Dua minggu telah berlalu sejak Lucas kembali ke Madiun.
Seperti yang disarankan Ibu Sri, Lucas membiarkan dirinya dibimbing oleh Tuhan, melalui hatinya.
Hatinya menyuruhnya untuk melanjutkan hidup. Maka ia pun melakukannya. Kembali pada kehidupannya di Madiun adalah satu-satunya cara untuk mengikhlaskan dan melepaskan.
Tuhan seharusnya tahu kalau ia berusaha dengan sangat keras. Hatinya terasa kosong. Ada duka dalam di sana. Segala sesuatunya masih tetap sama. Yang berbeda adalah, ia kini sendirian. Keluarganya sudah tidak ada. Memang sangat jarang ia menelepon atau berinteraksi dengan mereka karena kesibukannya. Namun setiap kali ia senggang, ia akan melakukan panggilan video dengan Sarah dan Ezra. Ia juga pulang ke rumah setidaknya dua kali dalam sebulan.
Ia belajar untuk menerima bahwa inilah jalan hidupnya saat ini. Ia juga mencoba untuk percaya pada janji Tuhan.
Tetapi anehnya, tidak ada hal penting yang terjadi. Tidak ada tanda-tanda keberadaan komplotan penculik yang diburunya. Tidak ada satu titik terang pun yang ditemukannya.
Satu-satunya hal penting yang terjadi adalah pihak kepolisian akhirnya menghubunginya, minggu lalu. Mereka mengabarkan bahwa jenazah Sarah dan Ezra sudah bisa diambil untuk dimakamkan. Petugas polisi juga telah menghubungi kantor perwakilan tenaga kerja outsourcing tempat Melani bekerja. Perusahaan itu yang nantinya akan menyampaikan kabar tersebut kepada keluarga Melani.
Selain itu, tidak ada perkembangan berarti yang ditemukan polisi maupun detektif Leo Hardy. Mereka tidak berhasil menemukan sidik jari pelaku, maupun hal-hal yang bisa digunakan sebagai bukti untuk melakukan pelacakan.
Satu-satunya keanehan adalah tali pengikat yang dipasangkan ke kaki korban. Dari hasil pengamatan, mereka menyimpulkan bahwa ada yang dengan sengaja memotong tali yang digunakan untuk menghubungkan tubuh korban dengan alat pemberat. Potongannya terlalu rapi untuk bisa dikatakan terputus karena pergesekan benda tajam. Tali itu memang sengaja dipotong sebagian, dan menyisakan sebagian kecil tetap tersambung. Motifnya belum diketahui. Namun pihak kepolisian menduga adanya unsur kesengajaan sehingga jenazah bisa mengapung ke permukaan laut. Mereka berjanji akan kembali menghubungi Lucas jika ada perkembangan lebih lanjut.
Seperti yang sudah-sudah, ia tidak berharap banyak.
Lucas mengkremasikan jenazah istri dan anaknya. Kemudian abu disebarkan ke laut, ditemani oleh Ibu Sri. Pesan gurunya tetap sama. Tetaplah berserah dan percaya pada Tuhan. Jika waktu-Nya telah tiba, maka ia akan dibimbing. Tidak akan terlalu cepat ataupun terlalu lambat. Semua akan terjadi seturut rencana-Nya.
Kini tiga minggu telah berlalu sejak kepergian Sarah dan Ezra, dan ia belum tahu bagaimana caranya menemukan arwah mereka. Setiap malam ia berdoa, meminta Tuhan mengembalikan jiwa mereka, membawanya kembali pada Lucas. Supaya ia bisa mengantar mereka kembali ke tempat peristirahatan yang semestinya. Bukannya tersesat dan gentayangan di dunia. Tapi tetap saja, tidak ada jawaban dari Tuhan.
Lucas menghembuskan napas lelah. Ia menengadah, menatap melalui jendela rumah sakit, langit kelabu berawan yang mungkin sebentar lagi akan turun hujan deras. Seharusnya malam ini ia bisa tidur nyenyak di apartemennya. Hampir setiap malam ia bertugas di rumah sakit, entah itu disebabkan oleh jadwal piketnya, maupun panggilan darurat yang mengharuskannya melakukan penanganan segera.
Tetapi malam ini pengecualian.
Tidak ada jadwal piket maupun panggilan darurat. Melainkan dokter jaga yang seharusnya piket malam ini berhalangan. Sehingga ia diminta untuk menggantikannya.
Cuaca malam ini agak dingin. Kelopak matanya terasa berat dan sudah beberapa kali Lucas menguap. Rasanya ia ingin keluar sejenak dari ruangan berpendingin. Barangkali sedikit jalan-jalan di taman belakang rumah sakit akan menghilangkan rasa kantuknya. Dorongan itu begitu kuat, jadi Lucas mengikut hatinya.
Ya. Ya. Sedikit angin segar bisa menyegarkan pikiranmu.
Ruang jaganya tidak jauh dari tangga darurat. Mungkin ia akan turun dari sana saja, pikirnya. Taman belakang hanya berjarak dua lantai di bawah. Sedikit olahraga malam juga bagus untuk tubuhnya.
Lucas melangkah pelan menuju tangga darurat. Setelah menarik pintunya hingga terbuka, ia mulai menuruni tangga. Di sini udara terasa pengap. Lampu neon di atas kepalanya berkedip sekali. Namun tidak padam. Ia mendengus. Merasa geli sendiri dengan pikirannya.
Memangnya kau pikir ini film horor?
Di tangga menuju lantai satu, ia bertemu dengan petugas kebersihan yang mengenakan jumper berwarna krem, bertopi hitam dan memakai masker. Rambutnya dikuncir menjadi ekor kuda. Laki-laki itu menganggukkan kepalanya sopan ketika Lucas berjalan lewat. Ia balas mengangguk. Namun pandangan petugas kebersihan itu tidak lagi tertuju pada wajahnya, melainkan dialihkan pada kartu tanda pengenal yang melingkar di lehernya.
“Dokter Lucas?” tanya laki-laki itu dengan suara baritonnya. “Anda seorang dokter ahli bedah?”
Langkah Lucas terhenti. Keningnya berkerut. “Iya, benar. Ada yang bisa saya bantu?”
Laki-laki di hadapannya mengangguk singkat, “Dengan berada di sini saja, Anda sudah sangat membantuku,” jawabnya. Kemudian dia mengangkat sebelah tangannya, seperti sedang mengibas.
Lucas menoleh bersamaan dengan sebuah hantaman keras di belakang kepalanya. Ruangan seolah berputar. Lalu semuanya menjadi gelap.
* * *
Goncangan dan benturan yang sesekali terasa di bawah tubuhnya membangunkan Lucas. Terkadang membuai, namun seringkali lebih seperti gangguan yang membuat tidurnya tidak nyaman. Kepalanya seperti mau pecah. Rasanya berdenyut dan berdentum-dentum. Secara refleks, ia ingin mengangkat tangan untuk mengelusnya. Tetapi tangannya tidak bisa digerakkan.
Kelopak matanya terasa berat ketika dipaksanya untuk membuka. Ia berkedip-kedip selama beberapa saat. Yang ada hanyalah kegelapan total. Napasnya terasa sesak dan panas, seolah ada selapis penghalang diletakkan di sana.
Kemudian kesadarannya mulai pulih. Dan pikirannya perlahan menjadi jernih. Ia ingat sekarang. Pada petugas kebersihan bermasker dan bertopi hitam di dalam tangga darurat. Juga pada kibasan tangannya yang sekarang mulai terlihat seperti sedang memberi aba-aba. Lalu hantaman keras yang diterima oleh kepalanya sebelum kesadarannya lenyap.
Ia mengerang pelan. Jantungnya mulai berdegup tidak beraturan. Apa yang terjadi? Ia mencoba mengangkat kepalanya yang terasa seberat satu ton. Sebelah lengannya seperti mati rasa.
Apakah ia diculik?
Tenanglah.
Kedua tangannya disatukan dan diikat di punggung. Ada sesuatu yang menutupi kepalanya. Dari bau apek yang tercium, kemungkinan besar adalah karung goni.
Mendadak goncangan berhenti. Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu mobil yang dibanting menutup. Lalu bunyi gesekan benda berat yang didorong.
“Hei, kau! Bangun!”
Ada yang berteriak, suaranya sedikit parau dan menggema.
“Dia sudah bangun,” jawab sebuah suara berat yang terdengar tidak jauh darinya.
Langkah-langkah kaki mendekat. Detik berikutnya, ia ditarik dengan kasar hingga tersentak berdiri. Kepalanya terantuk sesuatu dengan keras. Sempoyongan, Lucas merasa ia akan jatuh. Namun ada yang menahan tubuhnya, dan ia ditarik ke depan. Atau lebih tepatnya, didorong maju. Perbedaan tinggi mobil dan tanah yang cukup signifikan membuatnya terjengkang. Ia merasa tubuhnya limbung dan miring ke depan. Terkejut, ia menahan napas, menunggu benturan terjadi. Tapi sesuatu yang keras menahan dadanya. Selanjutnya, lengan atasnya mulai ditarik paksa. Ia diseret sepanjang jalan dengan kondisi kepala masih tertutup.
Perjalanannya cukup singkat. Akhirnya mereka berhenti menyeretnya. Dari sebelah kanan, ia mendengar suara serencengan anak kunci yang dikeluarkan, bunyi rantai, dan terakhir gesekan nyaring pintu besi yang digeser. Ia didorong dengan kuat ke depan. Kali ini tidak ada lagi yang menahannya.
Lucas jatuh terjerembab. Lengan kirinya yang digunakan untuk menahan berat badannya berdenyut menyakitkan. Kedua lututnya yang menghantam lantai terasa perih. Kemudian ia mendengar bunyi pintu besi yang ditarik hingga menutup.
Selanjutnya, hanya kesunyianlah yang tersisa.
* * *
Kediaman Geo Ferdi…
Di sebuah kawasan peristirahatan mewah di Madiun.
“Apakah ada kabar terbaru?” tanya seorang laki-laki paruh baya yang mengenakan kaca mata baca tebal tanpa bingkai. Rambutnya sudah mulai menipis. Kerutan samar terlihat jelas di sudut matanya. Ia duduk di belakang meja kerja besar dari kayu jati dengan ukiran minimalis di ruang tamunya, yang terletak di bangunan utama area peristirahatan milik pribadi.
Laki-laki itu bernama Geo Ferdi. Nama samaran yang digunakannya untuk keperluan bisnis besar yang dirintisnya sejak lebih dari sepuluh tahun yang lalu.
Seorang laki-laki lain keluar dari ruangan yang digunakan sebagai kantor operasional, yang letaknya berseberangan dengan ruang tamu yang telah dimultifungsikan sebagai ruang kerja, di mana Geo Ferdi berada.
“Mereka bilang jika malam ini tidak keburu, berarti besok pagi, bos,” jawab laki-laki berbadan tegap dengan rambut dipangkas pendek model tentara.
Geo Ferdi menghisap cerutunya. “Lucu sekali. Katanya kemarin sore sudah akan tiba. Ini malah mundur jauh dari waktu yang sudah dijanjikan. Apa alasan mereka, Nico?”
Laki-laki yang dipanggil Nico menjelaskan, “Kendala mereka adalah adanya pemeriksaan dadakan di jalan-jalan. Jadi, mereka harus lebih berhati-hati demi menjaga keamanan kedua belah pihak.”