Blessing of Hope

Alexia Chen
Chapter #10

Konfrontasi


Lagi-lagi, Ava membuang muka. 

Lucas hampir kehilangan kesabarannya. “Mereka menembakmu? Dan menghajarmu sampai seperti itu?” Ia menunjuk wajah Ava yang babak belur terang-terangan. “Jujurlah padaku Ava. Jelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini!”

Ava bungkam. Wajahnya mengernyit, seolah menahan sakit. Lucas tahu bukan sakit fisik yang ditahannya, melainkan pergumulan batin hebat sedang terjadi di dalam diri Ava. 

“Kenapa mereka menembakmu, Ava? Apakah kau terlibat dengan komplotan itu? Atau kau hanyalah korban seperti halnya diriku?” desak Lucas. Ava tetap bergeming. “Aku tahu kalau kau mengetahui sesuatu. Bantu aku, Ava. Katakan padaku apa yang terjadi di sini. Setidaknya, biarkan aku membantumu. Kau bisa mempercayaiku,” pintanya. Suaranya yang keluar terdengar memelas. Ia tidak sanggup melihat Ava diperlakukan seperti ini. 

Ke mana Ava yang ceria dan penuh semangat? Siapa perempuan yang ada di hadapannya? Lucas tidak mengenalnya. Ia tidak pernah melihat sisi Ava yang seperti ini. Putus asa dan kehilangan harapan. 

Sesuatu terlintas di kepalanya. Seolah sengaja diingatkan. 

Tanyakan. 

Lucas tampak ragu dengan ide tersebut. Ia harus mempertimbangkan kembali. Sebaiknya ia bertindak dengan hati-hati. Ia tidak ingin kelihatan menuduh. Lagipula, kondisi Ava sangat buruk. 

Tanyakan saja padanya. 

Lucas mendesah, menarik sebuah kursi dan duduk di depan Ava. Ia mengambil alkohol dan kapas untuk membersihkan luka Ava yang jahitannya terbuka. “Tahan,” katanya. Lalu menambahkan dengan suara ringan, “Apakah kau tahu kalau aku kehilangan Sarah dan putraku, Ezra karena komplotan ini?”

Walaupun tidak terlalu kentara, Lucas yakin ia melihat sentakan kecil yang tidak ada hubungannya dengan luka tembakan yang belum diobatinya, ketika Ava mendengar pertanyaannya. Ia menunggu Ava memberikan reaksi lain. Namun selain wajahnya yang kini berubah menjadi sepucat mayat, ekspresinya masih datar. 

Maka sambil mulai membersihkan luka Ava, Lucas melanjutkan, “Mereka diculik oleh komplotan ini. Diambil organ dalamnya. Kau tahu, praktek perdagangan organ manusia ilegal. Jenazah mereka ditemukan mengapung di laut dua minggu yang lalu,” ucapnya pahit. Sekali-sekali, matanya memperhatikan Ava dengan seksama. Mencari tanda-tanda di sana. Ia tidak tahu apa yang dicarinya. Namun hatinya terus mendesaknya, dan memberitahunya bahwa Ava tahu sesuatu terkait kematian mereka.

Ironisnya, hingga detik ini, Ava masih sibuk menghindari mata Lucas. Wajah pucatnya terlihat sengsara. Dia seperti mau menangis. Bibirnya digigit begitu kuatnya sampai menimbulkan bekas putih. 

Dengan hati-hati, Lucas bertanya lagi, “Apa kau tahu tentang hal ini, Ava?”

Di depannya, Ava mulai terisak pelan. Air mata mengalir menuruni pipinya. 

Jantung Lucas berdegup kencang. Perasaannya tidak enak. Ia berusaha untuk tetap sabar, dan menunggu. Memberinya waktu. Ia tahu Ava membutuhkannya. Ada rahasia yang disembunyikan Ava. Sesuatu yang sangat penting yang berhubungan dengan kematian anak dan istrinya. 

Ketika akhirnya Ava menyerah dan menatap Lucas, ada kesedihan mendalam di sana, juga penyesalan. Lucas sama sekali tidak menyukai apa yang ditemukannya. 

“Jangan banyak bergerak dulu,” saran Lucas, setelah selesai memasang perban baru pada luka Ava. “Nanti jahitannya terbuka lagi jika kau terlalu banyak beraktivitas.” Ia mengambil sehelai tisu dan menyerahkan pada Ava. 

“Maafkan aku, Lucas,” ratapnya. Tangannya yang menerima tisu gemetaran. “Maaf, sungguh, aku benar-benar menyesal. Tapi kau harus percaya padaku. A-aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghentikan hal itu.”

Lucas membeku. 

Bukan jawaban seperti ini yang dikiranya akan keluar dari mulut Ava. Ia mengira mungkin Ava akan memberinya informasi mengenai komplotan itu, bukannya meminta maaf padanya.

“Apa maksudmu, Ava?” tanyanya dengan wajah syok. Lidahnya terasa kelu, “Jadi, kau… kau memang terlibat di dalamnya?” Lucas berdiri mendadak, membuat kursi yang didudukinya terjengkang ke belakang. Suaranya terdengar nyaring di malam yang sunyi. 

Ava panik, matanya melebar ketakutan. “Stt, diamlah, Lucas! Jangan sampai mereka mendengarmu. Aku memang tidak bisa membantumu kabur dari tempat ini. Tapi setidaknya, aku bisa memberimu informasi yang kau butuhkan, jika kau cukup beruntung untuk keluar dari sini,” tukas Ava. Napasnya tersenggal. “Percayalah padaku, Lucas.” Mata Ava berkaca-kaca. 

Lucas menatapnya curiga. Namun tidak menemukan apa-apa selain kesungguhan di sana. Ia mengangguk. “Baiklah. Aku akan mencoba percaya padamu.” Ia mengambil kursi yang terguling di lantai. Membenarkan posisinya dan kembali duduk di hadapan Ava. 

Setelah menarik napas panjang berkali-kali, menghapus air matanya, dan membetulkan letak kemeja hitam di depan dadanya, akhirnya Ava membuka mulut. “Boleh tolong ambilkan kemeja bersih di kamarku, Lucas?” ujar Ava dengan seulas senyum memelas. “Ruangan pertama setelah ruang tamu. Ada di dalam lemari. Tolong pilihkan yang warna gelap dan lengan pendek. Terima kasih.”

Lucas mendesah. Ia bangkit dari kursi dan pergi ke ruangan yang dimaksud Ava. Mengambil kemeja lengan pendek polos, berwarna hijau army. Ia kembali tepat pada saat Ava berdiri membelakanginya. Lucas memilih untuk tetap berada di belakang Ava, membantu perempuan itu mengenakan kemejanya. Pelan-pelan supaya tidak menyenggol bahu Ava. Kemudian ia memutar ke depan, dan mengancingkan kemeja itu. Ia melihat semu kemerahan di wajah Ava yang berusaha disembunyikannya dengan menghindari kontak mata dengan Lucas. 

Ava mengucapkan terima kasih dan duduk kembali ke kursinya. Dia berdehem dua kali sebelum menyebut nama Geo Ferdi. 

Dan mulai menjelaskan dengan sedikit terbata. “Jangan bertanya kenapa aku mengetahui semua ini. Aku punya alasannya sendiri. dan kau harus percaya padaku, Lucas.” Ava memulai.

Lucas mengangguk. Mulai skeptis dengan kalimat ‘kau harus percaya padaku’ yang kelewat sering diucapkan. 

Lihat selengkapnya