Blessing of Hope

Alexia Chen
Chapter #16

Pengampunan


Lucas menghentikan Felix yang hendak membuka pintu. Ia menggeleng tegas. 

“Tapi–” Felix memprotes. 

“Jangan, Felix,” Ava menahan lengan Felix. “Terlalu berbahaya.”

“Kita tidak tahu apa yang terjadi di luar sana,” tambah Lucas. “Percayalah padaku.” Ia menatap Felix penuh arti sambil menempelkan jari telunjuk ke bibir, mengisyaratkan mereka untuk tidak bersuara. Lalu ia mengajak mereka ikut mendengarkan dari balik pintu. 

Terdengar bisikan sayup-sayup di luar pintu. 

“Apa dia sudah mati?”

“Coba periksa,” ujar sebuah suara kasar laki-laki. 

“Tidak, kau yang periksa,” sahut suara serak lain. 

“Dasar pengecut, tadi aku yang menembaknya dari dekat. Tepat di dada. Seharusnya dia langsung mati. Foto dia. Dan pekerjaan kita selesai.”

Hening sejenak. Kemudian, “Sudah. Ayo kita pergi dari sini sebelum ada yang datang.”

“Belum bisa. Kita masih harus menemukan remote sialan untuk membuka pagar depan.” Serentetan makian terdengar, yang disusul dengan langkah kaki terendam yang menjauh. 

Suara napas Ava menggelitik pergelangan tangan Lucas. “Mereka menuju ruang tamu,” bisiknya. Untuk sejenak, tatapan mereka bertemu. Kemudian mata Ava melebar, seolah dia baru saja menyadari sesuatu. Ava menoleh cepat pada Felix. “Apakah yang mereka tembak a-adalah Geo Ferdi? Dia sudah mati?”

Di sebelah Ava, wajah tegang Felix tidak menunjukkan reaksi apapun. “Aku harus memperingatkan Luis,” ucapnya pelan. Dia menyalakan ponsel dan mengetik sesuatu di layarnya. 

Di luar sana masih terdengar suara langkah kaki dan bisikan-bisikan yang kini tidak lagi menyerupai bisikan. Bunyi barang yang dibongkar secara terang-terangan menunjukkan bahwa orang-orang itu sudah mulai panik. Umpatan kasar yang keras terdengar. Semua itu hanya berarti satu hal. Mereka tidak bisa menemukan remote untuk membuka pagar depan. 

“Apakah kau tahu di mana remote untuk pagar depan?” Lucas bertanya pada Felix. 

Walaupun ruangan gelap gulita dan satu-satunya penerangan hanya berasal dari layar ponsel Felix, Lucas berani bersumpah kalau ia melihat cengiran di sana. Felix merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah benda berwarna hitam yang tergantung pada beberapa anak kunci berukuran besar. “Aku memungutnya dari lantai saat membawa Ava kemari. Pak Geo memporak-porandakan meja dan komputernya lagi. Merusak peralatan elektronik di sana. Seharusnya pagar depan bisa dibuka dengan alat pengontrol jarak jauh. Tapi…”

Lucas menunggu Felix menyelesaikan kalimatnya. 

“Alat itu tercabut dari mesin dan kabel-kabelnya berserakan di atas meja,” lanjut Felix. “Jadi, para pengkhianat itu tidak akan pernah bisa keluar dari tempat ini.”

“Oh, tidak!” Ava terkesiap. Tangannya terangkat menutupi bibirnya. “Itu artinya mereka akan membongkar seluruh ruangan. Ethan… Tidak…”

Felix mengumpat pelan. Layar ponselnya berkedip. Dia menempelkannya ke telinga. “Luis, aku perlu bantuanmu. Masuklah dari pintu belakang. Jangan sampai mereka melihatmu. Aku perlu mengamankan Ethan. Dia masih di kamarnya. Iya, sepertinya mereka menembak Pak Geo. Ava dan dokter itu aman bersamaku di ruang operasi.”

Bunyi langkah kaki terdengar mendekat. Pintu pertama di ujung lorong menjeblak terbuka dengan suara keras. Tatapan Felix bertemu dengan Lucas yang mulai panik. Ethan dalam bahaya, pikirnya. “Mereka akan naik ke lantai dua.”

Felix mengangguk. “Aku akan menghentikan orang-orang itu. Sekarang, Luis!” Dia mematikan ponsel dan memasukkannya kembali ke kantong celana jinsnya. Tangannya menarik keluar pistol laras pendek yang tersembunyi di balik jaket. 

“Buka pintunya ketika aku memintamu,” ujarnya pada Lucas. “Dalam hitungan ketiga.”

Ava mundur, menjauh dari pintu. Lucas menyuruhnya bersembunyi di antara meja operasi. 

Santai. Tenanglah. Mereka hanya berdua. 

Suara-suara kembali terdengar. Ada yang berusaha masuk ke ruangan di mana mereka berada. 

“Sialan. Yang ini terkunci.”

“Geledah mayatnya. Cepat! Aku akan periksa lantai atas.”

Buka pintunya. 

“Dalam hitungan ketiga,” Felix memberi aba-aba. Pistol teracung di tangan. “Satu. Dua. Tiga!”

Sekarang. Kuat. Benturkan ke dinding. 

Lucas menarik gagang pintu dan mendorongnya sekuat tenaga hingga terbuka lebar. Daun pintu berayun ke dalam tanpa suara, tertahan oleh penyangga di dinding sehingga menimbulkan suara ‘duk’ pelan. Dari tempatnya berdiri, ia melihat seorang laki-laki berkaos hitam dan berkuncir kuda yang sedang menaiki tangga terkejut. Namun sebelum laki-laki itu sempat menoleh, dua butir peluru menembus punggungnya dari belakang. Dan seolah dalam gerakan lambat, dia jatuh terjerembab di bawah tangga. Dari arah lain, terdengar seruan kaget tertahan, diiringi oleh bunyi benda tajam yang mengenai sasaran. 

Felix melangkah keluar, diikuti oleh Lucas. Di lantai, di dekat dapur, tubuh dokter Adrian terbaring menelungkup. Darah merah segar menggenang di sekeliling tubuhnya. Di sebelahnya, terdapat tubuh lain yang lebih besar dan tinggi, berkaos hitam dan berambut cepak, tergeletak tidak bergerak, dengan tiga pisau yang menancap di punggung. Felix bersiul. “Tepat sasaran seperti biasa.”

Suara dengusan samar terdengar dari arah dapur. “Untung aku datang tepat waktu,” celutuk Luis, yang masih dalam posisi setengah berjongkok. Pisau terselip di antara jari-jarinya. 

Ada yang mencengkeram lengan kemejanya. Lucas menoleh ke samping, hanya untuk menemukan wajah pucat Ava yang mengintip dari balik punggungnya. “Apakah dia sudah mati?” Suaranya terkesan dingin. 

Lucas ingat ia mendengar tiga bunyi tembakan. Jika benar ketiga tembakan itu ditembakkan dalam jarak dekat seperti yang dibilang para penyusup, maka bisa dipastikan kalau Geo Ferdi telah meninggal. Bahkan ada sebutir peluru yang menembus jantung, hingga ke punggungnya. Ava juga seharusnya menyadari hal itu. Karena dia hanya menatap ngeri tubuh suaminya tanpa melakukan apa-apa. 

“Aku akan memeriksa mereka,” ujar Lucas. Ia mendekati laki-laki yang tergeletak di tangga, meletakkan jarinya pada bagian bawah hidung, kemudian mengecek denyut nadi di leher. “Sudah tidak bernyawa.” Ia melanjutkan pada laki-laki di sebelah Adrian. Memeriksa bagian vitalnya dan menghembuskan napas lega. “Yang ini masih bernapas.” 

Ia melirik Adrian dengan enggan. 

Lihat selengkapnya