Blessing of Hope

Alexia Chen
Chapter #4

Mimpi, Tangan Hitam, dan Pantai


Ia mengemudi tanpa arah. Membiarkan hembusan lembab angin pagi menampar wajah dan rambutnya. 

Lucas singgah di kedai terdekat untuk sarapan singkat, sebelum membawa mobilnya ke kantor polisi begitu jam di dasbor mengedipkan angka delapan. 

“Mohon maaf, Pak. Belum ada kabar terbaru yang berhasil kami dapatkan. Jika nanti ada perkembangan, kami akan menghubungi kembali. Ditunggu saja, Pak.”

Apa yang kau harapkan? 

Apakah ia berharap penculiknya akan datang ke kantor polisi dan menyerahkan diri? Apa yang bisa dilakukan polisi hanya dalam waktu semalam? Bukankah mereka juga butuh istirahat dan tidur?

Seharusnya Lucas sudah menduga kalau jawaban yang diberikan akan seperti itu. Tapi tetap saja, ia masih kecewa. 

“Terima kasih. Saya akan datang kembali besok pagi,” ujarnya sopan. Sambil menggertakkan gigi menahan rasa kesal, ia pamit. 

Begitu kembali ke mobil, ia menghubungi detektif Leo dan mendapat permintaan maaf yang serupa. Detektif Leo juga menjanjikan hal yang sama. Basa basi bahwa dia akan menghubungi Lucas begitu menemukan titik terang. 

Kenapa mereka semua seperti itu? 

Tidakkah mereka melihat dan mendengar betapa panik dan khawatirnya dirinya? Apakah mereka harus mengalami hal serupa dulu untuk bisa memberikan sedikit rasa simpati? 

Sekali lagi, apa yang kau harapkan? 

Lucas meninju kemudi dan menghapus air mata yang mulai menggenangi pelupuk matanya. 

Sialan. Ia lepas kendali. Rupanya pertahanan dirinya tidak sekuat yang ia duga. 

Ia sungguh-sungguh berharap tidak ada sesuatu yang buruk menimpa Ezra, maupun Sarah dan Melani. Ia harus segera menemukan mereka.

Lucas menolak pikiran-pikiran buruk tentang betapa jahatnya Tuhan. Kenapa Tuhan melakukan ini padanya? Apa salahnya? Apakah ia sudah melakukan sesuatu yang membuat Tuhan marah, sehingga ia dihukum? 

Ke mana ia harus pergi agar bisa menemukan mereka? 

Kepalanya terasa berat. Ia tidak mungkin kembali ke penginapan dan menunggu dihubungi. Ia harus mencari Ezra. Ia menghidupkan mesin mobil dan mulai menyusuri jalanan Jogjakarta yang sudah mulai ramai. Ia tidak memiliki arah dan tujuan. Ia juga tidak berharap akan menemukan Ezra di jalan. Namun desakan untuk mencari sendiri anaknya begitu kuat. 

Berusahalah terus. Cari di manapun tempat yang terlintas di benakmu. Jangan putus asa. Berjuanglah. 

Lucas menepis segala kemungkian buruk yang sejak kemarin mulai menghantui pikirannya. Ia tidak ingin berandai-andai. Ia tidak ingin menerka-nerka. Ia hanya berharap di manapun Ezra berada, putranya baik-baik saja. 

Menjelang malam, ia pulang ke penginapan dengan tubuh lelah dan pikiran kacau. Hasilnya nihil. Ia sudah mengelilingi hampir semua jalan di Jogja, bahkan sampai ke daerah pelosok dan memasuki gang-gang kecil. Ia mengemudi perlahan. Menyempatkan diri untuk bertanya, sambil menyodorkan foto Ezra dan Sarah, “Apakah ada yang pernah melihat mereka?” 

Orang-orang hanya menggeleng dan memberikan jawaban yang membuat hatinya semakin pedih. 

“Tidak tahu.”, “Tidak kenal.”, “Tidak pernah lihat.”

Lucas bahkan memperhatikan orang-orang yang terlihat mencurigakan di jalan. Namun percuma. Tidak terlihat komplotan topi baseball hitam yang ditarik ke bawah. 

Hatinya terasa hampa. 

Tolonglah aku, Tuhan. 

Tolong jaga Ezra. 

Tolong jaga mereka semua. 

Lucas duduk di lantai kamar yang gelap. Menangis. 


* * *


Ini sudah memasuki hari ketiga setelah Ezra diculik. Masih belum ada telepon dari pihak kepolisian ataupun detektif Leo. 

Ia mendatangi kantor polisi dan tidak mendapatkan apa-apa, selain tatapan kesal dari salah satu petugas di sana. 

“Ada beberapa kasus orang hilang yang dilaporkan dalam tiga bulan terakhir, Pak. Dan semua kasus ini sudah berhasil kami tangani dengan baik. Tapi kami butuh pengertian Bapak untuk bersabar dan tetap percaya pada kami. Begitu ada titik terang, kami akan menghubungi Bapak kembali.”

Lucas mengangguk dan keluar dari sana. Ia sudah bersiap menelepon detektif Leo, ketika dilihatnya ada pesan masuk. 


Selamat pagi.

Maaf, saya terpaksa memberitahukan bahwa pencarian akan tertunda untuk dua minggu ke depan, karena saya ada tugas dinas ke luar kota. Mohon pengertiannya. Terima kasih. 

Leo Hardy. 


Rasanya Lucas ingin membanting ponselnya. Yang satu kesal karena merasa didesak. Yang lain meninggalkan kerjaannya. 

Lucas tahu bahwa tidak seharusnya ia marah. Detektif Leo tidak ditunjuk secara resmi untuk menangani kasusnya. Dia bekerja untuk pihak rumah sakit. Dan dia hanya dimintai tolong oleh dr. Cahyo untuk membantu Lucas. Dia memiliki tugas dan pekerjaannya sendiri yang sudah terjadwal. Detektif Leo bahkan tidak memiliki kewajiban untuk melapor padanya. 

Baiklah. Sejak awal ia memang harus melakukan semuanya sendiri. Ia tidak bisa mengandalkan orang lain. Bagi mereka, ini hanyalah seperti kasus-kasus biasa pada umumnya. Ini hanyalah sebuah tugas. Pekerjaan yang menghasilkan uang. Untuk mencari nafkah. 

Tapi baginya, ini menyangkut hidup mati orang-orang yang disayanginya. Ini hidupnya. 

Menuruti kata hatinya, Lucas membawa mobilnya menyusuri jalan menuju Magelang. Dari sana, ia lanjut ke Wonosobo. Sambil mengemudi, ia memperhatikan orang-orang yang lalu lalang di pinggir jalan. Mencari tanda keberadaan Ezra, Sarah, dan Melani. 

Walaupun pulang dengan tangan kosong, setidaknya ia sudah berusaha melakukan apa yang bisa dilakukan. 


* * *


Keesokan harinya, ia tidak lagi mendatangi kantor polisi. Bukankah mereka bersikeras baru akan menghubunginya jika ada perkembangan? Kalau ia tidak dihubungi, itu artinya mereka masih menghadapi jalan buntu. Seperti dirinya. 

Lalu, apa bedanya ia dengan mereka? Sebenarnya, apa yang dikerjakan para petugas dari kepolisian itu? 

Mereka tidak menangani kasusmu saja. Berusahalah sendiri. 

Ini adalah hari keempat Ezra diculik. 

Ia menyambar kunci mobil dari atas meja. Hari ini ia akan mengendara ke daerah Klaten. Ia tidak tahu darimana ide itu berasal. Ia hanya merasa harus mencari ke sana. 

Dari Klaten, ia melanjutkan ke Wonogiri. Dan menuju Pacitan. 

Nihil. 

Belum. Ia masih belum menyerah. 


* * *


Hari kelima, Lucas terbangun dengan tubuh basah penuh keringat. 

Sial. Ia mimpi buruk. Lagi. 

Semakin hari mimpinya semakin buruk. Ia seperti melanjutkan mimpi buruknya dua malam yang lalu, ketika ia seperti berjalan di dalam laut sambil mencari Ezra. 

Tadi malam, ia tidak lagi melangkah pelan dan berat di jalanan yang seolah berada di dalam air. Ia praktis berenang di sana. Berjuang maju selangkah demi selangkah. Menghindari ombak-ombak tinggi. Berjuang untuk tidak terbawa arus. 

Lihat selengkapnya