Blessing of Hope

Alexia Chen
Chapter #9

Reuni


Langit di luar sudah berubah gelap ketika laki-laki yang sama membuka pintu dan membawakan makanan. Dia berjalan cepat menghampiri Lucas. Membungkuk untuk meletakkan piring dengan bungkusan cokelat seperti tadi siang, namun tanpa gorengan. Juga sebotol air mineral. Sebuah sendok plastik tampak tersemat di antara karet gelang pengikat. Setelah mengambil piring bekas, dia menegakkan tubuhnya dan berbalik. Tidak ada tanda-tanda ingin mengajak komunikasi atau sebagainya. Dia bahkan menarik rendah topi baseball hitamnya dan matanya tidak pernah berhenti pada Lucas. Seolah ingin cepat-cepat pergi dari sana. 

Lucas harus melakukan sesuatu. 

“Putrimu bernama Freya, ya, Pak Herman?”

Langkah laki-laki itu terhenti. Namun dia tidak berbalik. 

“Freya meminta tolong agar aku membantumu. Dia bilang kalau kau tidak tahu bagaimana caranya untuk keluar dari pekerjaanmu. Dia mengatakan bahwa kau sangat membenci kerjaan ini. Kau menyesali semua yang sudah kau lakukan. Kau merasa berdosa tapi kau butuh uangnya. Tapi sekarang, setelah orang yang membuatmu terpaksa melakukan pekerjaan ini sudah tidak ada lagi di dunia ini, kau tidak lagi memiliki alasan untuk tetap berada di tempat ini,” ujar Lucas, mengucapkan setiap katanya dengan sangat berhati-hati, “Freya juga bilang kalau kau memohon setiap malam kepada Tuhan, agar diselamatkan,” tambahnya. 

Tanpa menoleh, laki-laki itu menjawab dengan dingin, suaranya sedikit bergetar. “Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan. Lagipula, namaku Felix.” Lalu dia keluar dari ruangan dalam langkah lebar. 

Namun Lucas sudah melihat apa yang perlu dilihatnya. Kedua tangan Felix yang kaku dan mengepal erat di sisi tubuhnya. Karena itulah ia tahu bahwa apa yang barusan disampaikannya sudah benar. Ia hanya perlu berdoa, supaya Tuhan menyadarkannya. 

Dari pintu besi yang belum menutup sempurna, Lucas melihat seorang laki-laki lain berjalan mendekat. Rambut keritingnya sedikit melewati kerah baju. Dia lebih pendek dari Felix dan tubuhnya lebih berisi. Felix menyerahkan rantai dan gembok padanya. Mengatakan sesuatu yang tidak dapat didengar Lucas, dan berlalu dari sana. Laki-laki berambut keriting itulah yang kemudian menarik pintu besi hingga menutup, memasang kembali rantai dan gembok. 

Ruangan menjadi gelap ketika cahaya lenyap bersamaan dengan pintu besi yang ditutup. Lucas hanya bisa mengandalkan sedikit cahaya redup yang menyelinap masuk melalui ventilasi. Tadi siang ia melihat ada tempat lampu terpasang di langit-langit, juga saklar di dinding, di dekat pintu. Sayangnya, ada yang lupa menaruh bola lampu. 

Lucas merasa perutnya keroncongan. Ia membuka bungkusan cokelat di atas piring, dan menemukan nasi padang dengan lauk sederhana. Lumayan, batinnya. Ia makan dengan lahap, sambil memeras otak. Berpikir bagaimana caranya agar ia bisa keluar dari ruangan ini. 

Ia mengedarkan pandangan. Matanya berhenti pada ventilasi-ventilasi berteralis. Kecuali ia memiliki gergaji besi atau gunting besi, selain itu tidak ada yang bisa dilakukannya. Lucas menghela napas panjang. Setelah meletakkan piring dengan bungkusan kosong ke lantai, ia melepaskan jas dokternya. Walaupun senja sudah turun, ruangan masih terasa pengap. Ia kepanasan. Ia menggulung lengan kemeja hitamnya sampai ke siku, menyandarkan kepalanya pada tiang di belakang, dan mencoba untuk tidur. 


* * *


Ia sudah hampir terlelap ketika suara gemerincing rantai di pintu membuatnya terduduk tegak dengan waspada. Ruangan gelap gulita. Ia perlu mengedip berkali-kali untuk menyesuaikan matanya dalam gelap. 

Ada yang aneh, pikirnya. Kali ini, suara rantai tidak nyaring seperti sebelumnya. Seolah siapapun yang berada di balik pintu, menariknya dengan sangat perlahan dan berhati-hati. Lucas memasang telinga. Mendengar dengan seksama. Di malam yang sepi dan hening, setiap denting suara terdengar begitu jelas. 

Setelah rantai berhasil dilepas dari pintu, ia menangkap bunyi-bunyian seperti besi yang diletakkan perlahan di atas lantai. Detik berikutnya, suara klik pelan pintu yang dibuka dari luar terdengar. Kemudian suasana berubah sunyi. Lucas masih berusaha menangkap sekecil apapun pergerakan di luar. Namun tidak ada yang terjadi. Seolah siapapun yang barusan melepas rantai dan membuka pintu, telah pergi. 

Sambil tetap waspada, Lucas berdiri dan melangkah perlahan mendekati pintu. Ia mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka. Tidak ada siapa-siapa. 

Ayo, segera pergi dari sini! 

Ia mendorong pintu besi agar terbuka lebih lebar, supaya cukup bagi tubuhnya untuk menyelinap keluar. Lalu ia menutupnya kembali sampai terdengar bunyi klik pelan. 

Di luar semuanya tertata dengan begitu rapi. Bahkan rerumputannya dipangkas dengan baik. Lampu taman terpasang di beberapa area, lengkap dengan kamera cctv. Ia mungkin akan syok jika sebelumnya tidak mengintip melalui punggung Herman–atau Felix, ketika laki-laki itu mengantarkan makanan untuknya. Alih-alih daerah pergudangan atau pelabuhan terlantar, Lucas malah mendapatkan pemandangan taman berumput hijau yang begitu terawat. Ia mengedarkan pandangannya. Sepertinya ia berada di semacam kawasan tempat peristirahatan mewah. 

Apakah Felix yang membukakan pintu untuknya? 

Tidak usah memikirkan itu dulu. Cepat pergi sebelum ada yang datang! 

Lucas berjalan dalam langkah-langkah lebar, berlindung di balik bayang-bayang. Tidak jauh di depannya, sebuah bangunan putih bertingkat dua menarik perhatiannya. Lampu taman dan terasnya menyala. Jantungnya berdegup kencang. Ada perasaan menggebu untuk segera mengecek rumah tersebut. 

Ayo! Waktumu terbatas. 

Ia mengikuti kata hatinya. Mengendap-endap dan tetap terlindung di balik pepohonan, menghindari tempat terang supaya siluetnya tidak tertangkap kamera cctv. Ia bersyukur mengenakan kemeja hitam di balik jas dokternya kemarin. 

Dari tempatnya bersembunyi, Lucas kesulitan untuk melihat lebih jelas. Ia menjauh dari jalan setapak. Berputar di area kiri yang lebih gelap untuk mencapai halaman belakang rumah itu. Dengan sangat berhati-hati, ia menunduk sambil bergerak cepat. Dari satu pohon ke pohon lainnya. Ia harus tetap tersembunyi, karena siapa tahu ada yang memperhatikannya dari dalam rumah. 

Tidak ada kamera cctv di halaman belakang. Dalam dua langkah lebar dengan punggung menempel pada dinding, ia berhasil mencapai jendela pertama di dekat pintu belakang yang tertutup. Lampu teras menyinari lantai marmer hitam yang berdebu. 

Tirai jendela di sebelah kirinya sedikit tersibak, memperlihatkan ruangan putih di baliknya. Lucas berusaha mengintip dari tempatnya berdiri. Keningnya berkerut. Ada aktivitas di dalam. Ada yang berjalan melintasi ruangan. Ia melihat meja bulat dengan beberapa kursi yang mengelilinginya. Di dekat jendela, ada kompor dan tempat cuci piring, juga sesuatu yang menyerupai kulkas. Ini ruang dapur. 

Sosok yang tadi melintasi ruangan muncul kembali. Dia membawa sebuah cangkir berwarna merah di tangan. Berhenti di depan meja bulat, dia meletakkan cangkir ke atas permukaan meja, menarik kursi, lalu duduk dengan wajah menghadap ke jendela. 

Seorang perempuan. Rambut hitamnya digelung, dijepit ke atas, menyisakan beberapa helaian ikal yang menjuntai, membingkai wajah ovalnya yang menawan. 

Lucas tertegun. 

Ia mengenali sosok itu. Wajah yang sudah lama tidak pernah dilihatnya. Wajah yang terkadang dirindukannya. 

Ava William yang cantik dengan mata indahnya yang mempesona. 

Lucas mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali mereka bertemu. Saat itu ia menghadiri pesta pernikahan Ava. Barangkali delapan atau sembilan tahun yang lalu. 

Tapi kenapa Ava ada di tempat ini? Apa yang dilakukannya di sini? Kening Lucas berkerut dalam ketika ia mengamati Ava. Kenapa Ava… menangis? Dan wajah itu, terlihat tidak sehat dan lelah. Sesuatu yang dilihatnya membuat hati Lucas mencelos. Tunggu, apa itu yang ada di wajahnya? Apakah itu memar? 

Tanpa disadarinya, keinginan untuk memperoleh pemandangan yang lebih jelas membuatnya melangkah maju, mendekati kaca jendela. Tidak disangka, dahinya membentur kaca di depan, sehingga menimbulkan bunyi ‘duk’ pelan. Ia memaki dalam hati. Namun terlambat, belum sempat Lucas melangkah mundur, Ava mendongak. Dan mata mereka bertemu. 

Ava menatapnya dari balik kacamata tanpa bingkai yang bertengger di atas hidung mungilnya. Sepasang matanya yang mengamati Lucas berubah dari waspada ke sorot mengenali. Ekspresi terkejut mewarnai wajahnya. Bibirnya membentuk ‘o’ kecil sebelum tangannya terangkat untuk menutupi. 

Lihat selengkapnya