Blessing of Hope

Alexia Chen
Chapter #7

Skenario yang Melenceng


Lucas mengira bahwa tidak ada lagi berita yang bisa membuatnya syok, setelah apa yang terjadi pada Sarah dan Ezra. Namun sepertinya ia keliru. 

“Apa?” tanyanya dengan mata terbelalak. “Ibu sudah tahu kalau Sarah akan meninggal?”

Ibu Sri mengangguk. “Saya melihat bahwa hidupnya tidak akan panjang. Tapi saya tidak diberitahu tentang caranya meninggal. Itu adalah rahasia Tuhan.”

“Dan selama ini, Ibu diam saja?” Lucas masih belum pulih dari rasa kagetnya. 

Dengan seulas senyum sedih, Ibu Sri menjawab, “Apa lagi yang bisa kulakukan, nak? Hanya karena aku memberitahumu bahwa perempuan itu bukanlah jodohmu, kamu menolak mengunjungiku selama sepuluh tahun. Masa iya, aku bilang kalau dia juga berumur pendek? Mungkin kamu akan membenciku, iya kan?” Ibu Sri mengeluarkan tawa hambar yang tidak mencapai matanya. 

Lucas terdiam. 

Rasa bersalah menggelayuti hatinya. Gurunya benar. Ia tahu itu. Ternyata memang sudah selama itu ia tidak pernah datang kemari. Dan jika diperhatikan dengan seksama, Ibu Sri juga terlihat lebih tua, dan lebih kurus dibandingkan dulu. Meskipun rambutnya tetap hitam tanpa sehelai uban pun yang terlihat, Lucas percaya penampilan tidak bisa menipu. Tahun ini Ibu Sri berumur enam puluh tahun. 

“Maafkan, aku, Bu,” ucap Lucas lirih. “Aku tahu kalau aku bersalah pada Ibu. Tidak seharusnya aku bersikap kekanak-kanakan. Dan mestinya aku memberi kesempatan–”

“Sudahlah, Lucas,” potong Ibu Sri, menghentikan permintamaafan Lucas yang tampak menyedihkan. “Aku tidak pernah marah padamu, nak. Semua juga sudah terjadi. Tidak ada yang perlu disesali lagi. Yang bisa kita lakukan saat ini adalah memperbaikinya. Lagipula, ini bukan tentang saya, tapi tentang hidupmu.”

“Ibu tidak menyalahkanku?” Terperangah, Lucas makin merasa seperti orang bodoh.

Ibu Sri menatap Lucas dengan wajah yang lebih serius, “Itu semua adalah kehendak bebasmu. Pilihan yang kamu ambil, termasuk segala resiko dan konsekuensi setelahnya. Tuhan mengijinkan semua itu terjadi. Namun bukan berarti semua itu terjadi karenaNya. Ingatlah untuk tidak menyalahkan Tuhan, Lucas. Kamu sudah melenceng dari skenario hidupmu yang telah ditentukan sebelum kamu lahir ke dunia. Apa yang terjadi pada dirimu setelah jalan hidupmu keluar dari jalur, bukan lagi menjadi tanggung jawab Tuhan. Kamu mengerti, kan?”

Melihat Lucas hanya diam saja, dia melanjutkan, “Saya tidak pernah menyalahkan pilihanmu. Itu hakmu. Hidupmu. Tugas saya di sini hanyalah membantu meluruskan jika ada yang bertanya pada saya. Dulu kamu bertanya apakah perempuan itu adalah jodohmu, dan saya mengatakan bukan. Tapi kamu tidak mau mendengarkan. Katamu tidak apa-apa, Tuhan pasti mengerti. Tapi, masalahnya Lucas, bukan Tuhan mau mengerti atau tidak. Sesuatu itu tidak sesederhana seperti yang kamu pikirkan. Waktu itu saya sebenarnya ingin menjelaskan, tapi kamu tidak pernah memberi kesempatan, benar kan, nak?”

Lucas mengangguk singkat, “Benar, Bu,* wajahnya terlihat sangat menderita. 

“Perempuan itu sudah memiliki jalan hidupnya sendiri. Skenarionya. Misi hidupnya. Yang harus dipenuhi, tidak peduli apapun yang terjadi. Setiap jiwa membawa misi pribadi mereka masing-masing ketika turun ke dunia. Walaupun takdirnya melenceng, misi itu tetap harus dipenuhi. Saya tidak bermaksud menghakimi, atau menyalahkanmu. Tapi yang terjadi adalah, kamulah yang dulunya bersikeras ingin mempertahankan egomu. Kamu tidak mau melepaskannya, walaupun sudah tahu bahwa dia bukan jodohmu. Jadi, nak, apapun yang kini terjadi pada kalian, semua itu bukan kesalahan Tuhan. Ini takdir Sarah dan Ezra. Dan kamu sendirilah yang memilih untuk terlibat di dalamnya.” Ibu Sri menjelaskan dengan perlahan, dan memberi penekanan yang lebih kuat untuk hal-hal penting yang harus disadari Lucas. 

“Mengenai anakmu, Ezra,” kata Ibu Sri dengan mata tertutup, seolah berusaha berkonsentrasi pada sesuatu yang tidak bisa dilihat Lucas. “Dia memang harus terlahir dari rahim Sarah. Tertulis di Kitab Kehidupannya. Dan dia meninggal di umur tujuh tahun.” Ibu Sri membuka matanya, menatap Lucas. “Itu skenarionya, nak. Apapun yang terjadi, dia memang hanya akan hidup sampai umur segitu. Apakah sampai di sini kamu paham apa yang ingin saya katakan?”

Jangan menyalahkan Tuhan. Itu pilihanmu sendiri. Sadarlah. 

Lucas teringat dengan apa yang terjadi selama beberapa hari ini, juga tentang pergumulannya, dan bisikan-bisikan di kepalanya. Ia sadar dan merasa malu sekali. Malu pada Tuhan. Karena sudah menyalahkanNya. Sudah menuduhNya. Sudah marah dan memakiNya. “Iya, Ibu. Aku mengerti.” Sekali lagi, ia menganggukkan kepalanya. “Aku tidak boleh menyalahkan Tuhan,” ujarnya getir. Ia merasa sangat berdosa karena sudah memfitnah Tuhan. 

“Benar, Lucas. Jangan pernah menyalahkan Tuhan. Ingatlah, nak. Walaupun kamu sudah diperingatkan, dan kamu tidak mengindahkannya dengan tetap pada keputusanmu yang melawan kehendak Tuhan, tapi Tuhan tidak pernah marah padamu. Bukankah kamu sendiri yang bilang bahwa Tuhanlah yang membimbing dan menuntunmu beberapa hari ini, Lucas?” tanya Ibu Sri. 

Lucas menghembuskan napas panjang. Kini pertanyaannya sudah terjawab. Kenapa keluarganya harus meninggal. Kenapa ia yang dituntun untuk menemukan sendiri jenazah mereka. Rupanya, walaupun ia sudah lancang dan mendahului rencana Tuhan, sudah egois dan mengacaukan skenario hidup mereka yang seharusnya tidak bersinggungan dengannya, Tuhan masih berbaik hati dan memaafkannya. Bahkan menolongnya. 

“Iya, Ibu. Aku tahu,” suaranya bergetar. Ia berusaha keras menahan agar air matanya tidak tumpah. “Aku paham.”

Ibu Sri mendesah, membetulkan letak kacamatanya. “Tuhan tidak pernah sedetikpun meninggalkanmu, nak. Jadi, berhentilah menyalahkanNya. Juga berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Semua sudah terjadi. Dan harus terjadi. Apapun alasannya,” dia mengingatkan Lucas. “Yang perlu kamu lakukan saat ini adalah minta maaf sama Tuhan. Setelah itu, maafkanlah dirimu sendiri. Kemudian relakan kematian istri dan anakmu. 

Berdamailah dengan semua yang terjadi. Setiap perbuatan kita selalu diiringi dengan resiko dan konsekuensinya. Ini adalah pilihanmu sendiri. Diterima. Lalu diikhlaskan. Terima bahwa kamu sudah salah. Terima bahwa ini adalah akibat dari kehendak bebasmu. Aku tahu ini sangat sulit. Lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Tapi berusahalah. Minta Tuhan memampukanmu. Karena sesungguhnya, mereka bukanlah istri dan anak yang diberikan Tuhan kepadamu. Skenario ini bukanlah milikmu. Ini milik orang lain. Dan seharusnya terjadi pada orang lain.” 

Tidak ada sepatah katapun yang sanggup keluar dari bibir Lucas. Ia menunduk. Membiarkan air matanya menetes, jatuh ke lantai keramik di dekat kakinya. Entah seberapa kuat ia menangis, sampai tidak menyadari tepukan lembut berulang di punggungnya. Lucas menghapus air matanya dan meminta maaf kepada Ibu Sri. Karena selalu merepotkan beliau dengan berbagai masalahnya. 

Ibu Sri hanya tersenyum, lalu menggeleng, “Kamu sudah saya anggap seperti anak saya sendiri, nak. Tidak perlu sungkan. Sekarang, jika kamu sudah siap, kamu bisa meminta Tuhan untuk membimbingmu kembali ke skenario hidupmu yang sesungguhnya. Untuk melanjutkan hidup, juga berdamai dengan masa lalu.”

Benar. 

Lucas terlihat hendak protes. Ia berusaha mengontrol emosinya. “Ibu,” ia memulai dengan suara pelan, “Aku tahu kalau mereka tidak seharusnya menjadi keluargaku. Tapi semua sudah terlanjur. Sarah masih sah istriku, dan Ezra adalah anak kandungku. Tidak ada yang bisa menyangkalnya. Aku bukan sengaja ingin melawan Tuhan. Namun mereka adalah keluargaku. Aku tidak bisa melepaskan tanggung jawabku begitu saja. Aku harus mencari keadilan bagi kematian mereka. Juga menemukan komplotan pembunuh itu. Aku tidak bisa melepaskan semua ini begitu saja.”

Kening Ibu Sri berkerut, “Bukankah sejak awal Tuhanlah yang membimbingmu untuk menemukan jenazah mereka? Kenapa tidak serahkan pada Tuhan saja?” Dia mengambil teh krisan dari atas meja, dan menyeruputnya pelan. 

Lucas bingung, “Apa yang dimaksud dengan menyerahkan pada Tuhan, Ibu? Apakah maksudnya aku tidak boleh lagi mengurus hal-hal yang berhubungan dengan mereka? Tapi ini hidupku. Walaupun sudah salah sejak awal, aku tetap harus bertanggung jawab pada apa yang sudah kumulai. Jadi, aku belum bisa kembali ke skenario hidupku yang sesungguhnya, dan melanjutkan apa yang harus kulakukan dengan perempuan yang katanya adalah jodohku yang sebenarnya.”

“Sebentar, nak,” potong Ibu Sri, sambil cepat-cepat meletakkan cangkirnya. “Tidak ada yang menyuruhmu harus kembali sekarang juga dengan jodohmu itu, Lucas. Memangnya kamu tahu siapa orangnya? Saya saja tidak diberitahu. Ini adalah rahasia Tuhan. Yang saya maksud tadi adalah, biarkan Tuhan menuntunmu kembali ke jalan yang lurus. Ke hidupmu yang sesungguhnya, yang sesuai dengan skenario aslimu. Tuhan akan membantu membenahi hidupmu yang berantakan saat ini. Apakah kamu bersedia?”

Lihat selengkapnya