Blood Dawn

Maghfira Izani
Chapter #1

Bisikan leluhur

Angin musim gugur Seoul berhembus dingin, meniup dedaunan ginkgo berwarna kuning keemasan yang menari di sepanjang trotoar yang sudah mulai basah oleh gerimis tipis. Di sudut jalan yang agak tersembunyi, tidak jauh dari distrik bisnis yang sibuk namun perlahan mulai sepi karena hari sudah menjelang malam, berdiri sebuah bangunan dua lantai dengan arsitektur yang unik—perpaduan antara gaya rumah adat Jawa dengan ornamen ukiran kayu jati yang rumit, dan sentuhan desain modern Korea yang minimalis namun elegan. Papan nama di atas pintu masuk bertuliskan huruf latin yang indah: KAFE SENJA NUSANTARA. Cahaya hangat berwarna keemasan memancar dari balik jendela kaca besar, seolah menjadi mercusuar bagi siapa saja yang merasa tersesat di tengah dinginnya kota metropolitan ini.

Bagi orang yang lewat sekilas, bangunan ini mungkin hanya tampak seperti salah satu kafe eksotis yang mulai bermunculan di sudut-sudut kota. Namun bagi mereka yang tahu cara melihat lebih dalam, ada sesuatu yang berbeda di sini. Dedaunan di sekitar halamannya tidak pernah layu sekalipun musim dingin datang paling parah; burung-burung selalu berhenti di atapnya seolah menyapa; dan udara di sekelilingnya selalu terasa lebih lembut, lebih menyejukkan, seolah dilindungi oleh kekuatan yang tak kasat mata.

Di dalam ruangan, aroma kopi robusta dari dataran tinggi Sumatera bercampur manis dengan wangi kue lapis legit, bolu pandan, serabi gula merah, serta rempah-rempah khas Nusantara seperti kayu manis, cengkeh, dan jahe yang hangat dan menenangkan. Dinding-dindingnya dihiasi lukisan pemandangan alam Indonesia: sawah berundak di Bali, Danau Toba yang tenang memeluk kabut pagi, pantai selatan Jawa yang berombak besar dan berbisik legenda, hingga hutan hujan Kalimantan yang lebat dan menyimpan ribuan rahasia. Di sudut lain, terdapat rak buku kayu jati buatan sendiri yang berisi kumpulan dongeng, legenda, naskah kuno yang disalin ulang, serta catatan sejarah dari berbagai belahan dunia, selain buku-buku sastra dan ensiklopedia umum. Musik alunan gamelan yang dipermainkan dengan irama lembut menyatu dengan nada piano yang syahdu, menciptakan harmoni yang membuat siapa pun yang masuk merasa seolah dipeluk oleh kehangatan rumah sendiri—rumah yang mungkin belum pernah mereka kunjungi, namun sudah lama mereka rindukan.

Di balik meja kasir yang juga berfungsi sebagai meja kerja, duduk seorang wanita berusia dua puluh sembilan tahun dengan rambut hitam panjang yang terurai halus hingga ke bahu, sesekali diselipkan ke belakang telinga saat ia menunduk mencatat pesanan. Wajahnya cantik dengan ciri khas wanita Nusantara—kulit sawo matang yang halus dan bercahaya, mata berbentuk indah yang saat ini sedang menatap lembut ke arah jendela, dan senyum tipis yang selalu terukir di bibirnya seolah menyimpan ribuan cerita yang belum sempat diceritakan. Namanya Anindya Kirana.

Sudah hampir tujuh tahun ia tinggal di negeri ini. Tujuh tahun yang lalu, ia datang ke Seoul hanya dengan membawa tas ransel sederhana, pakaian secukupnya, bekal makanan kesukaan ibunya yang sempat ia bawa, tabungan hasil kerja keras selama bertahun-tahun di tanah air, serta tekad yang sekuat baja. Ia yatim piatu sejak masih berusia enam belas tahun—orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan yang sampai sekarang masih terasa ada yang aneh, namun tidak pernah ditemukan bukti yang cukup untuk menyelidikinya lebih lanjut. Polisi menyimpulkan itu hanyalah kecelakaan tunggal yang disebabkan oleh jalan licin dan hujan deras. Namun Anindya tak pernah percaya begitu saja. Malam sebelum kejadian itu, ayahnya pulang dengan wajah pucat dan berbisik bahwa "mereka mulai bergerak lagi", dan ibunya menghabiskan waktu seharian untuk menyusun naskah kuno yang kemudian hilang tanpa jejak setelah kejadian itu.

Sejak saat itu, ia hidup mandiri, pindah dari satu kerabat ke kerabat lain, bekerja apa saja yang halal demi bisa melanjutkan hidup dan mewujudkan cita-cita yang selalu ia ceritakan bersama ayah dan ibunya sebelum mereka pergi: memiliki tempat di mana siapa saja—terutama pekerja migran, pelajar asing, dan orang-orang yang karena alasan apa pun jauh dari kampung halaman—bisa merasa seperti di rumah sendiri. Tempat di mana tidak ada yang dianggap asing, di mana setiap orang berhak mendapatkan kehangatan sekalipun dunia di luar sana terasa dingin dan kejam.

Bukan hal yang mudah bagi seorang wanita asing membangun usaha di negeri orang. Ribuan malam ia harus bekerja hingga larut malam, mencuci piring, membersihkan ruangan, belajar bahasa Korea dari nol hingga fasih, menghadapi penolakan, kesalahpahaman budaya, birokrasi yang berbelit-belit, hingga saat-saat ketika uang hampir habis dan ia sempat duduk sendirian di lantai kosong sambil menahan tangis, berpikir untuk menyerah dan pulang. Namun setiap kali rasa lelah dan putus asa itu datang, ia selalu teringat nasihat ibunya yang terngiang jelas di telinga: “Kekuatan terbesar kita bukanlah pada apa yang kita miliki, Dinda, bukan pada pedang atau mantra yang kita kuasai. Melainkan pada siapa kita sebenarnya, dan pada akar yang tak pernah putus meski badai menerjang sekuat tenaga. Ingatlah, rumah bukan sekadar bangunan tempat kita tidur. Rumah adalah hati yang kita buka untuk orang lain.”

Dan ia juga teringat kata-kata ayahnya, yang dulu sering mengajaknya duduk di beranda rumah sambil menatap bulan purnama: “Darah leluhurmu mengalir kuat di nadimu. Mereka adalah pelindung keseimbangan dunia. Jangan takut pada apa yang berbeda, jangan takut pada apa yang tidak semua orang pahami. Karena itulah yang akan membuatmu mampu berdiri tegak ketika yang lain runtuh.”

Kini, Kafe Senja Nusantara tidak hanya sekadar tempat minum dan makan. Di lantai dua dan bangunan yang berdekatan—yang kini menjadi Kost Rumah Senja Abadi—ia menyediakan tempat tinggal yang nyaman, bersih, dan terjangkau bagi siapa saja yang membutuhkan. Sebagian besar penghuninya adalah pekerja dari berbagai negara yang bekerja keras di pabrik, lokasi konstruksi, atau rumah tangga, pelajar asing yang sedang menempuh pendidikan, hingga orang-orang yang karena alasan tertentu tidak memiliki tempat untuk pulang. Anindya selalu memastikan mereka tidak kekurangan apa pun: ia menyediakan dapur umum lengkap dengan bumbu dari berbagai negara, ruang santai dengan televisi dan permainan tradisional, serta halaman kecil tempat mereka bisa berkebun tanaman kesukaan masing-masing. Setiap akhir pekan mereka sering berkumpul di ruang tengah kafe untuk berbagi makanan khas daerah masing-masing, bercerita tentang kampung halaman, bernyanyi bersama, atau sekadar saling mendukung ketika menghadapi kesulitan atau kerinduan yang mendalam. Bagi banyak orang di sini, Anindya bukan sekadar pemilik usaha atau pemilik kost, melainkan kakak, teman, bahkan keluarga yang mereka temukan di tanah rantau.

Namun di balik kehangatan dan kesederhanaan itu, ada sesuatu yang Anindya sendiri belum sepenuhnya pahami. Sesuatu yang telah ia sembunyikan sejak lama, bahkan sebelum ia meninggalkan tanah air. Hal-hal aneh yang selalu mengikutinya, yang dulu ia kira hanya imajinasinya yang terlalu liar atau sisa kesedihan yang belum sembuh.

Saat kecil, ia sering melihat bayangan bergerak di sudut ruangan yang menghilang saat ia menoleh. Ia bisa mendengar bisikan angin yang bercerita tentang hal-hal yang belum terjadi, atau merasakan emosi orang lain begitu kuat seolah itu adalah perasaannya sendiri. Jika ia menyentuh sebuah benda tua, ia sering melihat kilasan masa lalu benda itu: siapa yang memilikinya, di mana ia dibuat, perasaan apa yang tersimpan di dalamnya. Ia bisa berbicara dengan hewan—kucing liar, burung pipit, bahkan kambing di ladang belakang rumah—dan mereka seolah mengerti setiap kata yang ia ucapkan. Jika ia terluka, lukanya sembuh jauh lebih cepat daripada orang biasa. Dan setiap kali bulan purnama muncul, terutama menjelang fase bulan merah, seluruh tubuhnya terasa berdenyut hangat, seolah ada kekuatan besar yang berusaha keluar namun belum menemukan jalan.

Ia pernah berusaha menceritakan hal ini pada orang tuanya. Ayahnya hanya menatapnya lama dengan mata yang berbinar bangga namun juga sedih, lalu mengelus kepalanya pelan. “Kamu istimewa, Dinda. Tapi istimewa berarti juga harus kuat menanggung beban yang tidak dipikul orang lain. Untuk sementara, simpanlah hal ini baik-baik. Saat waktunya tiba, kamu akan mengerti semuanya.” Ibunya hanya memeluknya erat, berbisik bahwa ia tidak sendirian, dan bahwa kekuatan itu adalah anugerah, bukan kutukan.

Setelah orang tuanya tiada, Anindya berusaha menekan kemampuan itu. Ia berusaha menjadi orang biasa, hidup tenang, dan melupakan hal-hal yang tidak masuk akal. Namun semakin ia berusaha menyembunyikannya, semakin kuat pula hal itu mendesak untuk muncul kembali. Terutama belakangan ini, dalam beberapa bulan terakhir.

Saat ini, gerimis di luar semakin lebat. Cahaya lampu jalan memantul di permukaan aspal yang basah, menciptakan bayangan-bayangan samar yang bergerak pelan seolah memiliki nyawa sendiri. Jam dinding di sudut ruangan menunjukkan pukul dua puluh satu lewat seperempat. Pelanggan terakhir sudah pulang, dan hanya Anindya yang tersisa di dalam kafe, bersiap untuk menutupnya. Tiba-tiba, udara di dalam kafe terasa berubah drastis. Kehangatan yang menyelimuti ruangan perlahan digantikan oleh hawa dingin yang aneh—bukan dinginnya musim gugur yang biasa, melainkan dingin yang seolah berasal dari tempat yang jauh lebih tua, lebih dalam, dan lebih sunyi daripada waktu itu sendiri. Alunan musik di latar belakang seolah menjadi samar hingga lenyap sepenuhnya, dan suara detak jam dinding terasa semakin jelas dan berat, seolah menandakan sesuatu yang besar dan tak terelakkan sedang mendekat dengan langkah pasti.

Lihat selengkapnya