Blessing of Hope

Alexia Chen
Chapter #5

Dicurigai

Lucas duduk di ruang tunggu rumah sakit Bhayangkara, di Semarang. 

Walaupun seorang dokter bedah, ia tidak diijinkan memasuki ruang operasi ketika para petugas di sana melakukan autopsi. Proses tersebut diperkirakan akan memakan waktu dua sampai empat hari. Baru jenazah akan dilepas untuk dimakamkan. 

Ia termenung lama. Duduk dengan punggung bersandar pada dinding dan kepala ditengadahkan, menatap langit-langit berpanel rumah sakit. Dan ketika malam tiba, ia ketiduran. Sampai seorang petugas jaga malam membangunkannya. 

Kau perlu makan. 

Seharian ini ia lupa kalau hanya sempat mengisi perutnya dengan sarapan singkat. Barangkali karena itulah tubuhnya kehabisan tenaga. Walaupun hatinya seolah mati rasa, masih tersisa sedikit kemampuan otak yang memaksanya untuk terus mengemudi. Mencari tempat makan dua puluh empat jam. Lalu memasukkan beberapa suap nasi yang terasa hambar ke dalam mulutnya. 

Ia meletakkan sendok, dan mendorong piring yang masih setengah terisi menjauh. 

Air matanya menetes tanpa ia sadari. Hatinya terasa hampa. Seolah sesuatu direnggut dengan paksa dari sana. Menyisakan ruang kosong. Gelap dan hitam. 

Kenapa harus Ezra, Tuhan? 

Pertanyaan yang terus diulang-ulang Lucas di dalam kepalanya. 

Kenapa mengambil Ezra dariku? Apa salahku? Teriaknya dalam hati. 

Ia menghapus air mata yang terus mengalir. Bahunya bergetar hebat. 

Ia tidak mengerti kenapa Tuhan harus mengambil keluarganya dengan cara seperti ini. Begitu brutal. Begitu kejam. 

Setelah membaringkan tubuh Ezra di atas pasir, ia kembali ke lautan untuk mengambil tubuh Sarah dan Melani. Kulit keduanya sudah membiru dan bengkak. 

Pikiran pertama yang terlintas di benaknya adalah memeriksa tubuh mereka. Maka ia mulai dengan Ezra. Dibukanya kancing piyama dinosaurus berwarna biru tua itu. Di sana, tepat di tengah dada mungil kurusnya, Lucas menemukan bekas jahitan memanjang. Jahitan yang sangat rapi dan hampir tersamarkan. 

Tangisan tertahan meluncur keluar dari bibirnya. Gemetaran, ia memeriksa bagian di dekat pinggang. Di sana juga ada bekas jahitan. 

Bajingan itu mengambil organ dalam anaknya. 

Ya, Tuhan. Ezra baru berumur tujuh tahun. Kenapa hal sekejam ini harus terjadi padanya? 

Lucas pun memeriksa tubuh Sarah, dan menemukan beberapa bekas jahitan. Namun, ia tidak mengutak-atik tubuh Melani, yang diyakininya juga mengalami hal serupa.

Selain bekas jahitan, Lucas juga menyadari adanya seutas tali tambang yang diikatkan pada pergelangan kaki ketiganya. Ia tahu apa fungsinya. Tali pemberat. Yang seharusnya tersambung pada batangan besi atau batu ketika menenggelamkan mayat ke dalam air. Untuk menyembunyikan tindak kejahatan. Sepertinya tali itu terputus. Mungkin oleh ombak atau gesekan dengan benda tajam di bawah laut. Sehingga tubuh mereka bisa mengapung ke permukaan air. 

Sialan! Sialan! Sialan! 

Orang-orang berengsek tidak berhati nurani. Penjahat! Bajingan! 

Lucas terduduk di dekat tubuh Ezra, menangis

Ia tidak tahu bagaimana caranya mencerna semua yang telah terjadi. Akal sehatnya menolak untuk menerima. Ia tidak mengerti kenapa Tuhan harus mengambil keluarganya dengan cara seperti ini, kemudian menuntunnya untuk menemukan jenazah mereka. 

Kenapa? Kenapa cara-Mu seperti ini? 

Ia terlalu marah untuk mengerti. Ia murka. Ia memaki dan mengumpat. Menyalahkan Tuhan atas semua yang terjadi padanya. Mengutuk dan menghujat siapapun yang membuatnya seperti ini. Hidupnya hancur hanya dalam sehari. 

Setelah tangisan dan teriakan kemarahan yang dilampiaskannya di pantai, Lucas tetap harus menelepon kepolisian. Ia memungut kembali tas pinggang yang dilemparnya ke atas pasir, dan menghubungi kantor polisi. 

Untuk alasan inilah kau membawa jaket. 

Ia mengambil jaket, dan menghangatkan tubuhnya yang mulai menggigil. Matahari sore masih terasa menyengat. Namun udara dingin yang melingkupinya tidak berhubungan dengan cuaca. Ia gemetaran oleh kesedihan mendalam yang menjangkiti hatinya. 

Lucas tidak tahu berapa lama ia duduk di sana. Menatap kosong langit biru tanpa awan yang perlahan berubah warna menjadi jingga kemerahan. Angin laut yang semula hangat telah berubah menjadi dingin di kulitnya. Sampai polisi tiba dan menemukannya. 

Petugas kepolisian Jogja dan petugas dari Semarang, juga mobil ambulans dan mobil jenazah datang berbarengan. Mereka menghujaninya dengan berbagai pertanyaan, dengan raut wajah tidak percaya dan penuh rasa curiga. Namun Lucas tidak lagi memiliki tenaga untuk meladeni mereka saat ini. Ia mengusulkan agar semua ini dilanjutkan saja di kantor.

Mereka setuju. Lalu mengawal mobilnya ke kantor kepolisian Semarang. 

Sore itu ia menghabiskan berjam-jam di dalam kantor polisi. Memberikan pernyataan dan menjawab puluhan pertanyaan berbeda, tapi dengan inti yang sama. Yaitu tentang bagaimana caranya ia menemukan jenazah mereka. Ia sudah berulang kali mengatakan bahwa ada yang menuntunnya ke sana. Melalui mimpi-mimpi yang diberikan, juga melalui insting dan perasaan yang kuat. 

Lalu ia menceritakan tentang mimpi-mimpinya. Juga tentang ide gilanya yang menghabiskan berhari-hari untuk mencari keberadaan anak dan istrinya. Lucas tidak ingat berapa kali ia mengulang cerita yang sama. Sampai wajah datar dua petugas polisi di depannya berubah menjadi merah tua. Ia tidak peduli. Ia hanya mengatakan kebenaran yang diketahuinya. Ia tahu bahwa apa yang diceritakannya tidak masuk akal. 

Mereka menuntut bukti. Tapi ia tidak memilikinya. Ia seorang dokter, yang terbiasa berpikir logis dan menganalisa berdasarkan informasi pendukung dan bukti ilmiah. Demikian juga halnya dengan polisi. Ia paham akan hal itu. 

Tentu saja para polisi itu tidak percaya. Dan mereka juga tidak bisa menerima jawaban Lucas tentang siapa yang menuntunnya. Mereka lebih memilih untuk mencurigai dirinya sebagai pelaku penculikan dan perdagangan organ manusia ilegal. Namun mereka terpaksa melepaskannya. Karena tidak memiliki dasar yang kuat untuk menahannya. 

Sinting. 

Bagaimana mungkin ia membunuh anak dan istrinya sendiri? Lucas menyarankan agar mereka mengecek cctv di kantornya. Ia sedang melakukan operasi pada saat keluarganya diculik dari rumahnya. 

Dasar gila! Polisi tolol! Maki Lucas dalam hati. 

Ia segera menyusul ke rumah sakit begitu para polisi itu membiarkannya pergi. Namun proses autopsi belum juga selesai. Pihak rumah sakit mengatakan bahwa hasilnya akan diserahkan langsung ke petugas polisi yang berwenang. Mereka menyarankannya untuk bertanya ke kantor polisi beberapa hari lagi. 

Selalu seperti itu. Berbelit-belit dan lama. 

Percuma ia melapor pada pihak berwajib dan menunggu berjam-jam di kantor kepolisian untuk memberikan pernyataan dan menyelesaikan segala proses administrasi, jika ia sendirilah yang menemukan jenazah keluarganya. Seolah para polisi itu tidak bekerja. Dan setelah semua yang terjadi, mereka menuduh dirinyalah yang membunuh keluarganya. 

Benar-benar tidak masuk akal. Bajingan. 

Lihat selengkapnya