Sinar matahari pagi menyelinap melalui sela-sela gorden kamarku. Aku menguap pelan, lalu tanpa sengaja menatap pantulan diriku di cermin yang menempel pada lemari. Wajahku tampak buruk di mataku sendiri.
Aku bangkit dari tempat tidur dan melangkah mengambil handuk. Handuk itu kini berada dalam genggamanku.
Sepuluh menit kemudian, aku telah menyelesaikan kegiatan pagi di kamar mandi. Aku mengambil seragam sekolah yang masih kusut dan belum disetrika. Semalam aku lupa menyetrikanya karena terlalu sibuk bermain gim.
Aku melirik jam weker. Hanya tersisa dua puluh menit sebelum gerbang sekolah ditutup. Aku pun segera mengenakan seragam yang belum disetrika itu daripada harus terlambat.
Aku berlari di trotoar dengan napas terengah-engah. Rambutku bergerak naik turun mengikuti langkah kakiku. Suara napasku terdengar berat dan cukup keras di tengah orang-orang yang berlalu-lalang menjalankan aktivitas mereka masing-masing. Tatapan jijik dari orang lain seolah tidak pernah absen menghampiriku. Rasanya justru aneh jika sehari saja tidak ada yang memandangku seperti itu.
Tak lama kemudian, aku hampir sampai di depan gerbang sekolah. Ketika melihat satpam mulai hendak menutup gerbang, aku berlari sekuat tenaga. Untungnya, aku berhasil melewatinya tepat sebelum gerbang tertutup.
Aku memegang kedua lututku sambil berusaha mengatur napas. Senyum kecil terbit di wajahku karena keberhasilan sederhana itu.
Namun, beberapa siswi yang melihatku justru menunjukkan ekspresi tidak nyaman saat aku tersenyum. Tubuhku kembali tegak. Aku menundukkan kepala seolah tidak melihat mereka, lalu berjalan seperti tidak terjadi apa-apa.
Tiba-tiba, suara seorang gadis terdengar memanggil temannya dengan nyaring.
“Renaaaa!”
Gadis itu berlari melewatiku, tetapi tiba-tiba berhenti.
“Eh, Keyyandra!” panggilnya.
Aku sedikit terkejut mendengar namaku dipanggil.
“Iya?”
“Pelajaran pertama Bu Neng, kan? Tolong izin bilang aku terlambat, ya. Aku mau ke perpustakaan dulu.”
Ia menatapku penuh harap.
“Eh? Memangnya kamu mau ke mana?” tanyaku memastikan.
“Pokoknya titip izin, ya, Keyy. Dadah!”
Ia tampak sangat terburu-buru. Gadis itu berbalik dan kembali melangkah, tetapi sempat menoleh lagi sambil melambaikan tangan.
“Dadah!”
Aku kebingungan mengapa ia mengucapkannya dua kali. Meski begitu, aku tetap membalas lambaian tangannya sambil berkata pelan, “Dadah.”
Mungkin suaraku hanya terdengar seperti gumaman. Saat itu, rona merah samar muncul di pipiku karena senyum gadis itu terlihat begitu manis.
Aku berjalan menuju kelas dengan perasaan lebih ringan. Gadis itu bernama Jia, teman sekelasku yang juga menjabat sebagai sekretaris kelas. Jia adalah salah satu dari sedikit orang yang bersikap baik kepadaku. Tentu saja bukan karena ia menyukaiku, melainkan karena memang baik kepada semua orang. Aku mengagumi sifatnya yang tidak menghakimi keadaan fisikku. Rasanya melegakan mengetahui masih ada seseorang yang memperlakukanku seperti manusia biasa.
Lima menit kemudian, bel berbunyi menandakan pelajaran segera dimulai. Aku duduk di bangku paling belakang bagian tengah sambil menatap kursi kosong di depanku, tempat Jia biasa duduk.
“Oh... dia belum kembali,” gumamku pelan.
Guru sejarah kami, Bu Neng, memasuki kelas dan mulai mengabsen murid satu per satu. Ketika nama Jia dipanggil, aku menyampaikan bahwa ia izin terlambat karena pergi bersama Rena. Aku sendiri tidak tahu mereka sebenarnya pergi ke mana.
Pelajaran sejarah berlangsung tanpa kehadiran Jia. Setelah itu, ada waktu istirahat sepuluh menit sebelum pelajaran berikutnya dimulai.
Aku memasang headset kabel di telinga dan mencoba mengabaikan tatapan teman-teman di sekitarku. Perhatianku beralih pada gim di ponselku.
Tak. Tak. Tak.
Suara gunting terdengar sangat dekat di telingaku.
Aku sudah mengenali siapa mereka bahkan tanpa perlu menoleh: Tiara, Anisa, Zaki, Rehan, dan Arthur.
“Untuk apa sih si gendut ini sekolah? Pakaiannya saja berantakan,” ujar Arthur, ketua kelompok itu. Tawa teman-temannya langsung menyusul.
Aku hanya menatap pahaku sendiri, tidak berani menatap mereka. Benar-benar seperti pecundang. Memang itulah diriku.
“Nama Keyyandra sebenarnya bagus,” ucap Tiara sambil menyeringai. “Tapi coba lihat wajahnya. Mirip tumpukan limbah.”
Mereka tertawa lagi.
“Iya, seperti sampah berminyak,” sambung Anisa. “Kulitnya mengilap karena minyak, badannya bau, bajunya juga seperti baru diambil dari tempat sampah.”
Aku menggigit bibir bawahku menahan malu.
“Hei, kalau tidak mau kami ganggu hari ini, belikan makanan seperti biasa pakai uangmu,” perintah Zaki.
“A-aku akan melapor kepada Jia,” ucapku dengan suara gemetar.
Mereka justru tertawa semakin keras.