Lucas menoleh cepat pada Ethan. Jika ia saja mengenali suara Ava, apalagi Ethan. Dan benar saja, wajah Ethan berubah pucat. Matanya melebar ketakutan dan bibirnya mengucapkan ‘mama’ tanpa suara. Lucas meletakkan sebelah tangan pada pipi Ethan, menenangkannya, sekaligus menyuruh anak itu untuk menatapnya. Ia meletakkan jari telunjuk pada bibirnya, “Stt…”
Ethan mengangguk dan meletakkan jari telunjuknya sendiri pada bibir, meniru apa yang dilakukan Lucas. Dia mengangguk pelan. Wajahnya tampak yakin.
Tangan Lucas mengepal erat. Ia masih belum berani membawa mereka menuruni tangga. Ia yakin orang-orang di bawah sana tidak akan senang dengan kehadirannya. Dan yang jelas, ia tidak tahu bagaimana caranya mereka akan keluar dari tempat ini.
Pandangannya tak sengaja menyapu jam dinding antik di sebelah sofa kulit.
Pukul satu dini hari lewat lima puluh lima menit.
Ia memejamkan mata. Ya, Tuhan, bagaimana ini, tolong berikan petunjuk. Tolong tunjukkan jalan bagiku. Doanya dalam hati. Suara-suara masih terus terdengar. Ia tidak dapat menangkap pembicaraan mereka. Tapi ia tahu bahwa suasana sedang tegang.
Turun. Sekarang. Anak-anak jangan sampai terlibat.
Ia membuka matanya. Menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Mengikuti kata hatinya, ia menoleh pada Ethan, dan memberi isyarat agar mengikutinya menuruni tangga. Ketika mereka sampai pada belokan tangga bagian bawah, ia merentangkan sebelah tangan, menyuruh Ethan berhenti. Ia menoleh dan meletakkan jari telunjuk pada bibirnya, “Jangan bersuara. Tunggu di sini dulu, jangan turun, mengerti?” Ia menatap Ethan, memastikan anak itu mematuhi arahannya. Kemudian tatapannya jatuh pada Ezra, yang berada di samping Ethan. Ekspresi Ezra tenang, sudut bibirnya sedikit terangkat ke atas, memberi Lucas seulas senyum menenangkan. “Jaga, Ethan, ya, sayang,” bisiknya. Ezra mengangguk kecil.
“Aku akan menjemput kalian setelah keadaan aman.” Ia berjanji.
Suara-suara di bawah terdengar semakin keras. Ava sedang bertengkar dengan seseorang.
Setelah memastikan anak-anak paham maksudnya, Lucas berbelok dan menuruni anak tangga yang tersisa. Ia melangkah memasuki koridor dan langsung berhadapan dengan Ava.
Sepasang mata Ava terbelalak kaget. Di samping Ava, Felix tampak syok.
“Ah, lihat siapa tamu tak terduga kita,” ucap sebuah suara yang menggema dari ruang depan.
Meskipun baru beberapa kali bertemu bertahun-tahun yang lalu, Lucas masih mengenali wajah sombong dan menyebalkan itu.
Dokter Adriansyah Putra. Suami Ava. Papa yang sangat ditakuti Ethan.
“Lama tidak berjumpa, dokter Adrian,” sapanya datar.
Di tempatnya berdiri, wajah Ava menjadi pucat. Lucas melihatnya memejamkan mata erat-erat, menggigit bibir bawahnya. Dadanya naik turun seiring ia menarik dan menghembuskan napas berat.
Dari ujung koridor, berjarak kurang lebih dua kamar dengan pintu tertutup, Adrian mengeluarkan tawa parau. “Jangan bilang kau yang mereka culik!” Dia masih terbahak, seolah kehadiran Lucas di rumahnya adalah sesuatu yang lucu. “Kebetulan apa ini? Tapi bisa kulihat kau tidak terkejut.” Lanjutnya.
Lucas menggertakkan rahangnya. “Apakah juga kebetulan ketika kau membunuh istri dan anakku, lalu menjual organ tubuh mereka dengan bengis, Adrian?” tukas Lucas dingin. “Atau, kau mau aku memanggilmu Geo Ferdi saja?”
Beberapa langkah di depannya, Ava terkesiap.
Adrian tidak menjawab. Dia tampak berpikir keras. Alisnya terangkat tinggi. Sorot matanya mencemooh. Nampak sekali kalau dia tidak menyukai tudingan Lucas. Kemudian ekspresi mengerti tercetak di wajah kejamnya.
“Ah, jadi itu sebabnya kau rela dihukum?” Dia menatap Ava tajam dari balik kacamatanya. Kupikir kau menolak karena tidak ingin melakukannya pada anak-anak. Tapi rupanya semua karena laki-laki keparat itu! Perempuan jalang tidak tahu malu,” desisnya di antara sela-sela giginya. “Jangan kau kira aku tidak tahu siapa dia. Aku akan mengingat wajah bajingan itu sampai aku mati. Kau selalu memujinya. Mantan pacarmu yang sempurna.” Adrian meludah ke lantai. “Dasar pengkhianat!”
Ava diam saja. Wajahnya pucat pasi. Namun dia tidak menunduk ataupun membuang muka. Dia membalas tatapan Adrian dengan berani. “Terserah kau mau bilang apa. Aku tidak peduli. Kau pun selalu memperlakukanku seperti sampah,” ucapnya lantang. “Dan aku tetap menolak melakukan pekerjaan bejat itu lagi.”
“Diam! Cukup basa basi busuknya!” Bentak Adrian. Dia mengeluarkan pistol dari balik jas yang dikenakannya. Senjatanya diarahkan ke Ava, lalu ke Lucas. “Siapa yang akan kutembak duluan, kau atau dia?”
Felix mengangkat kedua tangannya di depan dada, dengan telapak tangan menghadap keluar. “Tolong tenanglah dulu, Pak Geo.”
Adrian mendelik ke arahnya. “Aku tidak bicara denganmu, bangsat!”
Dengan moncong pistol masih diarahkan ke Lucas, dia mendengus jijik. “Aku tidak tahu permainan seperti apa yang sedang kalian lakukan di sini, tapi ini rumahku. Ini wilayah kekuasaanku,” ucapnya dengan nada mengejek. “Jadi, katakan padaku, lelucon apa ini? Kenapa mereka membawamu kemari? Dan kenapa kau berjalan-jalan di rumahku dengan bebas?” Tatapannya tertuju pada Felik. “Siapa di antara kalian yang berkhianat? Jawab aku!”
“Aku tidak kenal dengan orang itu, Pak Geo,” jawab Felix sambil menggeleng. “Aku hanya melakukan pekerjaanku, membawa dokter ahli bedah dari rumah sakit yang dipilih secara acak. Lagipula,” dia menambahkan. “Yang nyetir mobil bukan aku, Pak Geo. Aku hanya diantar ke sana.”
“Terserah,” potong Adrian berang, “Lalu kenapa dia tidak dijaga sama sekali? Di mana Martin? Aku yang menyuruhnya menjemput dokter sialan yang kalian bawa kemari,” tanyanya pada Felix. Sorot matanya mematikan.
Felix terlihat bersalah. “Maaf, aku tidak tahu. Mungkin Martin sedang berjaga-jaga di luar, Pak Geo. Nanti aku akan mencarinya.”
Dia mencibir. “Siapkan saja ruang operasinya!” Perintahnya pada Felix. “Kita lakukan semuanya seperti rencana semula,” katanya seraya menatap Lucas, dengan laras pistol masih di arahkan padanya, menantangnya untuk protes.
Lucas tetap diam. Pikirannya bekerja keras. Apa yang harus kulakukan, Tuhan? Tolong bantu aku. Bagaimana ini?
Di hadapannya, Felix mulai mengarahkan Ava agar mengikutinya. Ava memutar tubuhnya membelakangi Adrian, sementara matanya menatap Lucas lekat-lekat, seolah bertanya apa yang harus mereka lakukan.
Tanpa melirik pun, ia tahu Adrian masih mengamatinya dengan pistol teracung.
Terjadilah menurut kehendakMu, Tuhan, Lucas berserah. Ia tidak memiliki jalan keluar. Ia tidak bisa apa-apa saat ini. Ia terjebak.
Tetaplah tenang. Jangan membantah perintahnya. Supaya dia tidak curiga padamu. Minta Ezra membawa Ethan kembali ke dalam kamar dan suruh mereka tunggu di sana.
Ia tertegun. Matanya melebar karena kaget oleh pemahaman yang datang kepadanya. Seolah pikiran itu adalah pikirannya sendiri. Datang begitu cepat. Seperti angin semilir yang menyusup masuk ke dalam kepalanya. Jernih dan melegakan. Dan Lucas akan menuruti ide itu. Karena ini mirip dengan bimbingan yang selama ini menuntunnya. Pertolongan yang datang dari Tuhan.