Blessing of Hope

Alexia Chen
Chapter #13

Ezra


Tangga menuju lantai dua yang terbentang di hadapannya berlekuk indah dengan untaian lampu kandelir yang menggantung dari langit-langit tinggi di atasnya. Tangga itu lebar dan terbuat dari kayu. Setiap anak tangganya dialasi oleh karpet berwarna kelabu gelap. Di ujung teratas tangga ada cahaya redup lampu yang dibiarkan menyala. Lucas berharap tidak akan bertemu siapa-siapa di atas sana. 

Ia melangkah pelan tanpa suara, dan mulai menaikinya. Langkahnya terhenti ketika suara musik mulai terdengar dari ruangan depan. Debaran jantungnya bertambah kencang. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua akan berjalan lancar. Setidaknya, ia harus menemukan keberadaan arwah Ezra, juga di mana Ethan disekap. Ia menajamkan telinga. Suara musik yang mendadak berbunyi berhenti mendadak. Keningnya berkerut dan ia melanjutkan menaiki anak tangga satu per satu. Barangkali itu hanyalah suara dering telepon yang masuk. Barangkali itu bukanlah apa-apa. 

Sebuah ruang duduk yang tampak mewah menyambutnya. Sofa-sofa kulit mahal berjejer mengelilingi meja kayu berukir di tengah-tengahnya. Tirai-tirai dalam keadaan tertutup semua. Ada meja bar kecil di sudut, lengkap dengan lemari es mungil di sampingnya dan juga gelas-gelas tinggi di rak atas. 

Ruang duduk itu diapit oleh dua lorong di kiri dan kanannya. Lorong kiri memperlihatkan sebuah kamar yang pintunya tertutup, sedangkan lorong kanan terbagi menjadi dua kamar di masing-masing sisinya. Ia mulai bergerak menuju lorong sebelah kanan. Semua pintunya dalam keadaan tertutup. Namun, di antara empat pintu yang tertutup itu, hanya ada satu kamar yang memiliki cahaya di bawah celah pintunya. Lucas mendekati pintu itu, menempelkan telinganya pada daun pintu, dan mendengarkan dalam diam. 

Pertama hanya keheningan yang didapatnya. Kemudian ia menangkap suara tawa terendam anak-anak. Lucas meletakkan tangannya pada gagang pintu, menariknya perlahan. Tanpa disangka, pintu terbuka dengan suara ‘klik’ pelan. Dari dalam kamar, terdengar tarikan napas tertahan. Ia menyelinap masuk dan cepat-cepat menutup pintunya kembali. 

Ia membalikkan badan dan langsung berhadapan dengan seorang anak laki-laki yang terduduk tegak di atas tempat tidur, dengan selimut melilit pinggangnya sampai ke kaki. Rambutnya berantakan dan mencuat ke segala arah. Sepasang matanya yang besar menatap Lucas tanpa rasa takut. Dia sama sekali tidak mirip seperti anak kecil yang terbangun di tengah malam lalu terkejut karena menemukan ada penyusup di dalam kamarnya. 

“Ethan?” Lucas memasang wajah tersenyumnya. 

Alih-alih menjawab, dia malah balik bertanya dengan suara lantang, “Siapa kau?” Sorot matanya waspada. Tidak ada tampang mengantuk di sana. 

Senyum Lucas memudar. Ia tahu kalau dirinya tidak mungkin salah. Jelas-jelas ia mendengar suara tawa ketika menguping di balik pintu. Seolah anak kecil ini sedang berbicara dengan seseorang. Namun, tidak ada siapa-siapa di dalam kamar selain dia sendiri. 

Kemudian, perhatian Lucas terfokus pada satu titik di samping tempat tidur, yang barangkali terlewatkan ketika matanya menyapu seisi kamar dengan cepat saat pertama kali memasukinya. Setitik kecil sinar yang tidak menarik perhatian. Cahaya mungil yang tidak berasal dari mana-mana. Seolah melayang di depan nakas. 

Cahaya itu mula-mula bersinar redup. Kemudian sesaat setelah Lucas menyadari keberadaannya, sinarnya menjadi lebih terang. Perlahan-lahan, cahaya itu mulai menjelma menjadi sesosok manusia. 

Sosok itu tidak langsung tampak karena dia berada di sana namun juga sekaligus tidak berada di sana. 

Sekelebat singkat siluet manusia yang wajahnya tidak mampu ditangkap Lucas tampak berdiri di depannya. Berlatar belakangkan pemandangan padang rumput hijau yang luas dan langit biru cerah. Bunga-bunga beraneka warna mekar dengan indah dan bergoyang tertiup angin. 

Hanya sepersekian detik munculnya. 

Namun di waktu yang sesingkat itu, Lucas tahu apa yang dilihatnya. Lalu pemandangan dengan padang hijau lenyap, dan sosok di dalam pemandangan itu menjadi jelas. 

Lucas tercengang. Membeku di tempatnya berdiri. 

Di hadapannya, Ezra tersenyum lebar memamerkan gigi-gigi putihnya yang kecil, “Papa lama sekali,” katanya. 


* * *


Geo Ferdi


Ia terbangun oleh dering ponsel yang berbunyi terus-menerus. 

Dengan marah ia menyambar ponsel dari atas meja dan memicingkan mata melihat nama penelepon. Keningnya berkerut. Tumben, pikirnya. Ah, mungkin ada barang bagus. Tapi ini bukan waktu yang biasa bagi orang itu untuk menghubunginya. 

Kenapa menelepon jam segini?” tanyanya tanpa basa-basi. “Apa ada sesuatu yang penting sampai kau tidak bisa menunggu datangnya pagi?” Ia terkekeh, merasa lucu mendengar perkataannya sendiri.

“Geo Ferdi. Aku berharap bisa tidur nyenyak tanpa harus ikut memikirkan apa yang sedang kau kerjakan.”

Ia tertawa sinis. “Oh, baik sekali kau. Tapi apa yang kukerjakan tidak perlu kau pikirkan tengah malam sampai tidak bisa tidur.”

Dia mendesah, terdengar lelah. “Bukan itu maksudku. Aku hanya ingin tahu apakah kau masih ingat untuk tidak menyentuh keluarga dari dokter-dokter yang bekerja di rumah sakitku atau tidak. Sejak awal itu adalah kesepakatan kita. Aku menyediakan barang untukmu, dan kau menuruti syarat-syarat yang kusebutkan.”

Geo Ferdi berdecak. “Tenanglah. Aku masih ingat kesepakatan kita. Aku sudah memerintahkan anak buahku untuk tidak menyentuh milikmu.”

Terdengar dengusan samar. “Aku harap dua perempuan dan seorang anak kecil yang mayatnya ditemukan mengapung di laut dua minggu lalu bukan kerjaanmu.”

Ia mengumpat dalam hati. Masalah itu lagi. Selama sepuluh tahun ia berkecimpung dalam pekerjaan ini, belum pernah ada kejadian memalukan seperti itu yang pernah terjadi. Entah kesialan apa yang sedang menimpanya. Sekarang ia ditanyai dan dicurigai? Tengah malam buta? Memangnya siapa mereka? Keluarga salah satu dokter di rumah sakit itu? Persetan. 

“Ya. Ya. Aku tahu tentang beritanya. Tapi hal itu tidak ada sangkut pautnya denganku.” Ia berusaha berkilah. “Banyak yang seprofesi.”

Hening. Lalu terdengar suara tenggorokan yang dibersihkan. “Satu hal lagi.” Suaranya berubah kaku dan tidak bersahabat. “Jika kau ingin menculik dokter, ingat untuk tidak pernah mencuri dari tempatku. Aku tidak ingin mengambil resiko jika ada dokter yang dilaporkan menghilang dan pihak kepolisian mulai mengendus-endus di wilayahku. Jika aku dicurigai dan dituduh, aku akan menyeret kau ke dalamnya. Tolong pertimbangkan baik-baik, teman lama.”

Geo Ferdi tertawa terbahak-bahak. Namun sayangnya, tawa itu tidak pernah mencapai matanya. “Kau mengancamku, teman?”

“Bukan. Tapi aku memperingatkanmu. Supaya hubungan kita tidak rusak hanya gara-gara kau semakin tua dan salah melangkah,” cibirnya tanpa belas kasihan. 

“Dasar bangsat tua bangka! Aku tidak pernah menyentuh barang-barang milikmu. Dan jika milikmu pernah singgah di tempatku, itu artinya mereka bukan lagi milikmu!” hardik Geo Ferdi penuh kelicikan, yang sengaja menambahkan tawa merendahkan. 

Lawan bicaranya mendengus. “Terserah kau mau bilang apa. Asal jangan menyalahkanku tidak pernah memperingatkanmu. Selamat malam!” Dan sambungan pun terputus. 

“Bajingan!” Geo Ferdi menggebrak meja penuh amarah. “Memangnya dia pikir dia siapa?” teriaknya pada udara kosong. “Berani sekali mengancamku!” Ia berdiri mendadak, membuat kursinya terdorong ke belakang, menimbulkan suara keras ketika kursi menabrak dinding di belakangnya. 

Ia memang memiliki masalah serius terkait mengendalikan kemarahannya. Begitu gelombang emosi menyapunya, rasanya langsung naik dan memuncak di kepala. Ia terengah-engah. Ia harus melampiaskan rasa marahnya. Ia bisa gila jika harus diam saja. “Keparat! Bangsat tidak tahu diri!” makinya sekuat tenaga. “Arghhh!” Ia melempar buku-buku di atas meja kerjanya, menarik keyboard dan mouse komputer sampai lepas, lalu membantingnya ke lantai. 

Belum. Belum cukup. 

Ia masih sangat marah. Sangat amat marah. Tidak ada yang berani menghinanya. Tidak ada! 

Matanya mencari-cari di atas meja kerjanya. Napasnya pendek-pendek. Giginya gemeletuk menahan murka. Ia menyambar monitor-monitor di sana dan menghantam yang satu dengan lainnya sampai pecah. Terakhir, ia menyerang mesin-mesin di samping meja kerjanya, mencabut kabel-kabel dengan tangan kosong sambil tertawa senang. 

Ada banyak sekali kabel warna warni. Untuk sekejap, ia tidak tahu apa fungsi mereka. Ia tidak peduli. Yang ada di pikirannya hanyalah hancurkan semuanya. Cabut. Cabut. Cabut. Ada monitor-monitor yang digantung di dinding. Pecahkan. Hancurkan. Hantamkan semuanya ke lantai. 

“Ahahahahaha… Hahahahaha!” Geo Ferdi tertawa terbahak-bahak sambil memegang kepalanya. Kaca matanya bertengger miring di atas hidung. Ia berjingkrat senang melihat kekacauan di sekitarnya. 

Kekacauan yang dibuatnya. Miliknya. Yang ia hancurkan. Dan akan digantikan lagi dengan yang baru begitu pagi menjelang. Ini adalah ritualnya. Kebiasaannya. Dan ia bangga atasnya. 

Ia berdiri di tengah-tengah ruang tamu yang berantakan. Tangannya direntangkan. Matanya terpejam. Bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman bengis. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengendus keputusasaan di udara. 

Keputusasaan milik korban-korbannya yang terkurung. 


* * *


Lucas menghambur ke depan. Tangannya terulur untuk memeluk Ezra. Senyuman lebar Ezra sedikit memudar, berubah sedih. Detik itu juga Lucas menyadari sesuatu. Tangannya diturunkan dengan kaku di sisi tubuhnya. 

Alih-alih memeluk anaknya, ia jatuh berlutut di depannya, menatap Ezra yang masih tersenyum. Hanya saja kali ini, kesedihan terlihat jelas mewarnai kedua mata bulatnya. 

Kemudian Lucas menangis. Ditonton oleh dua anak kecil. Ia terisak kuat. Air matanya mengalir deras. Berbagai emosi yang berusaha didorongnya jauh-jauh ke dalam, kini seolah berlompatan keluar. Campuran antara kerinduan, penyesalan, kesedihan dan duka mendalam. Semua tercurah tanpa bisa ditahan.

Beberapa saat kemudian, ia merasakan tepukan lembut di punggungnya. Ia mendongak dan melihat Ethan berdiri di sebelahnya. Sebelah tangan mungilnya di tepuk-tepukan ke punggung Lucas. Sementara Ezra masih tetap di tempatnya semula. Menatap Lucas dengan tatapan lembut sekaligus bijak, seolah dia tahu semua yang sudah dialami Lucas. Sorot mata yang tidak pernah dilihatnya. Sesuatu yang tidak akan muncul pada ekspresi anak kecil. Sekonyong-konyong, Ezra yang kini berada di hadapannya adalah Ezra, sekaligus tidak seperti Ezra. 

Perhatian Lucas tertuju pada pakaian yang dikenakan Ezra. Biasanya, para arwah akan tetap memakai baju yang sama dengan apa yang mereka pakai ketika meninggal. Jika yang saat ini berdiri di hadapannya adalah arwah Ezra, seharusnya dia mengenakan piyama dinosaurus biru tua, bukannya kaos putih polos dan celana jins selutut. 

Seolah tahu isi kepala Lucas, senyum sedih Ezra berubah menjadi cengiran manis yang dirindukannya. Kebingungan mewarnai pikiran Lucas. Bukankah ini yang dicari-carinya selama ini? Arwah Ezra, putra yang sangat dirindukannya. Tapi ia malah meragukan identitas Ezra hanya gara-gara pakaian yang dikenakannya. 

Tepukan lembut di punggung Lucas kini berubah menjadi belaian dan sapuan halus. Ia mengalihkan tatapannya dan menoleh pada Ethan, “Terima kasih, Ethan,” katanya tulus. 

Lihat selengkapnya