersih, ketika salah seorang petugas polisi menyarankannya untuk mengunci kamar lain yang tidak disentuh oleh komplotan penculik, sebelum penyegelan dilakukan.

Baru separuh jalan, langkahnya terhenti. Ia mengalihkan matanya dari koper ke satu-satunya jendela di dalam kamar. Suara cekikikan pelan terdengar.

Aku tidak punya waktu untuk ini, batinnya lelah.

Ia sedang memikirkan apakah sebaiknya mengecek jendela atau melanjutkan tujuan awalnya, ketika sekelebat bayangan hitam melintas cepat di dekat langit-langit kamar.

Lucas memejamkan matanya geram. Ia benar-benar tidak memiliki waktu untuk semua ini.

Kamarnya berada di lantai tiga. Jadi, apapun itu makhluk yang mengeluarkan tawa di dekat jendela tidak mungkin manusia. Dan bayangan yang melintas di atas kepalanya berhenti tidak jauh dari langit-langit kamar mandi.

Sebenarnya ia tidak perlu memejamkan mata untuk melihat mereka. Ia melakukannya hanya untuk memastikan tidak ada makhluk lain selain dua kehadiran di dalam kamarnya.

Mempertajam konsentrasi. Begitulah ia menyebutnya. Lucas tidak melihat makhluk astral dengan mata fisik. Ia melihat mereka menggunakan hatinya.

Atau istilah umumnya, mata batin.

Ia membuka mata, membungkuk untuk mengambil handuk yang diletakkannya di paling atas tumpukan baju. Ia perlu membereskan mereka dulu jika tidak ingin diganggu terus.

Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat arwah perempuan yang melayang naik turun di balik bilik jendela. Rambut panjang acak-acakan, gaun putih, bertelanjang kaki. Tipikal arwah gentayangan yang terlambat menyeberang.

Ia sering menjumpai yang seperti itu. Atau barangkali, arwah-arwah itulah yang menemukannya. Meminta didoakan. Memohon diselamatkan.

Lucas memanjatkan doa di dalam hatinya, meminta Tuhan mengampuni segala dosa arwah itu, mengambil kesedihan dan penderitaan lalu menggantinya menjadi damai sukacita. Tubuhnya meremang seketika. Energi hangat turun dari puncak kepala, mengalir memenuhi tubuhnya. Ia mengangkat tangan, menunjuk dinding di sebelah kanannya, “Pergilah menuju cahaya,” tukasnya pelan.

Dari udara kosong, sebuah gerbang bercahaya seukuran pintu muncul begitu saja di tempat jarinya mengarah.

Cahaya terang berwarna putih yang menyilaukan memancar dari gerbang yang terbuka. Sayup-sayup, alunan lembut melodi yang iramanya tidak bisa ditangkap Lucas, terdengar dari balik gerbang. Memberikan ketenangan, membuat perasaan menjadi damai. Kupu-kupu keemasan tampak beterbangan, timbul tenggelam. Sebentar-sebentar mereka akan muncul, sebelum menghilang kembali ke dalam cahaya.

Di dekat gerbang, tertutup sebagian oleh kilauan cahaya, tampak bagian bawah gaun berwarna putih kebiruan yang panjangnya mencapai lantai. Namun, sekuat apapun Lucas berusaha melihat, sosok itu tidak pernah terlihat olehnya.

Seolah ia tidak diijinkan untuk melihat.

Tak lama kemudian, suara lembut yang familer mengalun indah di udara. Suara yang tidak berasal dari mana-mana. Suara yang tidak bisa ditangkap oleh telinganya. Namun seolah diucapkan langsung ke dalam hatinya. Ayo, sayang, sudah saatnya pulang. Sebuah lengan putih kurus bercahaya diulurkan.

Dari tempatnya berdiri di dekat ranjang, ia memperhatikan arwah gentayangan di balik jendela melayang menembus dinding. Menuju ke tempat sosok bergaun putih kebiruan, yang diduganya adalah seorang perempuan. Dan ketika arwah itu menggapai tangan putih bercahaya yang terulur, sosoknya bukan lagi perempuan berambut awut-awutan dengan wajah jelek, melainkan telah berubah menjadi seperti perempuan biasa.

Seorang gadis berkepang dua, yang mengenakan gaun sederhana di bawah lutut zaman dulu, dengan motif bunga-bunga kecil berwarna kuning pudar.

Arwah gentayangan itu kembali ke sosok semasa dia hidup, dulunya.

Tersenyum, dia menoleh pada Lucas. “Terima kasih sudah membantuku,” ujarnya sebelum melangkah ke dalam gerbang cahaya. Kalimat itu seolah diucapkan langsung ke dalam kepalanya. Seperti halnya suara-suara astral yang hanya bisa didengar Lucas, namun tidak oleh yang lain.

Lucas mengangguk. Bersamaan dengan itu, sosok keduanya menghilang ke dalam cahaya, dan gerbang persegi sekonyong-konyong menguap begitu saja di udara.

Tanpa suara. Tanpa jejak. Seolah tidak pernah ada.

Walaupun sudah sering menyaksikan adegan luar biasa ini, Lucas tidak pernah terbiasa olehnya. Ia selalu terpukau setiap kali gerbang cahaya itu muncul, juga ketika gerbang itu menghilang.

Ia telah melakukan hal ini bertahun-tahun yang lalu, ketika arwah gentayangan pertama muncul di depannya. Meminta didoakan. Dan seperti yang selalu diajarkan oleh orang tuanya kepadanya. Doakanlah dengan sepenuh hatimu, setiap jiwa yang telah berpulang, setulus mungkin. Karena begitu besarnya kekuatan doa dari seorang manusia yang percaya.

Tidak pernah ada penjelasan, bagaimana pintu cahaya itu bisa muncul ketika ia mendoakan arwah-arwah gentayangan yang datang padanya.

Namun Lucas mempercayai hatinya.

Ia tahu kalau Tuhan ada di sana. Dan mendengarkan setiap doa yang ia panjatkan setulus hatinya. Kemudian ia menyerahkan apa yang akan terjadi, sesuai dengan kehendak-Nya.

Lucas selalu dididik untuk percaya kepada Tuhan. Bahwa Tuhan sangat menyayangi setiap ciptaan-Nya. Dulu, ia mempercayai hal itu dengan segenap hatinya. Sekarang, secara perlahan, keraguan mulai menyusup masuk.

Lihat selengkapnya