Blessing of Hope

Alexia Chen
Chapter #12

Wajah-Wajah di dalam Dinding


Nico


Malam masih panjang dan Pak Bos sudah marah-marah lagi. Nico berdecak dan masuk ke dalam mobilnya. Membanting pintu sampai tertutup, menurunkan kaca jendela, dan memberi tanda agar SUV hitam yang terparkir di sebelahnya jalan duluan. 

Beberapa detik kemudian, Nico mendengar bunyi mesin yang dinyalakan dan mobil meluncur pelan meninggalkan halaman depan bangunan utama. 

Ia menginjak gas dan mengikuti dalam jarak aman, mengiring mereka menuju gerbang depan. Perjalanan dari bangunan utama menuju gerbang biasanya ditempuh hanya dalam waktu tidak sampai dua menit jika kendaraan dibawa dengan kecepatan standar. Tapi ini seperti menggelinding bagaikan siput saking pelannya laju mobil SUV di depan. 

Nico menghembuskan napas lega ketika lampu penanda di atas pos satpam mulai terlihat. Akhirnya, batinnya tidak sabar. Barangkali ia masih bisa tidur satu atau dua jam setelah tugasnya berakhir. Malam ini bukan gilirannya berjaga-jaga. Ia menguap dengan keras dan secara refleks menginjak rem untuk menghindari tabrakan ketika di depannya, mobil yang dikawalnya berhenti mendadak. Lampu belakang mobil itu juga padam. 

“Apa-apaan ini?” tanyanya kesal. Ia mengedipkan lampu jauh mobilnya beberapa kali sebagai tanda peringatan, agar SUV itu melanjutkan perjalanan. Namun tidak ada yang terjadi. 

Dari belakang kemudi, Nico menyaksikan salah seorang laki-laki berkuncir kuda melompat keluar dari mobil. Pintu penumpang dibiarkan dalam kondisi terbuka. Tangannya diangkat ke atas dan dilambai-lambaikan seolah dia sedang memanggil seseorang di pos satpam. Sementara laki-laki yang berambut pendek dan memiliki banyak tindikan di wajahnya turun beberapa saat setelah temannya. Dia berjalan ke depan SUV. Tidak lama kemudian, kap mobil terbuka dan laki-laki itu menghilang dari pandangan Nico. 

Ia melihat seorang satpam berlari-lari kecil dan menghampiri laki-laki berkuncir kuda yang barusan melambai padanya. Mereka berdua menghilang di depan kap mobil yang terbuka. Asap tebal bergelung keluar dari dalam kap mobil. Ada bunyi-bunyian tidak jelas yang terdengar dari depan. Seolah mereka sedang sibuk mengotak-atik mesin. 

Nico tidak tahu apa yang terjadi. Mungkin mobil SUV itu mogok dan mesinnya bermasalah. Tapi ini sudah terlalu lama. Asap kelabu masih mengepul dan kap mesin masih berada dalam keadaan terbuka. Demikian juga sepasang pintu depan SUV.

Sambil memaki keras-keras, Nico mengedipkan lampu depannya lagi. Kali ini juga disertai klakson. Namun tetap tidak ada yang terjadi. 

“Ah, sial!” Ia turun dari mobil sambil menggerutu. “Hei, kalian!” panggilnya. “Ada apa ini? Kenapa lama sekali–” Langkahnya terhenti di samping kap mobil yang terbuka dengan asap yang masih mengepul. Tapi tidak ada siapa-siapa di sana. “Sialan, ke mana mereka semua?”

Kemudian Nico melihatnya. Dua tubuh tergeletak di atas jalan. Ia mengenali mereka sebagai petugas satpam dari seragam yang dikenakan. Ia mengumpat pelan, jantungnya berdegup kencang. Di mana kedua laki-laki yang mengantar barang dagangan? Apakah mereka berkhianat? Siapa yang membayar mereka? Apakah saingan bisnis Pak Bos bekerja sama dengan mereka? 

Ia memaki berkali-kali dalam hatinya. Napasnya mulai memburu. Kepalanya menoleh ke kiri dan kanan. Lampu di dalam pos satpam masih menyala terang. Tapi tidak ada siapa-siapa di sana. Ia juga tidak tahu apakah ia benar-benar sendirian di sini. Terlalu gelap. Sejak kapan lampu taman seredup ini? Ia hampir tidak bisa melihat apa-apa selain kegelapan. Kepalanya terasa pusing dan tubuhnya mulai lemas. 

Ia tidak menduga hal seperti ini akan terjadi. Ia tidak membawa senjatanya. Tertinggal di dalam laci mobil. Tapi ia memiliki pisau yang diselipkan di kantong belakang celana jinsnya. Ia harus segera melapor pada Pak Bos. Kemudian ia ingat kalau ponselnya ada di dalam mobil. Ia mengumpat lagi. Ia harus segera kembali. 

Nico berbalik dan merasakan tubuhnya limbung. Ia menyambar tepian kap mobil dan menyandarkan tubuhnya di sana. Penglihatannya menjadi buram. 

Bau apa ini? Nico mengendus-endus udara. Kemudian ia melihat asap tipis yang masih mengepul dari dalam kap mobil. Matanya memicing, berusaha melihat lebih jelas. Sambil terhuyung, ia beringsut mendekat. Asap itu keluar dari sebuah botol kecil yang diletakkan bersebelahan dengan botol lain pada dasar kap. Matanya melebar dan ia mengumpat marah ketika menyadari bahwa ia telah menghirup gas pembius yang disamarkan sebagai kerusakan mesin mobil. Ia harus segera pergi dari tempat ini. Ini adalah pengkhianatan–

Sesuatu yang tajam menghunjam punggungnya dari belakang. Nico tidak sempat menoleh. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya. Kemudian ia merasakan benda tajam itu dicabut dari punggungnya sebelum dihunjamkan lebih dalam. Detik berikutnya, ia didorong ke depan. Ia merasa dirinya terjatuh ke atas semen keras. Dari sudut matanya, ia melihat sepasang sepatu boots hitam tanpa tali melangkah keluar. 

“Aku sudah merusak cctv di atas pos satpam. Tapi sialnya, aku tidak menemukan remote pagarnya,” kata sebuah suara serak yang sedikit panik. 

Ada yang mengumpat. “Kau yakin sudah mencarinya dengan benar? Sudah kau geledah? Apa ada tombol yang terlewat? Coba periksa sekali lagi dua satpam sialan itu,” sergah suara lain dengan kasar. “Aku akan menggeledah keparat ini sebelum dia mati. Mungkin dia bisa memberi kita sedikit informasi berguna.”

Nico tidak bisa bergerak. Penglihatannya berubah gelap. Tubuhnya lemas tidak bertenaga. Seseorang mengguncang tubuhnya tanpa belas kasihan. Kemudian pipinya ditampar, namun tidak ada lagi rasa sakit. 

Samar-samar, ia mendengar bunyi kap mobil yang ditutup. Kemudian suara mesin yang dihidupkan. 

Ia merasa ditarik paksa hingga berdiri, sayang sekali kakinya tidak mampu berpijak. 

“Ayo, masuk!” Seseorang berteriak dari jauh. “Tinggalkan saja dia. Setelah tugas kita beres, baru pikirkan bagaimana caranya keluar dari tempat sialan ini!”

Ada yang mengumpat di dekat telinganya. Lalu dia dihempaskan dengan kuat ke bawah. Detik berikutnya, kesadaran Nico menghilang sepenuhnya. 


* * *


Martin


Ia berharap malam ini segera berlalu. Rasanya membosankan. Seharian ini mereka hanya duduk, berdiri, dan menunggu. Sambil mendengar umpatan dan makian Pak Geo. Walaupun ia sudah terbiasa, tetap saja telinganya terasa sakit. Semakin hari Pak Geo semakin emosional. 

Lampu taman memperlihatkan pintu gudang yang tertutup. Barangkali satu atau dua pukulan bisa menghiburnya. Pak Geo tidak akan keberatan asalkan dokter itu tetap bisa melakukan operasi. Ia berlari-lari kecil. Merasakan semangatnya mulai kembali. 

Martin ternganga di depan pintu gudang. Rantai yang seharusnya tergembok pada gagang pintu pesi tergeletak di atas lantai semen. Ia mendorong pintu besi hingga terbuka lebar. Tangannya meraba-raba saklar lampu dan menyalakannya. Sebuah ruangan kosong menyambutnya. Tanpa sadar, ia menyisir rambut dengan jarinya, merasakan kepanikan mulai menguasainya. 

“Sialan! Sialannnn!” Ia memeriksa gudang sekali lagi. Berharap menemukan dokter yang dilihatnya terduduk di depan tiang tadi sore. Matanya mencari-cari di setiap sudut. Namun gudang itu sekosong yang dilihatnya. Martin tidak menemukan jendela di dalam gudang, dan ventilasi terlalu tinggi. Ia mengumpat ketika teringat rantai dan gembok yang tergeletak di atas lantai. 

Ia keluar dari gudang dengan perasaan campur aduk. “Berengsek! Bajingan! Kenapa bisa kabur? Kenapa?” Ia menendang geram rantai di samping pintu. 

Apa yang harus kukatakan pada Pak Geo? batinnya panik. Aku pasti akan dipukuli dengan tongkat. Dasar setan! Dokter setan sialan! 

Ia berdiri di depan gudang sambil memeras otak. Kepalanya menengadah ke atas dan menemukan dua kamera cctv. Benar. Ia bisa memeriksa cctv. Ia yakin sekali kalau ia sudah melilitkan rantai itu dengan baik sebelum memasang gemboknya. Ia bahkan memeriksa sekali lagi sebelum pergi menyusul Felix. 

“Sialannnn!” Seharusnya ia membiarkan saja Felix yang mengunci pintu. Kenapa ia bisa bodoh sekali? Sekarang ia yang akan disalahkan karena dokter sialan itu kabur dari gudang. 

Yang perlu dilakukannya adalah memeriksa cctv sebelum melapor pada Pak Geo. Ia tidak bisa kembali dengan kondisi seperti ini. Ia bisa mampus kalau menghadap Pak Geo tanpa bukti dan alasan jelas. 

Kemudian ia teringat bahwa rekaman cctv hanya bisa diakses dari komputer Pak Geo, di balik meja kerja raksasa yang hampir tidak pernah ditinggalkan bosnya. 

“Bangsat!”


* * *


Felix


Pukul satu dini hari lewat sebelas menit. 

Entah sudah berapa kali Felix melihat arlojinya. Tanpa ia sadari, vila tempat Ava tinggal sudah berada di hadapannya. Ia menghela napas panjang dan mengetuk pintu dapur. 

Tidak ada jawaban. 

Ia hendak mengangkat tangan untuk mengetuk yang kedua kalinya ketika pintu dapur terbuka dari dalam dan wajah sendu Ava menyambutnya. 

Felix mundur dua langkah, terkejut oleh rona yang muncul kembali di wajah Ava. Ia nyengir. “Kulihat kau sudah lebih baik,” ujarnya tulus. 

Ava menatapnya sejenak, kemudian dengan waspada melirik ke kiri dan kanan. “Tenanglah, hanya ada aku.” Felix berusaha menenangkannya. 

Lihat selengkapnya