Ternyata rasanya seperti ini. Hidup namun seolah mati.
Lucas kembali ke penginapan. Duduk meringkuk di sudut kamar yang gelap. Rasanya ada sebagian dari dirinya yang dicabut lepas dengan paksa, meninggalkan luka menganga yang berdarah-darah.
Salah satu bagian terpenting di hatinya kini lenyap. Menyisakan lubang hitam gelap tak berujung.
Ada dua pilihan yang diteriakkan dengan keras di kepalanya, sejak ia menemukan tubuh Ezra yang mengapung kaku di laut.
Menyerah pada rasa sakit dengan meloncat dari atap hotel tertinggi supaya tidak perlu melanjutkan hidup dalam kesedihan dan penyesalan, atau, bangkit kembali, kemudian berusaha menemukan keadilan bagi Ezra dan yang lainnya.
Karena bukankah ia berniat memberikan keadilan bagi mereka? Jika Lucas memutuskan untuk bertahan dan tetap pada tujuannya, ia tahu Tuhan akan membantunya. Ia akan dibimbing untuk mengungkap kebenaran, seperti halnya ia dipandu ketika menemukan jenazah mereka.
Lucas menghantamkan tinjunya ke dinding. Buku-buku jarinya berdenyut. Rasa sakit menjalar naik ke sepanjang lengan kanannya. Air matanya merebak, dadanya perih.
Ia tidak mengerti. Ia tidak paham. Entah sudah berapa puluh kali ia mengulang pertanyaan ini di dalam kepalanya.
Kenapa? Kenapa? Kenapa?
Kenapa, Tuhan? Kenapa ini harus terjadi padanya?
Kenapa mengambil Ezra?
Kenapa membiarkan Ezra pergi dengan cara seperti itu?
Apakah memang ini skenario hidupnya?
Apakah Ezra ditakdirkan untuk meninggal di usia semuda ini, dengan cara yang begitu kejam?
Lalu kenapa ia yang dituntun untuk menemukan sendiri jenazah mereka?
Kenapa bukan polisi saja yang ditugaskan untuk itu?
Kenapa harus dirinya?
Lucas berteriak, menangis, meraung. Semua itu ia lakukan tanpa suara. Ia kembali memukuli dadanya. Rasanya sakit. Sakit sekali. Pedih. Sesak. Perih. Ia tidak bisa bernapas.
Kenapa Tuhan tidak mengambil nyawanya juga?
Karena belum saatnya.
Persetan dengan semuanya. Ia tidak mengerti. Ia tidak paham. Kemarahan menguasai dirinya.
...Cepat pilih. Mau yang pertama atau kedua? Bagaimana jika pilihan pertama saja? Aku bisa membantumu. Biarkan aku membantumu...
Lucas melihat dirinya keluar dari penginapan. Membawa mobilnya menuju hotel tertinggi di Jogja. Lalu naik ke atapnya. Dan terjun bebas dari sana. Dengan bibir tersenyum menyambut kematian.
...Lihat, kan? Sangat gampang. Ayo...
Pilihan pertama tampaknya begitu mudah dan nikmat. Terlihat jauh lebih menggiurkan. Karena dengan kematian, ia bisa bersama Ezra. Menyambut kematian untuk bersatu lagi dengan anaknya terasa begitu menyenangkan. Kematian bisa menghilangkan kesedihan. Kematian adalah jalan keluar terbaik untuk menyelesaikan masalah yang ia hadapi.
Namun kematian tidak bisa membawa keadilan bagi Ezra. Kematian akan membebaskan para pelaku penculikan dan sindikat perdagangan organ manusia ilegal bebas berkeliaran, mencari mangsa-mangsa baru.
Mangsa-mangsa seperti Ezra. Anak-anak kecil tanpa dosa.
Ah. Kening Lucas berkerut.
...Tapi, kau sudah begitu lelah. Begitu sedih. Kau tidak lagi memiliki tenaga untuk bertahan dan melanjutkan hidupmu tanpa anak kesayanganmu. Kematian adalah pilihan terbaik. Tinggal mengemudikan mobilmu ke hotel di depan kompleks. Lalu naik ke atapnya. Dan melompatlah dari sana. Tidak akan ada rasa sakit. Kematianmu akan terjadi dengan begitu cepat. Dan dalam satu kedipan mata, kau akan bertemu kembali dengan anakmu tercinta...
Lucas mengelap air mata dengan punggung tangannya.
...Bagaimana? Ayo, kita lakukan bersama. Aku akan menuntunmu. Loncat saja. Bangunlah! Ambil kunci mobilmu! Ayo! Lakukan! Cepat! Jangan berpikir lagi. Kau sudah tidak perlu repot-repot memeras otakmu. Biarkan aku yang membimbingmu. Cepat, lakukan sekarang! ...
Lucas berdiri.
...Ya! Ya! Seperti itu! ...
Ia berjalan cepat dan masuk ke dalam kamar mandi.
...Bukan! Salah! Bukan di situ! ...
Ia menyalakan pancuran dan melangkah ke bawahnya. Membiarkan air dingin mengguyur kepalanya.
...Dasar bodoh! Manusia berengsek tolol! ...
Lucas berdiri di bawah pancuran selama lima belas menit. Setelah pikirannya sudah cukup tenang, ia mematikan kran air dan melepas pakaiannya yang basah. Ia mengambil handuk, mengeringkan tubuh dan rambut, lalu melangkah keluar dari kamar mandi.
Setelah berpakaian, ia mengambil kunci mobil. Udara malam mungkin bisa sedikit membantu mengenyahkan rasa dukanya.
Ia sudah memutuskan. Sudah menetapkan pilihannya. Ia yang akan menang. Bukan iblis-iblis di dalam pikirannya.
Jika ini memang skenario takdir yang harus dijalaninya, ia akan berusaha menerima. Ia butuh waktu. Dan Tuhan tahu itu. Lucas paham sekali konsekuensi yang akan diterimanya jika ia melangkahi Tuhan dan merubah sendiri takdir hidupnya.
Jiwa yang bunuh diri tidak akan berakhir di mana-mana. Mereka akan terjebak di tempat kematiannya dan tidak akan pernah keluar dari sana. Mengulang terus adegan mereka mengakhiri hidup dan tidak bisa berhenti menyesali perbuatan mereka. Itulah neraka yang sesungguhnya. Neraka yang diciptakan oleh pikiran mereka sendiri.