Lucas menoleh cepat. Mengira barangkali pendengarannyalah yang keliru.
Namun di hadapannya, Luis menjadi salah tingkah. Sekonyong-konyong dia tidak sengaja keceplosan. Dia mengalihkan mata dan menegak kopinya.
Ethan berjalan memasuki lorong, dengan tas cokelatnya yang usang di punggung. Kepalanya celingak celinguk, matanya tampak mencari-cari. Mendadak saja, dia seperti teringat akan sesuatu, dan postur tubuhnya berubah tegang. Seolah keceriaan yang barusan terdengar lenyap begitu saja. Di belakangnya, Ava meraih pundak mungil anaknya, lalu mengarahkannya ke dapur. “Ayo, kita duduk dulu.”
“P-papa sudah pergi, ya?” Suaranya kecil dan terbata.
Ava mengelus kepalanya penuh sayang. “Papa sudah tidak ada di sini, Ethan. Baru saja pergi. Kita sudah aman.”
Pundak kecil Ethan yang tegang rileks seketika. Kemudian tatapannya bertemu Lucas. Namun yang sedari tadi menarik perhatian Lucas bukanlah Ethan ataupun Ava, melainkan anak perempuan yang digandeng oleh Ezra. Mereka berdua mengikuti Ethan dari belakang. Menyadari kalau dirinya diperhatikan, Ezra tersenyum lebar pada Lucas, dengan Freya yang menempel erat padanya.
“Paman,” panggilnya. “Mama bilang tidak ada siapa-siapa yang bersamaku. Tapi jelas-jelas ada Ezra di sini,” dia menunjuk Ezra yang masih tersenyum, “dan tadi, anak ini datang. Dia ini yang selalu kulihat bersembunyi di belakang paman Felix. Namanya Freya.”
Lucas sangat yakin kalau ia mendengar bunyi sesuatu yang terjatuh di lorong. Ia juga yakin kalau Luis mendadak berubah menjadi patung dan wajahnya pucat pasi.
Di hadapannya, Ava terlihat bingung, juga sekaligus ketakutan. Dia mengerling Lucas seolah sedang meminta bantuannya. “Tapi, Ethan sayang–”
“Sebentar, Ava,” potong Lucas. “Apa yang dibilang Ethan benar. Aku sudah bertemu dengan arwah Ezra tadi.” Ia memberi perempuan itu seulas senyum sedih. “Begitu juga sekarang. Ezra ada di sini bersama kita. Juga Freya, putri Felix yang sudah meninggal.”
Ketika melihat mata terbelalak Ava, Lucas menambahkan, “Benar, Ava. Aku bisa melihat dan berkomunikasi dengan arwah. Begitu juga dengan Ethan. Hanya saja, Ethan masih belum mengerti.”
Ava menganga. Lalu cepat-cepat menutup mulutnya dan menarik kursi di sebelah Lucas. Dia duduk di sana dengan wajah syok. “J-jadi maksudmu, maksudmu… kau bertemu dengan arwah…” Dia tidak sanggup melanjutkan.
“Aku bertemu dengan arwah istri dan anakku di sini, juga dengan semua arwah dari para korban suamimu. Tapi, tenanglah,” ia buru-buru melanjutkan ketika mata Ava mulai berkaca-kaca, “arwah-arwah itu tidak lagi terjebak di ruang operasi. Ada petugas yang menjemput mereka tadi, ketika kita sedang bersembunyi dalam gelap.”
“Jadi itulah sebabnya kau sering bengong dan melamun,” celetuk Felix. “Ternyata kau menyaksikan para arwah itu dijemput?” tanyanya. Lucas tidak memperhatikan kapan Felix bergabung dengan mereka. Tubuh tingginya yang menjulang di belakang Ethan tampak berbahaya. Namun sorot matanya yang sedih dan menderita tidak bisa berbohong.
Lucas mengangguk singkat.
“Sekarang aku percaya padamu, dokter,” ucapnya pelan. Wajah muramnya terlihat semakin sengsara.
“Kau bisa memanggilku Lucas.”
“Baiklah, Lucas. Aku tahu kalau permintaan maaf terdengar seperti omong kosong. Tapi aku berjanji akan membayar semua perbuatanku,” ujarnya dengan suara datar. “Bisakah aku minta tolong?”
Lucas menghembuskan napas mengerti. “Kau ingin bicara dengan Freya?”
“Jika kau tidak keberatan.”
Ia menoleh pada Freya. Anak itu pasti mendengar apa yang dikatakan ayahnya. Wajahnya terlihat sedih. Tapi dia maju selangkah, diikuti oleh Ezra. “Freya sangat sayang pada Papa. Freya tidak ingin melihat Papa sedih terus. Sekarang Papa sudah bebas. Karena orang jahatnya sudah tidak ada. Paman itu berjanji akan membantu Papa. Dan paman itu menepati janjinya. Freya sangat senang. Terima kasih ya, Paman.”
Lucas tersenyum pada Freya, dan menyampaikan apa yang dikatakan anak perempuan itu kepada Felix.
Seluruh tubuh Felix bergetar hebat. Dia jatuh berlutut dan menangis seperti anak kecil. Di hadapannya, Lucas melihat Ezra mengangguk kecil pada Freya. Barangkali menyuarakan persetujuannya. Karena detik berikutnya, Freya sudah berada di samping ayahnya. Sebelah tangan mungilnya membelai pelan rambut Felix. Tangisan Felix mereda seketika. Tubuhnya seolah membeku. Dengan perlahan, dia mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Freya berdiri. Mulutnya menganga tidak percaya. Air matanya mengalir menuruni kedua pipinya. “Freya…” bisiknya. “Freya… anakku…”
“Papa baik-baik saja, ya. Freya mau pamit dulu,” katanya sambil tersenyum. Wajahnya bersinar dan terlihat damai, beda dengan yang ditemui Lucas sebelumnya. Dan dengan perlahan, sosoknya mulai memudar.
Lucas tidak yakin apakah yang lainnya juga menyaksikan apa yang dilihatnya. Namun sesaat, benar-benar hanya sepersekian detik, sebelum sosok Freya menghilang di udara, ia sempat melihat selendang biru muda dan sesosok perempuan berambut cokelat bergelombang yang merangkul pundak anak perempuan itu.
“Sampai bertemu lagi, Freya.”
Leher Lucas berputar cepat ke arah sumber suara. Di depannya, Ezra tersenyum menenangkan. Dia mengalihkan tatapannya dari tempat Freya menghilang sedetik yang lalu, dan menatap Lucas.
“Sekarang giliranku.” Suara Ezra seolah berdenting. Merdu dan seperti bukan berasal dari dunia ini. Bukan suara Ezra yang biasanya. Bukan suara Ezra yang dikenal Lucas.
Seluruh perhatian kini beralih sepenuhnya pada Ezra, yang berdiri di tengah-tengah mereka. Sekonyong-konyong, setiap orang di ruangan itu bisa melihatnya. Juga mendengarnya. Ava mengeluarkan pekikan kecil. Kedua tangannya mendekap mulut. Matanya terbelalak lebar.
“Halo, Paman Luis.” Ezra melambai pada Luis yang masih mematung. Wajahnya terperangah tidak percaya. “Terima kasih ya, sudah membantuku selama ini. Terima kasih juga karena sudah membantu papaku.”
Lalu Ezra menoleh pada Felix yang masih setengah berlutut di lantai. Wajahnya terlihat begitu menderita sekaligus tidak percaya. “Halo, Paman Felix.” Dia melambaikan tangannya. Tersenyum ceria. “Terima kasih ya, sudah membantu aku dan papaku selama ini. Kalian berdua sudah sangat baik padaku dan papa.” Felix terlihat seperti hendak menangis mendengar perkataan Ezra.
Ezra menatap mereka semua bergantian. Dia berhenti agak lama pada Ava yang pucat pasi dan Ethan yang kebingungan, lalu mengangguk puas. Terakhir, pandangannya jatuh pada Lucas. Sambil tersenyum penuh arti, dia menunjuk Ava dan Ethan, “Merekalah yang selama ini Papa cari. Jagalah mereka baik-baik,” dia menelengkan kepalanya. “Papa tidak perlu sedih. Karena aku bukan mati, melainkan kembali kepada-Nya. Sampai bertemu kembali kelak. Suatu hari nanti.”
Lalu cahaya putih menyilaukan berpendar dari tubuh Ezra. Detik berikutnya sosok anak kecil di tengah-tengah mereka seolah lenyap begitu saja tanpa bekas. Ethan celingak celinguk bingung, sementara Ava masih bengong.
Felix dan Luis mengerjapkan mata berkali-kali untuk memastikan semua itu bukanlah tipuan cahaya. Air mata mengalir di pipi keduanya. Bukan oleh rasa sedih, melainkan sukacita dan pengharapan.
Pejamkan matamu.
Lucas memejamkan mata. Di sana, tepat di hadapannya, sosok lain dari Ezra yang tersenyum padanya melayang di udara. Sosok itu bukan lagi putranya. Melainkan sesosok malaikat laki-laki berambut pirang bergelombang sebahu, mengenakan jubah putih sederhana bertudung, dengan sepasang sayap putih yang terbentang lebar di punggung. “Terima kasih.” Suaranya seolah terdengar di dalam kepala Lucas. Kemudian sosok itu menghilang.
Ia membuka matanya. Itu adalah wujud dari Roh Ezra. Yang ternyata adalah, malaikat. Lucas cukup syok mengetahui kebenaran ini. Ternyata selama ini, arwah Ezra yang ditemuinya adalah jiwa yang hampir menyatu dengan Rohnya. Pantas saja rasanya berbeda. Walaupun sosoknya tetap Ezra, namun pembawaannya terkesan jauh lebih dewasa dari Ezra yang dikenalnya. Yang ini memberikan rasa tenang dan damai.
Ethanlah yang pertama memecahkan kesunyian di antara mereka. “Ezra ke mana? Kok dia hilang?” Tatapannya tertuju pada Lucas.
Lucas mencoba memaksakan seulas senyum, namun gagal. Karena rupanya, hatinya masih berduka. Meskipun selama ini ia berusaha bersikap seolah ia baik-baik saja, tapi sebenarnya ia masih merasa sangat kehilangan. Ia tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan Ethan.
Ava menarik Ethan ke dalam pelukannya dan menjelaskan secara sederhana apa yang sesungguhnya terjadi. Dia menceritakan penyebab kenapa dirinya tidak bisa melihat Ezra pada awalnya, juga bagaimana akhirnya Ezra menampakkan dirinya pada orang-orang yang ada di sini. Dan alasan Ezra yang mendadak menghilang. Semua itu karena Ezra sudah kembali kepada Tuhan. Bahwa Ezra yang ditemuinya adalah arwah. Karena sebenarnya, Ezra sudah meninggal.
“Lalu kapan Ethan bisa bertemu dengannya lagi?” tanyanya sedih.
Ava membelai rambut anaknya. “Ezra akan selalu ada di sini,” dia menunjuk dada Ethan, “juga ada di sini,” kemudian dia menunjuk kening Ethan. “Ezra akan selalu hidup di dalam hati dan ingatan kita semua.”