Blood Oath Beyond the Screen

h3ikeyy
Chapter #4

4. Luka Lama

POV Keyyandra


Gemercik air yang turun dari patung batu menjadi instrumen di kala sore itu. Burung-burung terbang untuk segera pergi ke sarangnya sebelum gelapnya malam menelan. Aku terduduk di kursi taman belakang rumahku, melihat kupu-kupu di senja itu. Senyum tulus terukir di wajahku yang saat itu berumur 10 tahun


Aku hidup dengan bergelimang harta tanpa kasih sayang. Aku waktu itu terbiasa tanpa sadar merendahkan teman sekelasku, Andai saja aku tahu kalau itu adalah hal yang buruk aku tidak akan pernah melakukannya. Saat teman-teman mulai menjauhiku aku sangat sedih. Hal yang aku anggap bercanda ternyata sesuatu yang tidak seharusnya anak 10 tahun lakukan. Memaksa rokok masuk ke dalam mulut temanku. Kata Ayah, kalau ingin terlihat keren dan banyak teman kau harus merokok.


Saat itu temanku menangis, tersedak rokok yang aku masukkan ke dalam mulutnya dengan paksa. Sebenarnya rokok itu di makan kan? Saat memakannya memang aneh bagiku


Ibuku sering bertengkar, dan juga sering di KDRT oleh Ayah. Tentu aku menangis, melihat orang dewasa yang memukul wanita sampai kejang. Aku tidak tahu motif Ayah waktu itu.


Saat berumur 12 tahun, aku dikirim ke rumah nenek. Nenek di kartun yang aku tonton setiap hari sangat baik. Memasakkan makanan manis untuk cucunya, mendongeng sebelum tidur, dan selalu memeluk cucunya sebelum tidur.


Pemandangan asri di kampung memanjakan mataku. Aku menatap pemandangan dari luar jendela kaca mobil dengan senyuman yang riang


Aku sangat bersemangat untuk pergi ke rumah Nenekku. Mobil berhenti di rumah full kayu vintage. Nenek tidak memberikan senyuman untukku. Dia berdecih


"Yaampun, Ibumu itu sangat payah sampai menitipkan kamu padaku" Ucapnya ketus lalu pergi.


Pelayan itu mengangkat semua barangku ke dalam rumah. Tiba-tiba Nenek berteriak pada pelayan untuk jangan menaruh barangku di dalam sana. Aku hanya diam saja, tidak berani bertanya. Nenekku pun menunjuk gubuk kecil dekat kandang Ayam. Pelayan itu hanya mengangguk menjalankan perintah


Aku menatap Nenekku dengan perasaan yang campur aduk. Dia mendekati ku dengan tergesa, memukul kakiku menggunakan tongkat hingga aku jatuh terduduk


"Cucu sialan! Pergi sana ke kandang! Tidak ada yang gratis di rumah ini! Jika kau ingin tinggal di sini urus Ayam itu untukku" Ucapnya sembari memukulku


Aku menangis sesenggukan


"PERGI SEKARANG DENGAN MERANGKAK!!" Perintahnya


Aku merangkak seperti bayi, menangis? tentu. Pantatku tidak berhenti di pukul sampai Aku tiba di kandang itu


"Dengar, lihat itu ada ranjang yang sudah usang. Kalau kau ingin pergi ke toilet, pergi saja ke sungai di bawah sana" Jelas nenekku


Mata kecilku menelisik setiap sudut di kandang itu, aku mengusap berkali-kali air asin yang terus menerus di pipiku. Pandanganku semakin kabur saat aku memerintahkan diri sendiri untuk segera berhenti menangis


Nenekku meninggalkan aku sendiri di sana. Beberapa bulan di sana aku mulai beradaptasi, meski tubuhku menjadi sakit-sakitan. Merah-merah di seluruh tubuhku muncul, saat pergi untuk membuang air besar di sungai sering ada cacing di kotoranku. Kadang Nenek memberikan makanan yang layak (makanan sisa) Aku sangat bersyukur. Daripada di suruh makan pakan ayam dan berebut dengan Ayam


Saat pagi buta, di mana saat itu sinar matahari belum sama sekali menunjukkan keberadaannya. Aku berniat untuk kabur saat ini


Aku membuka pintu gubuk dengan waspada. Menengok ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada yang memperhatikan ku.


Pagi buta itu aku memakai kaos biru tua yang sobek, bau Ayam serta kotoran menyengat dari tubuhku. Tidak memakai alas kaki, telapak kakiku tentu sudah kapalan dan hitam karena tanah dan debu selama beberapa bulan di sana. Rambut kepalaku sudah mengeras, sangat gatal serta sudah panjang


Orang yang melihat ku akan menyangka aku orang gila, warga sekitar tahu bahwa aku seperti ini. Tetapi mereka tidak ingin merepotkan diri untuk membantuku. Padahal kepedulian mereka adalah hal yang berharga bagiku untuk sekarang


Aku berjalan dengan bantuan tongkat kayu kecil, kakiku bernanah dan banyak koreng karena kehidupan ku yang sangat kotor di sini


Aku berjalan keluar dengan sangat tergesa-gesa, melihat ke arah Anjing peliharaan nenek yang menjaga kandang domba. Aku melihat Anjing itu tertidur. Aku membuka pagar pintu depan sedikit tergesa hingga membuat suara kecil yang membangunkan Anjing itu.


Anjing itu menggonggong melihat ke arahku dengan keras. Aku segera keluar sebelum Nenek bangun


Anjing itu mengejarku, Aku lari agak cepat dengan bantuan tongkat kayu. Aku berhasil agak menjauh dari rumah Nenek. Mataku melihat ke arah jalanan berharap untuk mobil segera datang


Jarak antara Aku dan Anjing itu semakin dekat


Brukkkk


Aku terjatuh karena tersandung tongkat sendiri. Anjing itu mengigit lenganku


"ARGHHHHHH" Aku berteriak dengan sangat keras. Anjing itu tidak hanya mengigit lenganku, kakiku yang lain juga di gigit. Aku pingsan karena kesakitan


===


Sinar matahari yang panas menyengat kulitku. Aku terbaring telanjang dada dan hanya menggunakan boxer


Tubuhku menggeliat kepanasan di aspal menuju jalan masuk rumah Nenek. Tentunya aku juga berteriak kepanasan histeris


Nenek memukul perutku saat aku kepanasan menggeliat di atas aspal ini


"Rasakan ini! Kau ingin membuat Nenek di marahi oleh ibumu ya?!... Jika kau kabur aku tidak mau bertanggung jawab jika kau mati selama pelarian ya"  Ucapnya sambil terus memukulku. Aku terus memohon untuk Nenek berhenti dan terus meminta maaf

Lihat selengkapnya