Blessing of Hope

Alexia Chen
Chapter #15

Tentang Luis


Luis



Langit malam ini cerah tanpa awan. Dari tempatnya duduk berselonjor, Luis dapat melihat kerlipan bintang-bintang yang memenuhi angkasa. Pemandangan seperti ini tidak akan pernah bisa dinikmatinya di daerah perkotaan. 

Ia menegakkan punggung, dan mulai memainkan pisaunya dengan bosan. “Lama sekali,” gumamnya. Ia penasaran apa yang akan dilakukan dokter itu. 

Namanya Lucas, seperti yang diberitahukan di dalam mimpi-mimpinya. Luis juga sempat melihat kartu tanda pengenal yang tergantung di lehernya sebelum direbut oleh Nico malam itu, ketika mereka menculiknya dari rumah sakit tempatnya bekerja. 

Pesan yang ditulis Ava tersimpan di kantong celana kargonya. Entah bagaimana caranya, ternyata dokter itu adalah sahabat lama Ava semasa kuliah. Ava meminta tolong padanya agar membiarkan Lucas lewat. Karena dokter itu akan membawa Ethan keluar dari sana. 

Luis sedang memikirkan cara untuk menyelundupkan mereka keluar dari tempat ini. Namun resikonya sangat besar. Sebenarnya sejak dulu ia merasa kasihan pada Ethan yang masih kecil. Anak malang itu barangkali seumuran dengan cucunya di rumah. 

Rasa bosan membuatnya menguap lebar. Kantuk hebat menyerangnya. Ia mengusap matanya yang berair. Angin malam yang berhembus mendadak membuat kelopak matanya yang sudah terasa berat, menutup sendiri. Pasti akan nyaman sekali jika bisa terlelap sejenak, pikirnya. Ia bahkan tidak lagi menghitung sudah berapa malam ia berjaga terus. 

Mata Luis terpejam. Menikmati hembusan angin malam yang sesekali menyapu wajahnya. Rasanya nikmat sekali. Perasaannya melayang. Ia mengenal sensasi ini. Kedamaian yang jarang sekali ia rasakan. 

Dan benar saja. Sayup-sayup, Luis mendengar suara itu lagi. 

“Paman! Paman! Bangun, Paman! Ini aku, Ezra,” ujar suara familier anak kecil yang sudah sangat dikenal Luis. 

Luis membuka mata. Di depannya, anak kecil itu berdiri dengan senyum merekah di bibir. Matanya yang menatap Luis berbinar. Tangan mungilnya menunjuk ke jalan setapak yang tersembunyi di antara pepohonan rindang di sebelah kiri dari bangunan utama, yang jika ditelusuri akan sampai pada gudang yang berlawanan dengan gudang tempat dokter itu disekap beberapa saat yang lalu, sebelum dia berhasil keluar, entah bagaimana caranya. 

Ia mengernyit bingung. “Apakah maksudmu aku harus ke sana?” tanya Luis, kembali menatap Ezra. 

Ezra mengangguk semangat. “Benar. Paman harus lewat jalan yang itu, ya. Jangan jalan besar yang di belakang sana. Nanti bertemu dengan orang jahat,” katanya polos. 

Luis tertawa. “Apa kamu lupa kalau akulah orang jahatnya di sini?”

Ezra menggeleng. Wajahnya berubah serius. “Jika Paman jahat, paman tidak akan membiarkan papaku masuk tadi,” ujar Ezra. 

“Aku hanya menuruti hatiku, nak,” tukas Luis. 

“Dan itu membuktikan kalau Paman tidak jahat,” ucap Ezra sambil memamerkan giginya yang putih bersih dan kecil-kecil. 

Luis tersenyum sedih. “Mungkin kau lupa kalau akulah yang membunuhmu,” ucap Luis, “juga mamamu,” tambahnya. 

“Tidak, Paman,” bantah Ezra, “Apapun yang terjadi denganku, ini bukan salah Paman. Paman hanya mengikuti perintah. Jika aku tidak meninggal dengan cara seperti ini, aku mungkin akan meninggal dengan cara lain. Karena bagaimanapun, manusia itu pada akhirnya akan mati juga, iya kan?” Dia tersenyum lebar pada Luis. 

Kening Luis berkerut tidak mengerti. Ia bingung kenapa anak sekecil ini bisa mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan umurnya. Apakah arwah memang seperti itu? Ia tidak tahu. Ini pertama kalinya ia berkomunikasi dengan arwah. 

“Tetap saja aku ini orang jahat, nak,” ujar Luis sedih. 

Kemudian Ezra mengatakan sesuatu yang membuat Luis tercengang. “Orang jahat kan juga tetap orang, iya kan paman? Mereka menjadi jahat karena tersesat. Dan bukankah setiap manusia memiliki kesempatan yang sama untuk diselamatkan. Tidak peduli seberapa besar kejahatan yang telah mereka lakukan.”

Luis menatapnya takjub. 

“Pokoknya Paman harus lewat jalan yang itu. Nanti dari sana Paman ke pintu depan, ya,” pinta Ezra. “Ingat, Paman. Lewat jalan yang itu dan berputarlah ke pintu depan,” ulangnya. “Ayo, bangun sekarang, Paman!” Ezra mengatupkan kedua tangannya di depan wajah Luis, dan menepuk dengan keras. 

Luis tersentak bangun oleh bunyi tepukan di telinganya. Namun tidak ada siapa-siapa di sana. Rupanya ia tertidur. Kalimat terakhir yang dikatakan Ezra masih terngiang jelas di kepalanya. Ia menggeleng kuat-kuat. Berniat mengusir rasa kantuknya. Tapi anehnya, ia merasa segar bugar. Kantuknya seolah menguap begitu saja. 

Dari dalam rumah terdengar teriakan marah Pak Geo. Luis mendadak merasa gusar. Apakah secepat itu? Apakah dokter itu sudah ketahuan? Ia bahkan belum sempat melakukan apa-apa. Berapa lama ia tertidur? Ia mengecek arlojinya. 

Pukul dua dini hari lewat sebelas menit. 

Luis terbelalak. Hampir setengah jam ia terlelap. Ia berdiri, menyarungkan pisaunya dan menyelipkannya di punggung, di sebelah pistol yang tersembunyi di antara ikat pinggangnya. Ia berjalan cepat ke arah jalan setapak yang ditunjuk Ezra di dalam mimpinya. 

“Mudah-mudahan aku tidak terlambat,” gumamnya. 

Ini adalah kelima kalinya anak itu mendatanginya di dalam mimpi. Luis menghitungnya. Ia ingat setiap pesan yang dibawa Ezra ketika hadir di mimpinya.

Sambil menyusuri jalan kecil yang memutari bagian kiri bangunan utama, Luis mengulang kembali pertemuan pertamanya dengan Ezra di alam mimpi. 

Ia bukanlah jenis orang yang akan percaya pada hal-hal supranatural seperti ini. Ia laki-laki yang berpikiran logis dan mengandalkan otak serta logika terhadap segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya. Ia mengkalkulasikan semuanya dengan sangat hati-hati. Terkadang, pikirannya mengalahkan hati dan perasaannya. Karena naluri bertahan hiduplah yang biasa menyelamatkannya. 

Namun pertemuannya dengan Ezra perlahan mulai mengubah dirinya. Ezra memaksanya untuk meninggalkan logikanya jauh di belakang, dan mulai mendengarkan kata hatinya. 

Hari itu matahari belum sepenuhnya terbenam ketika ia diperintahkan bersama Felix dan Nico untuk menenggelamkan tiga jenazah ke dalam laut, seperti yang biasanya mereka lakukan terhadap sisa-sisa dari korban Pak Geo. Dan ini bukanlah pertama kalinya ketika ada anak kecil yang menjadi korban. Walaupun sangat jarang terjadi. Namun, ini adalah kali pertama Luis dipenuhi oleh perasaan bersalah yang menusuk-nusuk hatinya. Dadanya terasa sesak. Barangkali ia teringat dengan cucunya di rumah. Anak itu mungkin seusia cucunya. 

Sesampainya mereka di tempat yang dituju, Felix dan Nico membawa turun jenazah anak itu dan ibunya, juga seorang perempuan lain. Sedangkan ia tetap berada di dalam mobil, menurunkan kaca jendela dan menunggu. Angin semilir yang tiba-tiba berhembus membuatnya mengantuk. Kelopak matanya terasa berat. Tanpa sadar ia tertidur. 

Di dalam tidurnya, ia melihat kilasan keluarganya yang utuh dan bahagia. Istrinya yang pergi dari rumah akhirnya kembali setelah tujuh tahun. Anak sulungnya yang kabur karena terlilit hutang berkumpul kembali dengan keluarganya. Cucunya yang berusia enam tahun berlari dengan senyum lebar ke arahnya, dan Luis berjongkok untuk menyambutnya. 

Namun ketika cucunya sampai di hadapannya, wajahnya berubah menjadi wajah anak yang akan ditenggelamkan ke laut itu. 

Luis tersentak bangun dengan syok. Ada suara yang berteriak tepat di samping telinganya. “Oh, sudah bangun,” ujar Nico setelah berhasil membuatnya terbangun. “Tolong gantikan aku sebentar. Sakit perut. Mau cari toilet sebentar.” Lalu dia pergi begitu saja. 

Ia memaki dalam hati. Kenapa harus dirinya yang melakukan pekerjaan kotor itu. Bukankah tugasnya hanya membawa mobil? Sambil menggerutu ia berjalan malas menghampiri Felix. Dari tempatnya berdiri, ia melihat Felix sedang mengikatkan batu pada pergelangan kaki anak itu. Ia meringis. Luis tidak pernah benar-benar memperhatikan seperti apa rupa anak kecil itu. Namun wajah yang muncul di dalam mimpinya adalah wajah anak yang sedang terbaring di atas tanah. Bahkan piyama dinosaurus biru tuanya pun persis. 

Felix menoleh ke belakang dan ekspresi terkejut tercermin di matanya ketika tatapan mereka bertemu. “Ada apa?” tanyanya. 

Sepasang alis Luis bertaut, “Nico pergi buang air besar.” Ia memberitahu. 

“Aku tahu. Tadi dia bilang mau cari toilet.”

Lihat selengkapnya