Blessing of Hope

Alexia Chen
Chapter #11

Rencana Penyelamatan


Avalah yang lebih dulu melepaskan diri. 

Dia tampak canggung. Demikian juga dengan Lucas. Untuk sesaat, mereka seolah kembali ke masa lalu. Kembali ke masa-masa kuliah dulu. Masa-masa penuh kenangan indah. 

Sekarang bukan saatnya. Nanti. 

Lucas berdehem, “Siapa tadi nama anakmu, Ava?” tanyanya memecah keheningan. “Ethan?”

Ava mengangguk. “Iya, namanya Ethan. Usianya tujuh tahun.”

Seumuran dengan Ezra, batin Lucas sedih. “Di mana dia disekap?”

Ava tampak bingung. “Untuk apa kau menanyakannya, Lucas?”

“Aku ingin kau menggambarkan peta kawasan vila ini. Beritahu aku lokasi Ethan ditahan, juga tempat operasi dilakukan. Di mana para penjaga biasanya ditempatkan, dan ruangan Geo Ferdi berada. Aku perlu denah lengkap supaya bisa merencanakan langkah selanjutnya.” Lucas menyerahkan kertas dan pena kepada Ava, memberi tanda agar dia melakukan apa yang diminta. 

“Jangan bertindak macam-macam, Lucas,” dia memperingatkan. Wajahnya tampak waspada. “Aku tidak ingin kau mati konyol. Kau hanya perlu mencari cara untuk keluar dari tempat ini.”

Lucas mengerutkan keningnya sambil menggeleng, “Jika aku pergi dari tempat ini, maka kau maupun anakmu akan ikut bersamaku.”

Ava mengeluarkan tawa kering tanpa suara. “Ini bukanlah saat yang tepat untuk sok jadi pahlawan.”

“Bukankah kau memintaku untuk percaya padamu? Sekarang giliranku yang memintamu untuk percaya padaku,” Lucas tersenyum, “Bagaimana, Ava? Bukankah pertemuan kita di sini saja sudah merupakan sesuatu yang mustahil? Tapi, hal itu terjadi, iya kan?”

Ava terlihat sedang menimbang-nimbang. 

Lucas berusaha meyakinkannya. “Tidak ada salahnya mencoba. Barangkali beberapa jam lagi mereka akan menyadari kalau aku kabur dari gudang. Dan perburuan akan dimulai. Kenapa tidak berusaha melakukan sesuatu yang berguna daripada menunggu untuk dibunuh? Karena aku tidak akan pernah melakukan apa yang mereka minta kulakukan.” Sebelah alisnya terangkat tinggi, seolah menantang Ava. “Menurutmu kenapa mereka menculikku? Apakah karena kau terluka? Apa tidak ada dokter lain?” Tanyanya curiga. 

“Ada. Mereka memiliki seorang dokter rekanan yang dibayar dengan harga yang sangat mahal. Dia jugalah yang m-menggantikanku melakukan operasi saat aku menolak,” kata Ava terbata, penuh rasa bersalah. “Dia jugalah yang membantu mengobati luka-lukaku. Tapi sekitar dua minggu yang lalu dia mengalami kecelakaan lalu lintas. Terluka sangat parah, dan dinyatakan lumpuh. Geo Ferdi marah sekali. Jadi, dia… dia…”

“Datang kepadamu setiap kali dia mengingat kejadian itu. Lalu melampiaskan kemarahannya padamu. Karena itulah luka jahitanmu terbuka dan tidak sembuh-sembuh. Juga kenapa lebam di wajahmu ada sebagian yang hampir pulih dan ada yang terlihat masih baru, padahal kejadian kau menolak melakukan perintahnya sudah terjadi tiga minggu yang lalu,” tukas Lucas berang, menyelesaikan apa yang tidak sanggup diselesaikan Ava. 

“Kenapa kau bisa tahu?” Ava terbelalak, bibirnya sedikit menganga. “Bagaimana…”

Lucas mengangkat sebelah tangannya, menghentikan pertanyaan Ava. “Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa tahu. Tapi pemahaman itu terbersit begitu saja di dalam kepalaku. Seolah aku langsung tahu apa yang terjadi padamu. Dan itu berarti kau tidak berbohong. Anggap saja aku dituntun oleh Tuhan ke tempat ini. Seperti cara-Nya membimbingku untuk menemukan jenazah Sarah dan Ezra yang mengapung di permukaan laut. Iya, benar, Ava. Kau tidak salah dengar. Aku yang menemukan tubuh mereka setelah berkeliling ke mana-mana selama enam hari seperti orang gila.”

“Oh, Lucas.” Mata Ava berkaca-kaca. “Maafkan, aku.”

“Sekarang, maukah kau percaya padaku? Karena aku yakin pertemuan kita di sini bukanlah kebetulan belaka.” Lucas menatap mata Ava, membiarkannya melihat kemantapan hatinya. 

“Benar. Tidak boleh patah semangat sebelum mencoba,” ucap Ava sedikit lebih keras. Seolah berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Lalu mulai mencoret-coret di atas kertas. “Seluruh kawasan ini adalah milik Geo Ferdi. Di gerbang depan, ada dua pos satpam yang dilengkapi dengan cctv. Pada masing-masing sudut taman, terdapat dua bangunan kecil yang difungsikan sebagai gudang di bagian depan. Dan dua bangunan gudang lagi yang lebih besar di ujung terjauh bagian belakang. Selanjutnya, kau akan menemukan empat vila bercat putih bertingkat dua yang dibangun mengelilingi sebuah bundaran dengan air mancur di tengah-tengahnya. Dua vila di bagian depan tidak dihuni dan selalu dikunci. Sedangkan dua lagi, termasuk vila ini, satunya adalah tempat beristirahat kelima orang anak buah Geo Ferdi. Namun sangat jarang digunakan. Sedapat mungkin hindarilah jalan utama karena akan mengundang perhatian.”

“Jika keluar dari vila ini, kau akan melihat rumah utama di ujung taman. Satu-satunya bangunan megah bertingkat dua di kawasan ini, yang diapit oleh dua gudang besar di masing-masing sisinya. Itulah bangunan utama. Semua kegiatan operasional ilegal dilakukan di sana. Lima orang anak buah Geo Ferdi selalu berjaga di tempat itu. Berpatroli secara bergantian. Dijaga dengan sangat ketat. Mereka semua dilengkapi dengan persenjataan. Jangan coba-coba untuk melawan mereka. Sebaiknya kau segera kabur atau bersembunyi jika bertemu dengan aalah satu di antara mereka. Ada cctv di setiap sudut halaman dan juga di dalam rumah.”

Lucas mendengarkan dengan seksama. Sambil mempelajari peta kasar yang sedang digambar Ava. Memperkirakan di mana dia bisa bersembunyi. Itupun jika ada bangunan yang tidak dikunci. Empat gudang di setiap sudut taman. Empat vila yang mengelilingi air mancur. Juga rumah utama yang megah. Kemungkinan besar ia akan menemukan arwah Sarah dan Ezra di sana. 

“Di sana jugalah mereka menyekap Ethan,” lanjut Ava sedih. “Di salah satu kamar di lantai dua. Felix yang biasanya memastikan Ethan makan tiga kali sehari. Dia jugalah yang selalu menanyakan keadaan Ethan dan memberitahuku secara diam-diam.”

“Di mana ruang operasi sialan itu?” tanya Lucas. Itulah tempat pertama yang akan ditujunya. Jika berhasil masuk ke rumah utama. 

Ava mengerlingnya lalu buru-buru menjawab. “Ada di lantai dasar. Ruangan besar dengan pintu yang selalu tertutup di sebelah kiri dapur. Ruangan pertama berpintu di depan tangga menuju lantai dua, jika kau masuk melalui pintu belakang. Yang biasanya berjaga-jaga di sana adalah Luis. Dia itu supir pribadi Geo Ferdi yang ingin segera pensiun. Dia sangat mahir dalam bermain pisau. Namun dia berteman baik dengan Felix dan dia juga satu-satunya yang ramah padaku selain Felix. K-kurasa kita bisa mempercayainya,” dia mendorong kursinya dan berdiri, meraih kertas lain lalu menyobeknya menjadi bagian yang lebih kecil. “Mungkin aku bisa menulis untuknya agar membiarkanmu masuk. Barangkali dia bersedia membantu.”

“Ide bagus, Ava. Kuharap Luis bersedia bekerja sama,” ucapnya kurang yakin. Kening Lucas sedikit berkerut saat menyadari kedutan di sudut bibir Ava. “Apakah ada yang lucu?”

Ava melipat kertasnya dan menyerahkannya pada Lucas. “Simpan kertas itu baik-baik dan berikan pada Luis begitu kau melihatnya. Mudah-mudahan dia mau bekerja sama.” Sekarang dia menatap Lucas dengan sorot mata getir. “Sebenarnya aku hanya sedang berpura-pura kalau semua yang kita lakukan akan berjalan dengan mulus. Lumayan juga untuk menghibur diri. Memikirkan akan ada kesempatan bagi kita semua untuk keluar dari tempat ini hidup-hidup.” Dia mengeluarkan tawa pelan yang sarat ironi. 

“Berikan saja aku denah dan semua informasi yang kau ketahui. Sisanya kita serahkan kepada Tuhan.”

Ava menghela napas, menatap Lucas dengan sungguh-sungguh. “Katakan saja kau berhasil masuk ke bangunan utama dan mengeluarkan Ethan. Tapi kita tetap saja tidak akan bisa keluar dari tempat ini. Karena satu-satunya jalan keluar adalah melalui gerbang depan yang hanya bisa dibuka dengan remote control. Dan remotenya dipegang oleh Geo Ferdi.”

Lucas memberinya seulas senyum pasrah. “Percayalah padaku, Ava. Aku bisa keluar dari gudang tempat mereka menyekapku saja sudah merupakan sebuah keajaiban,” ungkapnya. “Jika satu keajaiban bisa terjadi, kenapa keajaiban-keajaiban lain tidak akan menyusul?”

Ava tampak menimbang-nimbang. Sebelah tangannya menyentuh kalung dengan liontin berbentuk huruf A, yang terlihat familier di mata Lucas. “Maukah kau membantuku melepaskan kalung ini? Tunjukkan pada Ethan saat kau menemuinya. Dia akan tahu kalau kau bisa dipercaya,” pinta Ava dengan wajah sedikit memerah. 

“Itu… kalungku?” Lucas terbelalak. 

Lihat selengkapnya