Blood Oath Beyond the Screen

keyyara
Chapter #2

2. Anak Belakang

Aku berlari sekuat tenaga menuju kantin sebelum bel pelajaran berikutnya berbunyi. Napasku terengah-engah. Aku sampai harus bernapas melalui mulut karena terlalu lelah. Di tengah koridor, aku melihat sosok yang terasa familiar. Gadis itu sedang menyendok es krim cup sambil menjepit sebuah buku di ketiaknya.


“Hei! Mau pergi ke mana?” tanyanya dengan mulut masih penuh.


Aku berhenti sejenak untuk menjawab.


“Ke... kantin,” jawabku dengan napas tersengal.


“Nanti saja ke kantinnya setelah pelajaran ini selesai. Sebentar lagi bel berbunyi. Ayo.”


Mendengar ajakannya, aku merasa lega. Arthur dan teman-temannya tidak akan berani menggangguku selama ada Jia. Aku pun mengikutinya sampai tiba di kelas.


Kelompok Arthur yang tadinya ramai tiba-tiba terdiam ketika melihat aku datang bersama Jia. Aku memberanikan diri untuk bertanya.


“Ehm... Jia, selama pelajaran pertama tadi kamu pergi ke perpustakaan, ya?” tanyaku gugup.


Ia menoleh ke arahku sambil menggumam pelan sebagai respons sebelum akhirnya menjawab.


“Iya.”


Ya Tuhan... wajahnya benar-benar imut. Aku sampai salah tingkah sendiri.


Tiba-tiba teman sebangkunya memanggil.


“Eh, Jia! Jadi tadi kamu bolos saat pelajaran pertama?”


Jia langsung menghampiri temannya dan mulai mengobrol sebelum guru datang. Sementara itu, aku berjalan menuju mejaku sambil menundukkan kepala, sengaja menghindari jalur tempat Arthur dan kelompoknya berkumpul.


Sampai bel pulang sekolah berbunyi, aku merasa cukup tenang karena tidak diganggu oleh kelompok Arthur. Mungkin karena Jia sepanjang hari hanya duduk di mejanya sambil membaca buku. Tanpa sadar, aku terus memperhatikannya dari belakang.


Satu per satu murid mulai meninggalkan kelas. Aku berjalan cepat agar tidak bertemu dengan kelompok Arthur. Semuanya berjalan lancar hingga akhirnya aku tiba di apartemenku. Aku menarik napas lega.


Biarkan aku memperkenalkan sekolahku terlebih dahulu.


Sekolahku adalah salah satu sekolah favorit di kota ini. Tidak heran jika banyak murid berasal dari keluarga berada dan memilih tinggal di kos atau apartemen, termasuk aku. Di sekolah ini terdapat sepuluh jurusan.


Namanya adalah SMKN Nusabakti.


Jurusan pertama adalah MPLB atau Perkantoran. Sebagian besar murid di sana sangat modis. Banyak selebritas media sosial berasal dari jurusan itu. Namun, sisi buruknya, mereka cenderung hanya berteman dengan orang-orang yang dianggap setara, terutama berdasarkan popularitas di media sosial. Di jurusan itu juga ada beberapa murid laki-laki yang berpenampilan feminin. Bahkan laki-laki yang awalnya biasa saja bisa ikut terbawa arus lingkungan.


Jurusan kedua adalah TKJ. Anak-anak TKJ terkenal cukup ramah dan mudah bergaul, meskipun konflik tetap ada. Mereka merupakan musuh bebuyutan jurusan RPL.


Jurusan ketiga adalah RPL, jurusanku sendiri. Anak-anak RPL sering dianggap sama dengan TKJ, sehingga persaingan di antara kedua jurusan itu tidak pernah berhenti. Mereka sama-sama merasa lebih unggul.


Jurusan keempat adalah Farmasi. Saat melewati kelas mereka, murid-muridnya selalu tersenyum ramah. Namun menurut rumor yang beredar, banyak gosip panas justru berasal dari sana.


Jurusan kelima adalah TKR. Banyak murid yang awalnya baik saat SMP berubah setelah masuk jurusan ini. Meski begitu, semuanya tetap bergantung pada diri masing-masing. Banyak anak TKR terlibat tawuran atau geng motor.


Jurusan keenam adalah DKV. Entah mengapa, banyak penggemar anime berada di sana. Mereka sering menjadi bahan ejekan jurusan lain. Membawa bantal bergambar karakter anime ke kelas bahkan dianggap hal biasa bagi mereka.


Jurusan ketujuh adalah Tata Rias. Jurusan ini mirip dengan MPLB karena banyak murid populer berasal dari sana. Mereka juga memiliki persaingan yang cukup sengit dengan MPLB, bahkan lebih terang-terangan.


Jurusan kedelapan adalah AKL. Banyak murid pintar, tampan, dan cantik berasal dari sana. Sebagian besar juga merupakan penerima beasiswa atau berasal dari keluarga sederhana. Meski sering diejek, anak-anak AKL biasanya tidak terlalu peduli dan menganggap ejekan itu sebagai hal biasa.


Jurusan kesembilan adalah Tata Boga. Hampir semua jurusan menyukai mereka karena sering membagikan makanan gratis setiap hari Jumat. Anak-anak Tata Boga terkenal jujur dan blak-blakan.


Dan jurusan terakhir adalah Seni Musik. Pada hari biasa, murid-muridnya cenderung tenang dan jarang berbicara. Rasanya mereka lebih sering “berkomunikasi” melalui alat musik. Namun saat class meeting tiba, kepribadian mereka berubah drastis menjadi sangat heboh, terutama ketika ada lomba menyanyi antarkelas.


Sementara aku sendiri berada di jurusan RPL.


Dulu aku memilih RPL karena berpikir akan belajar menjadi peretas hebat. Tentu saja kenyataannya tidak seperti itu. Mana ada sekolah yang mengajarkan cara membobol data orang lain? Meski begitu, ejekan dari anak-anak TKJ tetap tidak pernah berhenti.


Aku membuka pintu apartemenku.


Pemandangannya berantakan seperti biasa. Aku tinggal sendiri di apartemen yang diberikan Ayah dan Ibu dengan alasan agar aku belajar hidup mandiri. Namun bagiku, itu terasa seperti dibuang secara halus dengan label “belajar mandiri”.


Aku langsung masuk ke kamar, melempar tas entah ke mana, lalu merebahkan tubuh di atas kasur hingga ranjang itu berderit pelan. Aku berguling ke kanan dan kiri tanpa tujuan.


Tak lama kemudian, suara notifikasi ponsel berbunyi.


Aku segera meraih ponsel yang berada di sampingku dan membuka grup obrolan bernama “IPS Kelompok 2”. Grup itu berisi aku, Jia, Arthur, Tania, Rendi, dan Vanesya. Besok adalah jadwal presentasi kelompok kami.


“HEI, BESOK MASUK SEKOLAH, YA! Besok giliran kelompok kita presentasi!” tulis Tania.


“Aduh... guru IPS suka bertanya terlalu dalam,” keluh Rendi.


“Bukannya materinya sudah kubagi? Harusnya kalian sudah paham, kan?” balas Jia.


“Aku besok tidak masuk sekolah,” tulis Arthur sambil menandai semua anggota grup.


“Masuklah. Hargai yang sudah capek belajar,” balas Jia.


“Lah, si gendut saja jarang kelihatan belajar. Presentasi kita pernah diulang gara-gara dia gugup, kan? Sudah gendut, tidak berguna lagi. Cuma jadi parasit,” tulis Arthur.


Lihat selengkapnya