Blessing of Hope

Alexia Chen
Chapter #18

Awal yang Baru


Dua bulan kemudian… 


Di hari minggu yang sedikit mendung, Lucas mengajak Ava dan Ethan untuk bertemu dengan Ibu Sri. Seperti biasa, gurunya itu selalu tahu kalau ia mau berkunjung. Dia sudah menunggunya. Membuka pagar bahkan sebelum Lucas menelepon. 

“Ayo, mari, masuklah, Lucas,” ujar Ibu Sri di depan pagar rumahnya. Kemudian tatapannya beralih ke Ava yang duduk di sebelah Lucas. “Halo, apa kabar? Saya juga sudah menunggu kalian berdua.” Dia tersenyum, lalu melambaikan tangannya pada Ethan di kursi belakang. 

Mereka turun dari mobil dan mengikuti Ibu Sri memasuki halaman rumahnya yang asri, penuh dengan berbagai macam bunga warna-warni. Gurunya itu memang sangat menyukai bunga, terutama bunga mawar. Dan memang bunga yang paling banyak di halamannya adalah bunga mawar, dengan beraneka warna. Alasannya adalah, meskipun bunga mawar tampak indah dan anggun, namun bunga tersebut dilengkapi dengan duri-duri tajamnya. “Indah sekaligus berbahaya,” ujar gurunya di suatu sore yang lembab dan panas. 

Ibu Sri membawa mereka ke ruang tamu mungilnya yang hangat dan nyaman. Tirai tipis berwarna biru laut dengan bunga-bunga kecil berenda yang melambai pelan, tertiup angin sepoi-sepoi yang masuk melalui jendela yang dibiarkan terbuka. Suasana yang menenangkan hati dan bikin mengantuk. Semua masih tampak sama dengan terakhir kalinya Lucas berkunjung. Yang membedakan adalah suasana hatinya, juga dengan siapa ia kemari. 

Dua bulan yang lalu, ia datang dengan membawa segudang penyesalan dan rasa bersalah. Menangis seperti anak kecil dipelukan gurunya. Ia sungguh bersyukur bisa mengenal gurunya. Ia tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi padanya jika tidak ada Ibu Sri. 

Sambil tersenyum, gurunya mempersilahkan mereka duduk di sofa empuknya. “Saya akan membuatkan teh. Untuk menghangatkan hati,” katanya sebelum menghilang di balik pintu dapur. 

“Rumahnya nyaman sekali, ya,” ucap Ava sambil mengedarkan pandangannya dengan takjub. 

Lucas mengangguk, “Benar. Rasanya damai sekali di sini.” Ia menyandarkan kepala pada sandaran sofa. Pikirannya melayang pada pagi itu di vila peristirahatan sekaligus tempat operasi bisnis ilegal milik dokter Adrian, mantan suami Ava. Saat ini pun ia seolah bisa melihat tandu-tandu yang diusung masuk oleh para petugas rumah sakit di dalam pikirannya. Kemudian tandu-tandu yang telah terisi itu dibawa keluar lagi dan dipindahkan ke dalam mobil. Polisi memenuhi rumah itu. Menggeledah mencari barang bukti. 

Dengan bantuan Luis dan Felix, para polisi menemukan koleksi data dan foto-foto korban di dalam sebuah map besar yang disimpan di dalam brankas di dekat meja kerja Adrian. Rupanya dokter itu mendokumentasikan dengan baik seolah-olah semua itu adalah kebanggaannya. Dengan ditemukannya dokumen itu, Lucas semakin percaya bahwa ada yang tidak beres dengan pikiran Adrian. Dia diketahui sudah melakukan bisnis perdagangan organ manusia ilegal sejak belasan tahun yang lalu. 

Luis dan Felix juga memberikan informasi tentang pihak penyedia maupun rumah sakit yang bekerja sama dengan Adrian. Termasuk direktur rumah sakit tempat Lucas bekerja, dokter Cahyo Lukito. Hal ini membuat Lucas sangat syok. Ia tidak pernah menyangka dokter Cahyo yang begitu ramah dan baik, juga sangat sabar itu menjadi penyedia bagi bisnis ilegalnya Adrian. Namun polisi berhasil menemukan catatan telepon terakhir dari dokter Cahyo di ponsel Adrian beberapa jam sebelum Adrian terbunuh. Dokter Cahyo disergap dan ditangkap di rumahnya tidak lama kemudian. 

Semua kejadian itu terekam dengan baik di dalam cctv yang terpasang di setiap sudut vila. Polisi juga menemukan rekaman cctv saat Felix membebaskan Lucas yang dikurung di dalam gudang. Mereka banyak memberikan informasi dan bekerja sama dengan sangat baik dalam membantu pihak kepolisian 

Walaupun begitu, Luis, Felix, dan Oscar tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka di dalam penjara. Masa hukuman mereka akan dikurangi dan diberi keringanan. Sementara Nco dan Martin harus menjalani hukuman yang setimpal dengan perbuatan mereka.

Sedangkan Lucas, Ava, dan Ethan diminta untuk menjadi saksi atas perbuatan Adrian dan orang-orang yang bekerja sama dengannya dalam bisnis ilegal itu. Proses yang panjang dan melelahkan. 

Untuk sementara, Lucas tinggal di apartemennya di Madiun. Ia berencana untuk menjual rumah lamanya di Jogja. Ia tidak sanggup tinggal di rumah yang memberikan kenangan tentang Sarah dan Ezra, baik itu kenangan manis maupun buruk. Dan karena ia lebih sering berada di rumah sakit, ia meminta Ava dan Ethan untuk tinggal di apartemennya. Ava menolak tegas saat kali pertama ide ini diutarakannya. Ava mengatakan akan jauh lebih baik jika dia dan Ethan mencari kos-kosan. Tidak etis jika mereka tinggal bersama Lucas. 

Namun hati Lucas mengatakan kalau dirinyalah yang harus menjaga mereka, seperti pesan terakhir Ezra padanya. Walaupun Lucas masih belum mengerti, tapi ia tahu bahwa tidak ada yang akan sia-sia jika ia mengikuti hatinya. 

Lucas tetap bersikeras. “Aku yang membawa kalian berdua keluar dari tempat itu. Maka aku jugalah yang harus bertanggung jawab. Apartemenku masih ada beberapa kamar kosong. Pakailah bersama Ethan. Dan pembicaraan ini selesai sampai di sini,” katanya tegas. “Lagipula, kau tidak memiliki sepeser uang pun saat ini. Jadi, berhentilah berdebat denganku.” Ia menambahkan sambil menaikkan sebelah alisnya, menantang Ava untuk membantahnya. 

Adrian selalu membawa Ava dan Ethan bersamanya. Mengawasi mereka dengan ketat untuk memastikan mereka tidak kabur. Adrian menggunakan anaknya sendiri untuk mengancam Ava. Dia memaksa Ava untuk melakukan pekerjaan kotornya. Jika Ava menolak, maka Ethanlah yang akan dipukul dan disiksa. Adrian adalah manusia bejat tidak punya hati yang menghalalkan secara cara untuk mencapai ambisinya. 

Pihak kepolisian juga berhasil mendapatkan informasi mengenai laki-laki yang menjadi selingkuhan Sarah. Dia ternyata salah seorang agen penyedia kepercayaan Adrian. Dengan menggunakan modus yang sama, dia membawa dan menjual korban-korbannya kepada Adrian. Dia ditangkap di dalam salah satu vila peristirahatannya di Bali. 

Setelah semua urusan di kantor polisi dan pengadilan selesai, hal pertama yang terlintas di benak Lucas adalah mengunjungi gurunya di Jogja, untuk memperkenalkan Ava dan Ethan pada beliau. Maka, pagi-pagi sekali, ia membawa mereka dari Madiun ke Jogja. 

Dan di sinilah mereka berada, menyesap teh krisan kesukaannya yang masih panas. Ibu Sri mengobrol lama dengan Ava. Mereka tampak akrab meskipun baru pertama kali bertemu. Sebelum berangkat ke jogja, ia memiliki pikiran bahwa Ava yang ceria dan penuh semangat akan menjadi teman ngobrol yang cocok untuk gurunya yang supel dan senang berbincang. Sedangkan ia mengajak Ethan untuk jalan-jalan di halaman depan rumah. Mereka melihat berbagai macam bunga, juga aneka buah yang ditanam gurunya di kebun belakang. 

Beberapa saat kemudian, Ava menghampiri mereka dengan senyum lebarnya yang sejak dulu sangat disukai Lucas. Dia mengatakan bahwa Ibu Sri ingin berbicara dengan Lucas. “Masuklah. Biar aku saja yang menemani Ethan.”

Lucas mengangguk dan memasuki ruang tamu. Di dalam, Ibu Sri sudah menunggunya. “Duduklah, nak.”

Ia duduk di sofa di hadapan gurunya. “Ava bilang Ibu ingin bicara denganku. Ada apa, Bu?”

Sambil tersenyum penuh arti, gurunya bertanya padanya tanpa basi-basi terlebih dahulu. “Apakah kamu masih penasaran dengan siapa jodohmu yang dari Tuhan, nak?”

Ia terdiam cukup lama. “Apakah hal itu masih penting, Bu?”

“Oh, iya. Sangat penting.” Ibu Sri menjawab dengan tegas. “Saya lihat kamu tidak penasaran dan tidak pernah bertanya lagi tentang hal itu. Tapi meskipun kamu tidak ingin tahu, saya tetap harus memberitahumu.”

Kening Lucas berkerut dalam. Entah kenapa hal mengenai jodohnya ini membuatnya tidak nyaman. “Tapi, Ibu…”

“Sebentar, nak. Biar saya selesaikan dulu. Apakah kamu masih ingat pesan terakhir anakmu?” tanya Ibu Sri. “Bukankah Ezra mengatakan bahwa Ava dan Ethanlah yang selama ini kamu cari? Ezra juga memintamu untuk menjaga mereka. Apakah saya benar, Lucas?”

“Tunggu, bagaimana Ibu tahu tentang hal itu?” Lucas terperangah. “Aku bahkan tidak menceritakannya pada siapapun.”

Lihat selengkapnya